Breaking News:

Buya Menjawab

Apa Hukumnya Sholat Mengatur Jarak?

Memasuki era New Normal, sholat berjama’ah di masjid-masjid masih mengatur jarak, apa hukumnya buya, mohon penjelasan.

Editor: Bejoroy
SRIPOKU.COM/Resha
Ilustrasi - Suasana Masjid Al Muhajirin di Jalan Lintas Indralaya - Kayuagung Km35, yang masih menyelenggarakan Shalat Jumat pada Jumat (27/3/2020). 

SRIPOKU.COM - Assalamu’alaikum.Wr Wb.
BUYA, memasuki era New Normal, sholat berjama’ah di masjid-masjid masih mengatur jarak, apa hukumnya buya, mohon penjelasan. Terimakasih.
08136726xxxx

Inilah Tren Jas Pengantin Pria di Pesta Pernikahan New Normal

Masjid Agung Solihin Kayuagung Dibuka, Jamaah Bersyukur sudah Bisa Sholat Berjamaah di Masjid,

Jangan lupa subscribe, like dan share channel Youtube Sripokutv di bawah ini:

Jawab:
Wa’alaikumussalam.Wr.Wb.
Ananda, menurut pandangan ULAMA; himbauan pemerintah untuk melakukan social distancing dalam mengatasi serta upaya pencegahan Covid-19 dengan cara menjaga jarak aman minimal 1 meter, saat berjama'ah di masjid/mushala, boleh dilaksanakan pada kawasan yang penularannya tinggi dan tidak terkendali dengan illat hukum, menghindari mudorat/ bahaya lebih diutamakan dari memperoleh manfaat.

Mengenai hukum merapatkan shaf dalam shalat berjama'ah, memang disunahkan oleh Nabi Saw dalam haditsnya: "Dari sahabat Anas ra, Rasulullah bersabda, ‘Susunlah shaf kalian’) sehingga tidak ada celah dan longgar (dekatkanlah antara keduanya) antara dua shaf kurang lebih berjarak tiga hasta."

9 Makanan Mengandung Tembaga Tinggi (1). (www.infiline.com/)

Mengenai hukum membuat jarak atau merenggangkan shaf shalat juga telah banyak dibahas di kalangan para ulama Syafi'eyyah, diantaranya:

• Imam Nawawi dalam Kitab Minhajut Thalibin
“Posisi berdiri makmum yang terpisah makruh, tetapi ia masuk ke dalam shaf jika menemukan ruang kosong yang memadai.”

Hukum merenggangkan shaf atau membiarkan shaf berjarak hukum dasarnya adalah makruh.

• Imam Syihabuddin al-Qalyubi dalam kitab Hasyiah Qalyubiah.
Imam Syihabuddin Al-Qalyubi menjelaskan kata “fardan” atau terpisah sendiri di mana kanan dan kiri makmum terdapat jarak yang kosong sekira dapat diisi oleh satu orang atau lebih.

“Maksud kata (terpisah sendiri) adalah di mana setiap sisi kanan dan kirinya terdapat celah yang memungkinkan satu orang atau lebih berdiri,” (Syihabuddin Al-Qalyubi, Hasyiyah Qaliyubi wa Umairah, [Kairo, Al-Masyhad Al-Husaini: tanpa tahun], juz I, halaman 239).

5 Manfaat Kesehatan Makan Makanan Pedas. (Istimewa)

Hukum dasar merenggangkan posisi shaf memang dimakruhkan jika tidak ada uzur. Namun, sekiranya ada uzur, seperti menjaga jarak aman dari penularan Covid-19 , maka hukumnya tidak lagi menjadi makruh, sebagaimana pandangan Imam Ibnu Hajar al-Haitami berikut ini:

Halaman
123
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved