Hari Kartini 21 April, Implementasi Pemikiran Kartini di Era Digital

Peringatan Hari Kartini, bukanlah sebatas pada seremoni menggunakan kebaya  dan sanggul dalam sehari.

Editor: Salman Rasyidin
Hari Kartini 21 April, Implementasi Pemikiran Kartini di Era Digital
ist
Dra. Syafiah Zuhdi MSi

Nyatanya di Negara-negara ber­penduduk besar seperti Amerika Serikat dan Ne­gara-negara berpenduduk besar la­innya dalam kelompok BRICs (Brazil, Rusia, In­dia, China) memperoleh capaian tinggi dalam IPM (Indeks Pembangunan Manusia).

Beruntung Indonesia masih mewarisi sisa-sisa modal sosial yang kuat yang diper­sa­tukan dengan nilai-nilai Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika yang perkem­ba­ng­annya saat ini pun mulai merisaukan dengan tren peluluhan.

Usaha merawat per­satuan untuk memperkuat per­satuan nasional, anak-anak Indonesia harus berke­pri­badian dan berkarakter.

Ka­rakter bukan saja menentukan eksistensi dan kemajuan seseorang, melainkan juga eksistensi dan kemajuan sekelompok orang, seperti sebuah bangsa. (Yudi La­tif, hal. 309)

Pendidikan Era Digital

Sepanjang sejarah manusia, kehidupan telah berkali-kali mengalami disrupsi Dis­rupsi dalam ranah pendidikan sebagai konsekwensi dari perkembangan industry 4.0 pun menjadi perbincangan saat ini.

Bila pada zaman Kartini dahulu jarak an­tar-disrupsi itu beringsut lambat karena kelambanan penemuan teknologi baru, pada masa kini, rentang antar disrupsi itu be­gitu rapat dengan implikasi yang le­bih luas cakupannya dan dalam pene­tra­sinya.

Revolusi Industri 4.0 ini ber­kem­bang diatas dasar revolusi digital yang mengkombinasikan aneka macam tek­no­logi dengan ditandai oleh merebaknya kecendrungan otomatisasi.  

Pertukaran da­ta ter­kini, kecerdasan buatan (artificial intelegence) dan pemanfaatan big data dan perluasan konektivitas secara virtual.

Perkembangan teknologi dari Revolusi In­dustri 4.0 itu secara tak terhindarkan akan menginfiltrasi proses pendidikan.

Dalam mengantisipasi kecepatan perubahan teknologi, menurut Yudi Latif, stra­tegi yang tepat adalah mengembangkan pendidikan berbasis kapabilitas, yang me­nuntut penyiapan peserta didik sebagai manusia pembelajar seumur hidup.

Ma­nusia yang selalu update dengan perkembangan baru dengan kesediaan terus belajar memperbarui dirinya untuk bisa menjawab segala macam tantangan.

Pada ti­tik ini, kedatangan zaman baru tidak berarti mengubah hakikat prinsip pen­di­dikan.

Pendidikan seumur hidup (lifelong education) justru harus dibu­dayakan lebih su­ngguh-sungguh.

Ki Hadjar Dewantara, guru pendidikan kita, se­cara vi­sioner men­definisikan pendidikan sebagai proses belajar menjadi manusia se­utuh­nya dengan mem­pelajari dan mengembangkan kehidupan sepanjang hidup.

Manusia pem­be­lajar harus dibekali dengan kapabilitas dasar dengan dua macam kemam­puan, disatu sisi harus memiliki kelenturan untuk menyesuaikan dengan angin per­ubah­an.

Di sisi lain harus memiliki akar yang kuat agar tidak mudah roboh diterjang a­ngin.

Yang pertama memerlukan daya kreatif-inovatif.

Yang kedua memerlukan daya ka­rakter.

Pendidikan berorientasi kreatif-inovatif harus menghilangkan dis­kri­minasi manusia berdasar jenis intelegensia tertentu yang membuat orang dengan in­­telegensia lain dianggap sampah masyarakat.

Demokrasi pendidikan harus mem­­beri ruang aktualisasi bagi keragaman kecerdasan.

Al hasil, tidak terbatas pa­da kecerdasan yang sering diukur dengan IQ (Intelegence Quotient), melainkan juga dengan EQ (Emotional Quotiens), SQ (Spritual Quotient) dan CQ (Civic Qu­otient).

Mendidik anak tentang bagaimana menumbuhkan kreatifitas dan keingin tahuan seraya terus menyediakan fondasi yang sehat bagi pengembangan bu­di pekerti, pemikiran kritis, literasi dan matematika adalah cara terbaik meng­hadapi dunia dengan perubahan teknologi yang begitu pesat.

Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved