Sriwijaya Air Jatuh

Mengapa Pesawat Sriwijaya Air SJ-182 Jatuh

KECELAKAAN pesawat terbang seperti terjadi pada Sriwijaya Air SJ-182 Sabtu (9/1) lalu, tidak serta merta bisa diketahui penyebabnya

Editor: Salman Rasyidin
ist
Moch S Hendrowijono 

Keterangan resmi tadi menyebutkan, saat pusat kontrol udara bertanya ke pilot kenapa ber­be­lok ke barat laut, komunikasi sudah hilang dan radar melihat pesawat itu jatuh di dekat Pulau La­ki, kawasan Kepulauan Seribu, Jakarta Utara. Sama sekali tidak ada komunikasi saat jatuh, namun ini akan bisa didengar komunikasi terakhirnya jika CVR nanti ditemukan.

Masih belum diketahui apakah pesawat “berbelok sendiri” ke barat laut atau memang di­be­lokkan pilot, akan bisa terbaca dari Kotak Hitam yang sudah diketahui lokasi jatuhnya dan segera ditemukan para penyelam. Apakah itu juga merupakan tanda dari kemungkinan a­danya korosi di katup udara mesin pesawat, karena ketika satu mesin mati, pesawat akan cen­derung berbelok ke arah mesin yang mati, sebab pesawat didorong hanya oleh mesin yang hidup.

Pesawat Boeing 737-500 SJ 182 sudah berusia lebih dari 26 tahun, apakah masih laik ter­bang? Ini pertanyaan yang menggelitik, karena secara usia pesawat itu sudah dalam tingkatan uzur.

Di industri penerbangan, pesawat dikatakan laik terbang jika dirawat dengan baik, diganti se­luruh komponen yang seharusnya diganti. Ban pesawat jika sudah melewati sekian ribu pen­daratan (cycle) sesuai batas yang ditetapkan, tetap harus diganti walau masih tebal. Tidak ada to­leransi untuk semua peralatan dan pilot.

Di dunia masih banyak pesawat usia 80-90 tahun, yang dibuat sejak menjelang Perang Dunia kedua (PD 2), masih boleh terbang, walau umumnya bukan untuk kegiatan komersial. Sya­rat­nya, pesawat harus laik terbang, seperti beberapa pesawat Dakota DC3 yang legendaris, atau pesawat tempur dua kursi tandem Harvard, masih berseliweran.

Tergantung Perawatan

Untuk melatih pilot pemula, sekolah terbang banyak yang masih menggunakan pesawat Ces­s­na 172 buatan tahun 1978, atau sekarang usianya usianya sudah 43 tahun. Hanya saja setiap 2.000 jam terbang, pesawat berbaling-baling ini harus ganti mesin atau disegarkan kembali (rebuild) mesinnya.

Umumnya pesawat komersial memang dipensiunkan pada usia tidak jauh dari 30 tahun, se­perti Ratu Langit yang legendaris, Boeing 747 berbagai seri. Walaupun, pesawat Lockheed L1011 TriStar, sudah dipensiun ketika usianya sekitaran 20 tahun, kebanyakan karena me­sinnya yang tiga buah cukup boros.

Perawatan pesawat tidak hanya mesin, tetapi juga peralatan elektroniknya, peralatan navigasi, ju­ga kekuatan logamnya. Jika dari pemeriksaan dengan sinar X di satu pesawat sudah terjadi le­lelahan logam (metal fatigue), terutama bagian yang paling utama seperti sayap, ekor dan badan, pesawat harus grounded.

Menurut mantan Menteri Perhubungan, Budhi Muliawan Suyitno, semakin tua pesawat me­mang semakin banyak kerusakan yang harus diperbaiki, atau gagalfungsi (mal function yang ti­dak mudah terlihat. Sehingga, katanya metode perawatan pun harus makin ketat.

Ilustrasi Sriwijaya Air SJ-182 Jatuh
Ilustrasi Sriwijaya Air SJ-182 Jatuh (kolase tribun timur)

Ketua KNKT Suryanto Cahyono menyebutkan, usia pesawat sejatinya tidak berpengaruh pa­da kelaikannya untuk terbang selama pesawat dirawat sesuai aturan. Umur pesawat tidak jadi masalah, katanya.

Pesawat yang jatuh hari Sabtu, menurut Dirut Sriwijaya Air, Jeff Jauwena seperti yang dila­por­kan kepadanya, dalam kondisi baik saat terbang. Sebelumnya pesawat itu sudah bolak-ba­lik Cengkareng–Pontianak, lalu ke Pangkal Pinang, dan pilotnya tegas, terlambat terbang 30 me­nit karena cuaca yang kurang baik.

Cuaca, menjadi penentu kuat terjadinya kecelakaan pesawat. Hujan, udara dingin, akan mem­buat tembok es yang kalau tidak diwaspadai bisa tertabrak oleh pesawat, setidaknya membuat sa­yap pesawat diselimuti es.

Ketika jatuh dari ketinggian 11.000 kaki atau sekitar 3,3 km, suhu di udara masih sekitar 4 de­rajat sampai enam derajat C, sehingga kemungkinan pesawat tidak akan menghadapi tem­bok es. Kemungkinan pesawat tidak bisa dikendalikan karena pesawat terselimuti es juga bisa di­singkirkan, apalagi di daerah tropis ini tidak seperti kawasan sub-tropis ke atas yang mem­bekukan.

Tidak ada seorang pun yang bisa menyebutkan kenapa pesawat SJ 182 Sriwijaya Air jatuh, te­tapi uraian di atas bisa memberi bayangan, walau menurut pengamat publik Agus Pam­ba­gio, Sriwijaya Air taat aturan perawatan pesawat. Sementara kapten pilotnya, Capt Afwan pu­nya rekor belasan ribu jam terbang. Dia  handal dan sholeh.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved