Pesan Maulid Kepada Pemuda
Mendidik Karakter Melalui Kecintaan
Ada yang menarik dari tradisi peringatan maulid Nabi Muhammad SAW di kalangan muslim Indonesia yang mungkin tidak akan ditemukan di negara muslim
Pernyataan tentang satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa mengandung makna simbolik untuk mengusung nilai-nilai universal dan kerelaan untuk melepaskan ego sektoral dalam konteks perbedaan suku bangsa dan budaya.
Peringatan maulid Nabi Muhammad SAW dan peringatan Sumpah Pemuda yang hampir bersamaan pada tahun ini tentu memiliki kebermaknaan yang penting untuk ditafakuri.
Perjuangan Rasulullah untuk membebaskan masyarakat Arab dari tradisi paganisme dengan kultus terhadap peran-peran primordial kesukuan (ashabiyyah) masing-masing yang disimbolkan dengan penyembahan berhala, hampir persis memiliki kesamaan makna dengan posisi perjuangan pemuda Indonesia untuk meletakkan dasar-dasar simbol universal kebangsaan dalam frame penerimaan konsep kesatuan tanah air, bangsa, dan bahasa di atas supremasi tanah adat, bahasa lokal, dan suku bangsa.
Karakter keberanian yang dimiliki Nabi Muhammad SAW dalam memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan universal dan membawa cara pandang baru dalam melihat relasi dan hirarki sosial antar manusia yang lebih humanis dan bermartabat, sungguh sangat urgen untuk diinternalisasi kepada para generasi muda muslim melalui peringatan maulid.
Problem dan tantangan bangsa Indonesia saat ini pada dasarnya merupakan problem dan tantangan umat Islam Indonesia juga.
Komitmen kebangsaan yang telah diletakkan generasi muda Indonesia masa silam harus terus diperkuat melalui proses pendidikan dalam berbagai bentuk dan pola penyelenggaraannya dengan seluas mungkin melibatkan seluruh potensi yang ada di masyarakat, termasuk komunitas keagamaan.
Spirit maulid Nabi harus sejalan dengan semangat kelahiran konsep kesatuan bangsa Indonesia yang pernah digagas dan sepakati seluruh komponen kepemudaan bangsa dari berbagai latar belakang suku dan etnis besar di negeri ini.
Api semangat peringatan maulid harus lebih dipandang sebagai energi positif yang berkobar-kobar untuk membebaskan bangsa Indonesia sekaligus umat Islam dari berbagai bentuk sikap fanatisme dan mementingkan kepentingan sempit golongan dan kelompok.
Cara berpikir luas berbasis keumatan dan kebangsaan yang lebih besar selalu diajarkan Nabi dengan menyatakan posisinya sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil’alamin). Sehingga, mengatasi ruang dan cara berpikir sempit berbasis kelompok dan golongan.
Pembacaan umat Islam terhadap sejarah kenabian tidak bisa hanya dilakukan pada tataran tekstual sebagai rutinitas, tetapi harus diorientasikan pada pemaknaan dari konteks sosial.
Hal itu memunculkan semangat perubahan yang melahirkan aksi-aksi kreatif sebagai upaya menemukan solusi terhadap problem kebangsaan. Wallahu a’lam bi al-Shawwab.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/abdurrahman-uin.jpg)