Understanding Islam : Menuju Sikap Bijak Beragama
Pemahaman kita kepada Islam biasanya selalu dimulai dengan pertanyaan, “Apa hukumnya”? atau “Apa dalilnya”?
Pemenuhan ini sendiri bersifat mengikat, dan tentu saja merupakan konsekuensi keberadaan manusia di dunia.
Bahwa “Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah” adalah prinsip bahwa manusia adalah hamba bagi Tuhan; dan karena itu pula pemenuhan kewajiban kepada-Nya adalah suatu keharusan.
Kita, dibebankan oleh Tuhan untuk menjalankan rangkaian ibadah.
Dan untuk itu Tuhan menjanjikan surga bagi mereka yang mau menyembah-Nya dan neraka yang tidak mau menyembah-Nya.
Islam sendiri menekankan kewajiban personal dan sosial.
Luasnya cakupan ibadah ini, menggambarkan kedudukan Islam sebagai agama yang universal.
Tetapi ibadah, dalam pandangan Islam, juga harus dilakukan dengan cara dan sikap yang baik.
Ibadah ternyata harus dibekali dengan ilmu pengetahuan (fikih) dan etika pelaksanaan (akhlak).
Pemahaman dari sudut ini, mengharuskan kita mengenal apa dan bagaimana ibadah yang harus kita lakukan.
Ketidaktahuan akan kewajiban ibadah, mengindikasikan kelalaian dan kecerobohan umat Islam.
Jadi, pengetahuan dan pembelajaran terhadap kewajiban juga menjadi suatu yang harus kita lakukan, terutama untuk membuat ibadah kita diterima-Nya.
Pengetahuan dan pembelajaran akan kewajiban kepada Tuhan, seyogyanya dapat menghindarkan kita dan masyarakat kita dari ajang perdebatan dan perselisihan yang tidak bermanfaat dan melulu meributkan “dalil” bukan “fungsi”.
Kondisi ini mungkin disebabkan karena kebodohan (jahil) akan arti ibadah itu sendiri yang ternyata juga membawa kepada kurangnya penghayatan.
Padahal Tuhan hanya menerima amal ibadah yang diiringi dengan keyakinan (iman) dan sikap pasrah (ikhlas) kepada-Nya.
Langkah Mengenal Islam
Ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan untuk mengenal Islam dengan baik.
Tetapi yang utama, dan tentu saja sangat penting adalah bagaimana kita memiliki paradigma berpikir.
Paradigma berpikir saya maksudkan sebagai pola dan sistem berpikir yang ada dan berakar di dalam ‘kepala’ kita.
Apabila kita masih berpikir bahwa seluruh yang ada dalam mazhab Syiah atau Wahhabi adalah salah dan sesat, maka paradigma berpikir inilah yang harus kita rubah menjadi paradigma berpikir yang sehat dan objektif.
Untuk merubah paradigma ini, kita pasti akan menemukan banyak kendala.
Dimulai dari masalah ideologis bahkan sosiologis.
Pada aspek yang pertama, ideologi kita sendiri memang harus dipertahankan.
Tetapi mempertahankan ideologi secara buta tanpa membuka cakrawala yang lebih luas, hanya akan mempersempit ideology itu sendiri.
Hasilnya sangat terlihat seperti mereka yang melakukan tindak terorisme atas nama ideologi agama.
Dalam aspek sosiologis, kendala paling besar ditentukan dari proses pembelajaran masyarakat.
Bahwa sampai hari ini, diskusi dan kajian keislaman yang global dan komprehensif masih sangat minim, harus kita akui.
Di sinilah diperlukan ruang pembelajaran keislaman yang lebih luas.
Ringkasnya, orang NU harus menyediakan waktu mempelajari pokok pikiran yang ada pada Muhammadiyah; orang Sunni juga harus menyediakan waktu untuk berdiskusi dan mengkaji pemikiran yang kaya dari mazhab Syiah atau Wahhabi.
Apabila hal ini bisa kita lakukan, maka insya Allah kita akan bisa melihat Islam dengan pandangan yang baik.
Understanding Islam karena itu perlu kita ciptakan di rumah, musholla dan organisasi keagamaan kita. Mudah-mudahan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/nouval.jpg)