Mimbar Jumat
Mimbar Jumat: Mengingat Adam, Nuh dan Asal Usul Umat Manusia
PADA hari Jumat yang penuh berkah ini, mari kita renungkan dua peristiwa agung dalam sejarah panjang umat manusia.
Jumat, Hari Istimewa Penciptaan Adam
Oleh: Dr.Hj.Choirun Niswah, S.Ag., M.Ag, CRA.
PADA hari Jumat yang penuh berkah ini, mari kita renungkan dua peristiwa agung dalam sejarah panjang umat manusia. Pertama, penciptaan leluhur kita, Nabi Adam 'alaihissalam, pada hari ini. Kedua, titik awal baru peradaban manusia pasca banjir besar, yang bermula dari keturunan seorang nabi yang sabar, Nabi Nuh 'alaihissalam, melalui tiga putranya: Sam, Ham, dan Yafits. Dua peristiwa ini terhubung dalam satu rangkaian takdir Ilahi yang penuh hikmah.
Rasulullah SAW. telah menjelaskan keistimewaan hari ini dalam sabda beliau yang diriwayatkan oleh Imam Muslim: "Sebaik-baik hari yang padanya matahari terbit adalah hari Jumat. Pada hari itu Adam diciptakan. Pada hari itu juga beliau dimasukkan ke surga dan pada hari itu pula beliau dikeluarkan dari surga".
Dalam riwayat lain, bahkan disebutkan dengan lebih rinci bahwa Allah menciptakan Adam pada hari Jumat, setelah waktu Ashar. Penciptaan Adam bukan sekadar penciptaan seorang manusia. Ia adalah pengangkatan seorang Khalifah di muka bumi, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah: 30. Meski para malaikat sempat bertanya, Allah Yang Maha Mengetahui berfirman, "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". Adam dibekali ilmu dan kemuliaan, hingga Allah memerintahkan seluruh malaikat untuk bersujud menghormatinya.
Sejarah manusia berlanjut. Dari Adam, lahirlah keturunan yang menyebar. Namun, sepuluh abad setelah Adam wafat, kebanyakan manusia telah jatuh dalam kesesatan. Mereka menyembah berhala-berhala yang diberi nama Wadd, Suwa', Yaghuts, dan Nasr, yang awalnya adalah nama orang-orang saleh pada masa lalu. Di tengah kegelapan ini, Allah mengutus Nabi Nuh 'alaihissalam. Beliau adalah keturunan kesembilan dari Nabi Adam. Dengan kesabaran yang luar biasa, beliau berdakwah mengajak kaumnya kembali kepada tauhid selama 950 tahun. Namun, hanya segelintir saja yang beriman. Akibat penolakan dan kezaliman yang terus-menerus, Allah menurunkan azab banjir bandang yang menghancurkan kaum yang ingkar.
Nabi Nuh: Bapak Manusia Kedua dan Tiga Pilar Keturunan
Setelah air bah surut, yang selamat adalah Nabi Nuh dan orang-orang beriman yang naik bahtera. Dari merekalah, bumi yang tandus kembali dihuni. Allah Ta'ala berfirman: "Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan" (QS. As-Saffat: 77). Ayat mulia ini menjadi dasar bahwa seluruh umat manusia setelah banjir besar Nuh adalah keturunan dari beliau. Karena itulah, Nabi Nuh juga digelari "Bapak Manusia Kedua" (Abul Basyar Ats-Tsani), setelah Nabi Adam sebagai Bapak Manusia Pertama.
Para ulama dan ahli nasab sepakat bahwa semua keturunan manusia ini berasal dari tiga putra Nabi Nuh dari istrinya yang beriman yang bernama Umrah lahirlah tiga putranya yaitu Sam, Ham, dan Yafits. Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam juga memberikan petunjuk mengenai hal ini dalam sebuah hadits:
"Sam adalah moyang Arab, Ham adalah moyang Habsyah (Ethiopia), dan Yafits adalah moyang Rum" (HR. Ahmad). Yang dimaksud Rum (Romawi) disini adalah bangsa Rum yang pertama, yaitu orang-orang Yunani (Yawan) yang hierarki nasabnya sampai kepada Rumi bin Labthi bin Yunan (Yawan) bin Yafet bin Nuh. (Ibnu Katsir di dalam al-Bidayah wa al-Nihayah). Al-Qalaqsyandi di dalam Nihayat al-Arab fi Ma′rifat Ansab al-Arab menyebutkan telah ada kesepakatan di kalangan para ahli nasab (genealogis) dan para sejarawan bahwa seluruh ras manusia yang ada setelah Nuh adalah selain orang yang bersamanya di kapal. Atas makna ini ditafsirkan firman Allah; ″(yaitu) putra cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh. Sesungguhnya Dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.” (QS. Al-Isra′ (17): 3).
Para sejarawan dan ulama klasik seperti Ibnu Katsir dan Al-Qalqasyandi kemudian menjelaskan persebaran keturunan mereka yang menjadi cikal bakal bangsa-bangsa di dunia: Sam Bin Nuh menurunkan Bangsa Arab, Ibrani (Yahudi), Persia, Suryani dan Assyria. Ham bin Nuh menurunkan bangsa Habsyah (Ethiopia, Sudan, Koptik, Nubia Sebagian India, sedangkan Yafits bin Nuh menurunkan bangsa Rumawi (Rum), Turki, Slavia, Rusia serta bangsa-bangsa seperti Cina dan disebutkan juga Melayu.
Dari rentetan sejarah ini, kita dapat mengambil banyak pelajaran bahwa, Pertama, Kemuliaan di Sisi Allah Bertumpu pada Ketakwaan. Kisah Nabi Adam yang dimuliakan dengan sujudnya malaikat, dan kisah keturunan Nuh yang berasal dari satu ayah namun tersebar menjadi berbagai bangsa, mengajarkan bahwa kemuliaan manusia bukan pada warna kulit, bahasa, atau sukunya. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Hujurat: 13, yang tertinggi adalah yang paling bertakwa. Kisah celaan orang Quraisy terhadap Bilal bin Rabah yang berkulit hitam adalah contoh nyata kesesatan berpikir yang diluruskan oleh Islam.
Kedua, Kesabaran dan Keteguhan dalam Menegakkan Kebenaran. Dakwah Nabi Nuh selama ratusan tahun dengan hasil yang sedikit adalah pelajaran mahal tentang kesabaran sejati. Beliau tidak pernah putus asa dan terus berdoa untuk kaumnya. Ketiga, Kesatuan Asal Usul Umat Manusia.
Kita semua, dengan segala keragaman yang ada, berasal dari satu sumber yang sama: Adam, dan kemudian melalui titik restart kemanusiaan melalui Nuh dan ketiga putranya. Ini seharusnya menumbuhkan rasa persaudaraan dan menghilangkan sikap sombong atas dasar keturunan atau ras.
Marilah kita menjadikan hari Jumat ini sebagai momentum untuk mengingat asal usul kita, menyucikan hati dari kesombongan dan rasialisme, serta meneladani kesabaran para nabi dalam menjalani kehidupan. Semoga kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mampu mengambil pelajaran dari sejarah, dan dikumpulkan di akhirat nanti dalam naungan rahmat-Nya bersama para nabi dan orang-orang yang saleh
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/DrHjChoirun-Niswah-SAg-MAg-CRA-111.jpg)