Pesan Maulid Kepada Pemuda

Mendidik Karakter Melalui Kecintaan

Ada yang menarik dari tradisi peringatan maulid Nabi Muhammad SAW di kalangan mus­lim Indonesia yang mungkin tidak akan ditemukan di ne­ga­­ra muslim

Tayang:
Editor: Salman Rasyidin
ist
DR abdurrahmansyah MAg. UIN 

Pernyataan ten­tang satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa mengandung makna simbolik untuk mengusung nilai-nilai uni­­versal dan kerelaan untuk melepaskan ego sektoral dalam konteks perbedaan suku bangsa dan budaya.

Peringatan maulid Nabi Muhammad SAW dan peringatan Sumpah Pemuda yang ham­pir ber­samaan pada tahun ini tentu memiliki kebermaknaan yang penting untuk di­tafakuri.

Perjuangan Rasulullah untuk membebaskan masyarakat Arab dari tradisi pa­­ganisme dengan kultus terhadap peran-peran primordial kesukuan (ashabiyyah) ma­sing-masing yang disimbolkan dengan penyembahan berhala, hampir persis me­miliki ke­samaan makna dengan posisi perjuangan pemuda Indonesia untuk me­letakkan da­sar-dasar simbol universal kebangsaan dalam frame penerimaan konsep ke­satuan tanah air, bangsa, dan bahasa di atas supremasi tanah adat, bahasa lokal, dan suku bangsa.

Karakter keberanian yang dimiliki Nabi Muhammad SAW dalam memperjuangkan nilai-ni­lai kemanusiaan universal dan membawa cara pandang baru dalam melihat re­lasi dan hi­rarki sosial antar manusia yang lebih humanis dan bermartabat, sungguh sangat ur­gen untuk diinternalisasi kepada para generasi muda muslim melalui peringatan mau­lid.

 Problem dan tantangan bangsa Indonesia saat ini pada dasarnya merupakan pro­blem dan tantangan umat Islam Indonesia juga.

Komitmen kebangsaan yang telah di­le­takkan generasi muda Indonesia masa silam harus terus diperkuat melalui proses pen­­didikan dalam berbagai bentuk dan pola penyelenggaraannya dengan seluas mu­ngkin melibatkan seluruh potensi yang ada di masyarakat, termasuk komunitas ke­agamaan.

Spirit maulid Nabi harus sejalan dengan semangat kelahiran konsep kesatuan bangsa Indonesia yang pernah digagas dan sepakati seluruh komponen kepemudaan bangsa dari berbagai latar belakang suku dan etnis besar di negeri ini.

Api semangat pe­ringatan maulid harus lebih dipandang sebagai energi positif yang berkobar-kobar un­tuk membebaskan bangsa Indonesia sekaligus umat Islam dari berbagai bentuk sikap fa­natisme dan mementingkan kepentingan sempit golongan dan kelompok.

Cara ber­pi­kir luas berbasis keumatan dan kebangsaan yang lebih besar selalu diajarkan Nabi de­ngan menyatakan posisinya sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil’alamin). Sehingga, mengatasi ruang dan cara berpikir sempit berbasis kelompok dan golongan.

Pembacaan umat Islam terhadap sejarah kenabian tidak bi­sa hanya dilakukan pada tataran tekstual sebagai rutinitas, tetapi harus diorientasikan pa­da pemaknaan dari konteks sosial.

Hal itu memunculkan semangat perubahan yang melahirkan aksi-aksi kre­atif sebagai upaya menemukan solusi terhadap pro­blem kebangsaan. Wallahu a’lam bi al-Shawwab.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved