Breaking News:

Wawancara Eksklusif

Addie MS Akui Dukung Jokowi Tapi Tolak Jabatan, Saya Ingin Jadi Musisi Bukan Komisaris

Saya merasa being conductor maintaining Twilite Orchestra 30 tahun hal yang saya syukuri.

Editor: Soegeng Haryadi
Tangkap layar Youtube ADDIE M.S.
Komposer Addie MS memimpin Mars TNI. 

SELAIN bicara musik, komposer Addie MS atau Addie Muljadi Sumaatmadja yang merupakan pendukung Presiden Jokowi, juga menyinggung kepemimpinan Presiden RI Joko Widodo. Disampaikan Addie saat berbincang dengan tema "Lebih Dekat dengan Addie MS, Twilite Orchestra" yang dipandu Staf Direksi Tribun Network Hasanah Samhudi dan Manajer Pemberitaan Tribun Netwrok Rachmat Hidayat menyatakan, Jokowi memiliki kesabaran yang patut diteladani. Meski kerap dicerca, namun tetap fokus bekerja. Berikut wawancaranya.

Kedepan Twilite Orchestra akan seperti apa?
Dari awal sudah merasa bahwa apa yang saya lakukan cukup out of the box. Sesuatu yang seperti melakukan pembabatan hutan. Orkes simfoni itu suatu aktivitas high cost. Tidak ada orkes yang bisa making money. Kalau tidak ada bantuan dari pemerintah pasti rugi, pasti defisit. Kalau untung hebat. Dengan menggarap orkestra yang jelas tidak making money, bodoh kalau tujuan saya untuk bisa kaya bikin orkestra.

Untungnya ada Indra Bakrie yang mendukung. Dan ada pengusaha-pengusaha lain yang juga mau bantu. Jadi dari awal saya sudah sadar istilahnya barang tidak jelas, tapi kok saya merasa cinta dengan barang ini. Dan bisa memberikan manfaat pada bangsa saya. Jadi menjalani ini menggelinding saja. Kalau dibilang sampai kapan apa yang akan diwariskan ke anak, tidak ada. Saya tidak lihat dua anak saya ingin jadi konduktor.

Kalau saya tidak ada ya mungkin selesai. Yang penting yang saya inginkan selama saya hidup, saya menggunakan Twilite Orchestra memberikan manfaat untuk masyarakat banyak.

Baca juga: 30 Tahun Addie MS Merawat Twilite Orchestra, Sempat Dicibir Cuma Dua Bulan: Syukur Tiada Henti

Orchestra identik dengan mahal dan kurang merakyat?
Gimana bisa merakyat instrumennya saja mahal. Kalau mau instrumen benar itu memang mahal. Tidak sama dengan kecrek-kecrek dengan gitar, ukulele kan bisa murah. Orkestra itu terompet, pianonya, pasti mahal. Belajarnya masuk conservatory prosesnya panjang, mahal, tapi di luar sana di negara-negara maju. Di semua negara maju itu, musik ini mendapat bantuan dari pemerintah, subsidi. Seperti musik daerah sebenarnya harusnya dipelihara pemerintah, supaya musik terpelihara.

Musik simfoni suka tidak suka menjadi modernitas suatu bangsa dianggapnya. Di kita tidak ada hal itu, tidak ada bantuan yang cukup dari zaman Soeharto sampai sekarang. Zaman Soekarno perhatiannya lumayan. Bung Karno sering mampir ke RRI, ada studio 5, latihannya saja Bung Karno menikmati sambil makan singkong pagi-pagi. Sudah selesai dia kerja ke Istana. Di kita belum ada perhatian seperti itu.

Kalau dikatakan mahal memang mahal, yang kita harapkan bisa bikin mahal itu teratasi yaitu dengan bantuan pemerintah itu belum ada. Bisa juga pemerintah tidak sepenuhnya bantu, tapi bikin sistem seperti di negara maju, ada insentif bagi perusahaan yang sponsori seni. Itu tidak ada.

Jadinya gantung sendiri, jadinya mahal, sering kali saya bikin out of the box, bikin flashmob di jalan. Setiap konser yang kita lakukan berbayar, tempo hari Star Wars, tiket 3 Minggu sebelumnya sudah habis.

Sorenya, sebelum malamnya konser, saya berikan kursi kosong itu untuk 1.000 anak sekolah dari 10 sekolah, saya mainkan dari sebagian malamnya. Tapi pakai interaksi siapa yang ingin jadi konduktor, bikin mereka bersahabat. Siapa yang mau main biola, terompet.

Apa saja akan saya lakukan demi mencairkan kekakuan wah itu eksklusif. Saya masih tidak terima sementara bangsa-bangsa lain memaksakan musik simfoni ini untuk konteks pendidikan. Kita membatasi diri dengan itu barat, itu haram. Jadi sedih. Mempersempit wawasan seperti katak dalam tempurung.

Halaman
123
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved