Understanding Islam : Menuju Sikap Bijak Beragama

Pemahaman kita kepada Islam biasanya selalu dimulai dengan pertanyaan, “A­pa­ hu­kum­nya”? atau “Apa dalilnya”?

Tayang:
Editor: Salman Rasyidin
ist
DR. Muhammad Noupal M.Ag 

Pemenuhan ini sendiri bersifat mengikat, dan tentu sa­­ja merupakan kon­se­ku­ensi keberadaan manusia di dunia.

Bahwa “Tidaklah a­ku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah” adalah prinsip bahwa ma­nusia adalah hamba bagi Tuhan; dan ka­rena itu pula pemenuhan kewajiban kepada-Nya adalah suatu keharusan.

Kita, dibebankan oleh Tuhan untuk menjalankan rangkaian ibadah.

Dan untuk itu Tuhan menjanjikan surga bagi mereka yang mau menyembah-Nya dan ne­raka yang tidak mau me­nyembah-Nya.

Islam sendiri menekankan kewajiban per­sonal dan sosial.

Luasnya ca­kupan ibadah ini, menggambarkan kedudukan Is­lam sebagai agama yang universal.

Tetapi ibadah, dalam pandangan Islam, ju­ga harus dilakukan dengan cara dan sikap yang baik.

Ibadah ternyata harus di­bekali dengan ilmu pengetahuan (fikih) dan etika pelaksanaan (akhlak).

Pemahaman dari sudut ini, mengharuskan kita mengenal apa dan bagaimana iba­dah yang harus kita lakukan.

Ketidaktahuan akan kewajiban ibadah, meng­in­dikasikan kelalaian dan kecerobohan umat Islam.

Jadi, pengetahuan dan pem­­belajaran ter­ha­dap kewajiban juga menjadi suatu yang harus kita lakukan, ter­­utama untuk mem­buat ibadah kita diterima-Nya.

Pengetahuan dan pembelajaran akan kewajiban kepada Tuhan, seyogyanya dapat meng­hin­darkan kita dan masyarakat kita dari ajang perdebatan dan per­selisihan yang tidak ber­manfaat dan melulu meributkan “dalil” bukan “fungsi”.

Kon­disi ini mungkin disebabkan karena kebodohan (jahil) akan arti ibadah itu sendiri yang ternyata juga membawa kepada kurangnya penghayatan.

Padahal Tu­han hanya menerima amal ibadah yang diiringi dengan keyakinan (iman) dan sikap pasrah (ikhlas) kepada-Nya.

Langkah Mengenal Islam

Ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan untuk mengenal Islam dengan baik.

Tetapi yang utama, dan tentu saja sangat penting adalah bagaimana kita memiliki paradigma ber­pikir.

Paradigma berpikir saya maksudkan sebagai pola dan sistem berpikir yang ada dan berakar di dalam ‘kepala’ kita.

Apabila kita ma­sih berpikir bahwa seluruh yang ada dalam mazhab Syiah atau Wahhabi a­dalah salah dan sesat, maka paradigma berpikir inilah yang ha­rus kita rubah menjadi paradigma berpikir yang sehat dan objektif.

Untuk merubah paradigma ini, kita pasti akan menemukan banyak kendala.

Dimulai dari masalah ideologis bahkan sosiologis.

Pada aspek yang pertama, i­deologi kita sendiri me­mang harus dipertahankan.

Tetapi mempertahankan i­deologi secara buta tanpa mem­bu­ka cakrawala yang lebih luas, hanya akan mem­persempit ideology itu sendiri.

Hasilnya sangat terlihat seperti mereka ya­ng melakukan tindak terorisme atas nama ideologi agama.

Dalam aspek sosiologis, kendala paling besar ditentukan dari proses pem­be­la­jaran masyarakat.

Bahwa sampai hari ini, diskusi dan kajian keislaman yang glo­bal dan kom­pre­hensif masih sangat minim, harus kita akui.

Di sinilah diper­lukan ruang pembelajaran ke­islaman yang lebih luas.

Ringkasnya, orang NU harus menyediakan waktu mempelajari po­kok pikiran yang ada pada Muham­ma­diyah; orang Sunni juga harus menyediakan waktu un­tuk berdiskusi dan meng­kaji pemikiran yang kaya dari mazhab Syiah atau Wahhabi.

Apabila hal ini bisa kita lakukan, maka insya Allah kita akan bisa melihat Is­lam dengan pandangan yang baik. 

Understanding Islam karena itu perlu kita ciptakan di rumah, mu­sholla dan organisasi keagamaan kita. Mudah-mudahan.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved