Understanding Islam : Menuju Sikap Bijak Beragama

Pemahaman kita kepada Islam biasanya selalu dimulai dengan pertanyaan, “A­pa­ hu­kum­nya”? atau “Apa dalilnya”?

Tayang:
Editor: Salman Rasyidin
ist
DR. Muhammad Noupal M.Ag 

Begitu ju­ga pandangan dan pemikiran yang diyakininya, harus memiliki tujuan ke­da­mai­an dan keselamatan bagi orang lain.

Memahami Islam dengan cara global, seharusnya tidak menjadikan kita dan pe­­mikiran yang kita yakini saat ini, menjadi berseberangan dengan orang lain.

Orang Islam yang ber­maz­hab Ahlu Sunnah tidak perlu mencaci-maki dan menyalah-nyalahkan tentang orang Islam mazhab lainnya.

Bahkan orang Islam Mu­ham­madiyah juga tidak boleh memandang rendah pemahaman tradisionalis o­rang NU.

Begitu juga sebaliknya.

Dari sudut ini, perselisihan dan perbedaan pandangan, bahkan cacian dan ke­cam­an kepada pemikiran dan keyakinan orang lain, jelas tidak meng­gam­bar­kan arti dari kata “Islam” itu sen­diri yang “damai” bagi umat manusia.

Men­ce­la pendapat orang lain, atau merasa fa­ha­m­­nya benar sendiri, jelas meng­hi­lang­kan arti kata “Islam”.

Di sini terlihat bahwa pemahaman Islam secara global dapat difahami secara je­las melalui firman Allah SWT; “Sesungguhnya orang yang paling mulia di­antara kamu adalah yang paling bertakwa”.

Ayat yang menghilangkan per­bedaan dan pembedaan di kalangan umat ini, mengindikasikan kualitas ma­nusia di depan Tuhan bukan berdasarkan mazhab atau go­longan, tapi ber­da­sarkan takwa dan kepatuhan.

Yang paling takwa dan patuh kepada Tuhan a­da­lah yang paling mulia dan terhormat. Bukan karena mazhab atau golongan.

Sebagai agama yang rahmatan lil’alamin, pemahaman secara global seperti ini seharusnya dapat berlaku dan meresap secara luas, khususnya di kalangan u­mat Islam.

Umat Islam, karena itu perlu mengedepankan kasih sayang dan rah­mat dalam pergaulan; baik sesama mazhab atau antar mazhab bahkan antar a­ga­ma.

Mengedepankan pemahaman yang global se­perti inilah yang susah di­te­rima terutama oleh mereka yang sudah merasa “masuk surga” sendiri.

Dalam se­­loroh kita, (maaf) surga sepertinya punya bapak mereka, bukan punya orang lain.

Secara personal, Islam juga adalah agama yang mengedepankan pemenuhan ke­wajiban kepada Tuhan.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved