Pesan Maulid Kepada Pemuda

Mendidik Karakter Melalui Kecintaan

Ada yang menarik dari tradisi peringatan maulid Nabi Muhammad SAW di kalangan mus­lim Indonesia yang mungkin tidak akan ditemukan di ne­ga­­ra muslim

Tayang:
Editor: Salman Rasyidin
ist
DR abdurrahmansyah MAg. UIN 

(Pesan Maulid Kepada Pemuda di Hari Sumpah Pemuda)

DR abdurrahmansyah MAg. UIN

Dosen FITK UIN Raden Fatah Palembang

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh hormat kepadanya. (QS. Al-Ahzab: 53)”.

Ada yang menarik dari tradisi peringatan maulid Nabi Muhammad SAW di kalangan mus­lim Indonesia yang mungkin tidak akan ditemukan pada tradisi keagamaan di ne­ga­­ra-negara muslim lainnya.

Masyarakat sangat antusias menyambut dan mera­yakan ha­­ri kelahiran Sang Nabi mulia dengan berbagai artikulasi budaya masyarakat masing-ma­sing.

Terlepas dari kontroversi perayaan maulid ini karena disinyalir tidak memiliki akar pada tradisi nabi (prophet tradition) atau sunnah.

Namun, setidaknya artikulasi bu­­daya ini tidak juga ada larangannya secara tekstual.

Perspektif yang lebih arif me­li­hat tradisi ini justru tidak dari posisi hukum dan status formalnya, te­tapi dari sudut pan­dang kreativitas beragama dalam membentuk artikulasi kultural ya­ng mengandung hik­mah, kemanfaatan, dan dampak psikologis dari peringatan mau­lid ini.

Motivasi utama penyelenggaraan dari peringatan atau perayaan maulid nabi Muham­mad SAW adalah kecintaan kepada nabi.

Sesuatu yang dicintai selalu cenderung di­ing­­at dan diperbincangkan.

Karena itu, fenomena dan gejala budaya yang muncul dari pe­ringatan maulid ini adalah kegiatan literasi untuk membuka khazanah historis dari perjalanan hidup.

 Dan, perjuangan nabi disertai dengan mempertegas pujian atas ke­be­radaan nabi dalam bentuk sya’ir dan shalawat.

Dari sisi pendidikan karakter, kegiatan peringatan ini berpotensi dan memungkinkan ter­bentuknya sikap mencintai figure atau sosok manusia mulia.

Dengan harapan berdampak pa­da peneladanan (modelling) sifat-sifat baik yang bermanfaat untuk membangun si­kap peduli (respect) dan bertanggungjawab (responsibility) yang menurut Thomas Lic­kona (1992) kedua karakter itu sangat penting bagi manusia modern dalam mem­ba­ngun harmony dan kebersamaan.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved