Penanganan Virus Corona
Prof Yuwono Ahli Mikrobiologi Sumsel: Andai 2020 Ada, Vaksin Covid-19 Jangan Jadi Senjata Makan Tuan
Menurutnya, vaksin itu hari ini disuntikkan maka dua Minggu dievaluasi. Lalu pengamatannya sampai berbulan-bulan, paling tidak butuh waktu dua bulan.
SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Kasus Covid-19 atau Virus Corona masih melanda dunia, termasuk Indonesia.
Sejumlah kepala negara hingga ilmuwan beranggapan, keberadaan vaksin sangat diperlukan supaya virus yang pertama kali ada di Wuhan, China di akhir 2019 itu tidak lagi menginfeksi tubuh manusia.
Akan tetapi, Prof Yuwono selaku salah satu ahli mikrobiologi di Sumsel menganggap bukan vaksin yang sebenarnya dibutuhkan dunia saat ini untuk mencegah terinfeksi Virus Corona.
• Menengok Megahnya Rumput di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring Jelang Piala Dunia U-20
Lewat wawancara Sripoku.com Kamis (9/10/2020), Yuwono yang pernah ditunjuk menjadi ketua jubir Gugus Tugas Percepatan dan Penanganan Covid-19 Sumsel mengatakan, ada 220 kandidat vaksin dari berbagai negara, termasuk Indonesia.
Dari 220 itu, harus melalui tiga tahapan uji. Jadi sebelum digunakan vaksinnya diuji terlebih dahulu, mulai dari bukan ke manusia sampai ke manusia.
"Tiga fase uji klinis itu, yang pertama uji kemanan, aman tidak untuk manusia. Lalu kedua uji kemanjuran, manjur tidak. Uji klinis ketiga yang agak berat yaitu apakah vaksin tersebut bisa membentuk antibodi pada manusia.
Sampai hari ini, hanya 8-9 yang masuk di uji fase tiga," kata Direktur RS Pusri Palembang ini.
Ia pun mengatakan, uji vaksin ini dampaknya besar, salah satunya Antibody Dependent Enhancement (ADE).
• Rumah Dibangun Kembali & Sertifikat Diperbarui, Bupati Cik Ujang: Korban Kebakaran Jangan Egois
Artinya, kalau kandidat vaksin yang disuntikkan harapannya terbentuk antibodi dalam jumlah dan kualitas yang cukup. Nah kalau jumlah dan kualitasnya tidak cukup maka namanya ADE. Kalau sampai ADE bisa senjata makan tuan.
Contohnya di Oxford, dari ribuan relawan dilaporkan satu menjadi sakit setelah divaksin. Maka Oxford mengambil tindakan menghentikan pemberian vaksin.
Sedangkan di Indonesia pada saat uji coba di Bandung, ada satu yang positif. Padahal sebelum diberikan vaksin dia negatif tapi setelah disuntikkan vaksin dia positif.
"Namun orang Indonesia masih banyak komprominya, sehingga ada yang bilang mungkin sudah positif sebelumnya.
Harusnya jangan begitu. Sebab bagaimanapun juga dia terlibat dalam uji klinis vaksin tiga, maka harusnya ini layak dievaluasi," kata Yuwono.
• Viral di TikTok, Chat Restu Ibunda Izinkan Anaknya Demo ke Jakarta, Titip Salam dari Mama untuk DPR
"Saya denger Agustus mau diluncurkan uji coba fase tiga ini, tim yang buat dipanggil presiden dan bisa nggak dipercepat. Tim uji vaksin menyatakan tidak bisa, butuh waktu beberapa bulan.

Namun baru-baru ini ada pernyataan dari tim uji vaksin, kalau relawannya dua kalilipat maka bisa dipercepat. Sebenarnya itu bukan alasannya," bebernya.
Menurutnya, vaksin itu hari ini disuntikkan maka dua Minggu dievaluasi. Lalu pengamatannya sampai berbulan-bulan, paling tidak butuh waktu dua bulan.
Kalaupun ini berhasil,a baru bisa dapat vaksin dipertahankan 2021.
"Kalau ada yang bilang akan ada vaksin di Desember 2020. Itu pernyataan buat pusing. WHO saja menyatakan belum ada vaksin sampai 2021.
Tiba-tiba 2020 dinyatakan akan keluar, tunggu aja. Wah ini buat jadi curiga," ungkapnya.
• Puskesmas Rupit Muratara Disegel dengan Rantai dan Gembok, Oleh Polisi Kini Diganti Garis Polisi
Menurut pengamatan Prof Yuwono, bahwa evaluasi harus terus dilakukan. Apalagi kesembuhan di Indonesia ini sudah 75 persen.
Artinya orang yang sudah ada antibodi bisa menyumbang ke yang lain. Jadi sebenarnya tidak perlu terburu-buru untuk mengeluarkan vaksin.
"Sekarang ini tidak dalam tataran urgent untuk menemukan vaksin secara buru-buru. Karena tingkat yang sembuh sudah 75 persen dan tingkat kematian secara nasional 3,7 persen," katanya.
Prof Yuwono pun membeberkan, bahwa 5 Oktober juklak sudah keluar petunjuk pelaksanaan vaksinasi masal untuk Covid-19.
Jadi kayaknya memang terkesan dipaksakan, sementara yang mau divaksin belum. Ibarat buah masih mengkel belum matang.
• Dulu Koar-koar soal Kekhawatiran Omnibus Law, Sandiaga Uno Disebut Melempem Kini Belum Nongol
"Ujian pandemi ini luar biasa. Namanya manusia pengen segera keluar dari kesusahan. Dorong itu ada dan besar, namun sayangnya dorongan ini belum diimbangi dengan komunikasi yang intensif dan clear dengan stakeholder atau bidangnya masing-masing," katanya.

Menurutnya, mestinya yang diundang dokter-dokter, pakar-pakar dan lain-lain. Sedangkan ini yang diajak diskusi tim dan Pemerintah.
Sedangkan pemerintah ini kan banyak yang harus dikerjakan. Kalau yang diundang pakar-pakarnya maka akan lebih baik.
"Saya tidak bilang ini jelek, namun ini hanya bentuk keprihatinan mendalam saya. Namun harusnya sabar sebentar.
Kalau tersedia Desember artinya bukan dari kita, karena dari kita belum selesai. Lalu apa kelemahannya bagi kita, ya belum tentu cocok bagi kita," cetusnya.
• Video 6 Remaja Pelaku Pengrusakan Mobil Polisi Saat Demo Omnibus Law Ditangkap Polrestabes Palembang
Prof Yowono pun menyampaikan bahwa ada guyonan yang menyatakan, silakan diberikan dulu pada pemimpin dan politisi.
Kalau mereka selamat artinya aman, tapi kalau mereka tidak selamat maka rakyatnya selamat.
"Saya setuju dengan guyonan itu. Itu guyon tapi sangat menyinggung sekali," katanya.
Prof Yuwono pun menerangkan, kalau ujicoba yang di Bandung sudah selesai harus dipublikasikan dulu. Setelah publikasi, bahwa aman dan manjur baru di produksi masal.