Pesan Maulid Kepada Pemuda

Mendidik Karakter Melalui Kecintaan

Ada yang menarik dari tradisi peringatan maulid Nabi Muhammad SAW di kalangan mus­lim Indonesia yang mungkin tidak akan ditemukan di ne­ga­­ra muslim

Tayang:
Editor: Salman Rasyidin
ist
DR abdurrahmansyah MAg. UIN 

Kedua karakter penting itu, justru dapat dengan efek­tif terbentuk melalui dorongan psikologis yang paling dalam yaitu kecintaan.

Cinta Nabi dan Pembentukan Karakter

Menurut para ahli, cinta Tuhan dan kebenaran (love Allah, trust, reverence loyalty) adalah salah satu karakter yang penting ditumbuhkan pada diri seseorang melalui pen­didikan. 

Pendidikan karakter bertujuan untuk membentuk kepribadian seseorang se­hingga menjadi pribadi baik dan berakhlak karimah.

Pola pendidikan karakter salah satunya dapat dilakukan melalui desain pendidikan karakter berbasis komu­ni­tas.

Ma­sya­rakat di luar lembaga pendidikan, seperti keluarga, masyarakat umum, ter­masuk ma­jelis taklim dan komunitas keagamaan lainnya juga memiliki tanggung jawab moral.

Tanggungjawab un­tuk mengintegrasikan pembentukan karakter dalam kon­teks ke­hidupan mereka.

Ketika lembaga formal dan pranata sosial lainnya lemah da­lam membentuk moralitas masyarakat, maka masyarakat dengan tradisi pendi­dikan non for­malnya dapat menjadi harapan untuk mengajarkan nilai-nilai kebaikan dan kete­la­dan­an kepada umat secara luas.

Salah satu bentuk aktualisasi peringatan maulid Nabi Muhammad adalah pembacaan sejarah hidup beliau mulai dari masa kelahiran, remaja, dewasa, masa kenabian, dan akhir hayatnya.

Secara konten melalui peringatan maulid Nabi masyarakat secara ma­ssif mendapatkan pengajaran sejarah (historical teaching) yang runtut sekaligus men­dapatkan nuansa penghayatan konteks kehidupan nabi yang otentik.

Pendidikan se­ja­rah atau mengajarkan materi tentang sejarah secara akademik memiliki arti yang stra­tegis dalam pembentukan watak.

Oleh karena itu, muatan konten sejarah nabi yang dibacakan pada peringatan maulid menemukan signifikansinya sebagai bentuk pen­di­dik­an budi pekerti yang sangat penting dan memiliki nilai fungsional untuk mem­ben­tuk karakter umat dan bangsa.

Dari sisi urutan menyajian konten (sequence) materi sejarah hidup Nabi Muhammad, khususnya pada masa remaja dapat dijadikan model kehidupan bagi para pemuda In­donesia untuk mempersiapkan diri menuju masa dewasa yang lebih bermakna.

Da­lam perjalanan sejarah bangsa Indonesia banyak sekali melibatkan pemuda se­bagai setting per­juangan yang melahirkan momentum kebangkitan bangsa sekaligus me­m­bentuk sim­bol persatuan.

Peristiwa Soempah Pemoeda pada tanggal 28 Oktober 1928 silam menunjukkan betapa besar peran dan posisi pemuda sebagai ujung tombak perjuangan untuk mempersatukan bangsa dalam perbedaan.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved