Kampus Merdeka

Memaknai Kampus Merdeka, Indonesia Jaya

Dirjen Dikti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Nizam, Pada 14 September 2020 lalu meluncurkan logo Kampus Merdeka, Indonesia Jaya se­­cara

Editor: Salman Rasyidin
ist
Dr. Yazwardi Jaya 

Ke depan, akreditasi yang sudah ditetapkan Badan Akreditasi Na­si­onal Perguruan Tinggi (BAN-PT) tetap berlaku selama lima tahun, tetapi akan diperbarui secara otomatis.

Kebijakan ketiga terkait dengan kebebasan bagi PTN badan layanan umum (BLU) dan satuan kerja (satker) untuk menjadi PTN Badan Bukum (PTN BH).

Kemendikbud akan mem­per­mudah persyaratan PTN BLU dan satker untuk menjadi PTN BH tanpa terikat status akre­di­tasi.

Semen­tara itu, kebijakan Kampus Merdeka yang keempat ialah memberikan hak kepada ma­hasiswa un­tuk mengambil mata kuliah di luar prodi dan melakukan perubahan definisi Sa­tuan Kredit Se­mes­ter (SKS).

“Karena merupakan transisi ke dunia kerja, proses pendidikan di PT harus me­nyi­apkan sebaik mungkin mahasiswa pada dunia nyata dengan memberikan ke­sempatan kepada ma­hasiswa untuk menggali dan mengasah kompetensinya di dunia nyata.

Mendapatkan hard skills dan soft skills tidak hanya dari ruang kuliah, perpustakaan, dan la­boratorium, tapi juga dari dunia kerja sebagai kampus kehidupan,”

Ada secercah harapan yang luar biasa pada dunia pendidikan ketika sebagian besar orang tua dan pengamat pendidikan semakin harap-harap cemas terhadap kondisi pendidikan dan su­a­sa­na pem­be­lajaran daring terutama di era new normal ini. 

Konsep Merdeka Belajar yang di­ga­gas Menteri Nadiem Makarim terdorong karena keinginannya menciptakan suasana belajar yang bahagia tan­pa dibebani dengan pencapaian skor atau nilai tertentu tetapi melahirkan anak bangsa yang man­diri, kreatif, visioner, dan kompetitif.

Merdeka dalam artian kebebasan memilih kompetensi untuk menghadapi dunia kerja yang nya­ta di era masyarakat 5.0 (5.0 Society). Dunia pendidikan diharapkan tidak lagi “me­masung” dengan menghadirkan kurikulum-kurikulum dan sistem pembelajaran yang rigid, ka­ku, dan tidak demo­kratis.

Metode pembelajaran juga akan berubah dari sistem kelas (Class system) yang dominan da­lam ruangan menjadi di luar kelas (outing class).

Nuansa pembelajaran akan lebih nyaman, ka­rena murid dapat berdiskusi lebih leluasa dengan guru, tidak hanya mendengarkan penje­las­an guru, tetapi lebih membentuk karakter peserta didik yang berani, mandiri, cerdik dalam ber­­gaul, ber­adab, sopan, dan yang lebih penting adalah berkompetensi.

Tidak lagi meng­an­dal­kan sistem ran­king yang menurut beberapa survei hanya meresahkan anak dan orang tua saja.

Ka­rena sesung­guhnya setiap anak memiliki bakat dan kecerdasannya dalam bidang masing-ma­sing.

Sistem ini di­harapkan melahirkan outcomes pendidikan para pelajar dan alumni yang siap kerja,kompeten, dan tetap berkhlak mulia dan berbudi luhur.

Fun Learning pada Pendidikan Dasar dan Menengah

Halaman
1234
Sumber: Sriwijaya Post
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    Berita Populer

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved