Masih Terpuruk Di Alam Kemerdekaan

Senin 17 Agustus 2020 dua hari lagi akan diperingati Hari Kemerdekaan RI ke 75, --me­ru­­pakan kemenangan rakyat Indonesia menghalau penjajah

Tayang:
Editor: Salman Rasyidin
ist
Drs. HM. Daud Rusjdi AW 

Namun di sisi lain banyak yang lebih menikmati kemerdekaan ini se­cara glamor, terutama oleh para penguasa, pengusaha dan para pejabat yang bercokol di bi­dang­nya.

Hal ini jelas-jelas mudah dipantau karena seringnya terbongkar korupsi dan penelewengan se­je­nis­nya yang dilakukan oleh mereka dalam menjalankan tugasnya.

Sehingga, banyak uang negara ini yang notabene adalah uang rakyat juga, digunakan untuk kepentingan ribadi dan keluarghanya.

Se­­hingga yang berkuasa semakin kaya dan yang masih belum beruntung dalam hiupnya tetap mis­kin.

Kalau saja uang yang dikorupsikan itu dialirkan kepada kemaslahatan yang masih dibawah ga­ris kemiskinan, ada kemungkinan kemiskinan di negei ini akan terhapus, kalaupun tidak akan ti­n­gg­al beberapa persen saja.

Mereka-mereka yang menyalahi aturan dan melanggar ketentuan atau hukum yang berlaku, se­benarnya mereka telah berhianat dan wajar bila disebut penghianat cita-cita para pahlawan ke­merdekaan.

Sebenarnya cita-cita para pahlawan bukan saja untuk mengusir penjajahan di negeri ini, tetapi juga bebasnya dari penjajah agar masyarakat negeri ini semuanya hidup makmur dan sejahtera semuanya penuh kebahagiaan.

Namun buktinya sekarang banyak kekayaan alam negeri ini yang dapat menjadi andalan untuk kemakmuran penghuninya dinikmati bangsa lain.

Karena banyak yang diselewengkan oleh oknum-oknum pengelola dengan berbagai cara, se­hi­ng­­ga masih banyak rakyat yang menderita.

Kalau saja penerus para pahlawan-pahlawan ini be­nar-be­nar menjadi penerus pahlawan dengan niat yang ikhlas dan bekerja sesuai dengan ajaran Is­lam a­jar­an Allah SWT, seharusnya penghuni negeri ini sudah lama makmur.

Dimana kekeliruannya, mungkin masing-masing memiliki pandangan dan pendapat.

Namun yang je­­­las salah satunya mungkin karena penerus pejuang yang memegang tampuk pimpinan baik di pu­sat maupun di daerah-daerah , kurang dekat dengan rakyatnya sehingga rakyatnya acuh.

Tidak se­perti pejuang-pejuang kemerdekaan dahulu, rakyat sanggup mengorbankan harta bendanya untuk membantu para perjuang kemerdekaan .

Lain halnya sekarang, para pemimpin yang katanya untuk kepentingan rakyat, mereka dekat de­ngan rakyatnya apabila ada keperluannya, seperti halnya apabila ada pemilihan untuknya, baik pe­mi­lihan pesiden, gubernur, walikota dan bupati.

Oleh sebab itu wajar akau setiap ada pemilihan pejabat, rakyat meminta imbalan dan uangnya piro menjadi acuan.

Kalau saja semua kita berpegang teguh kepada ajaran Islam, tentu tidak akan terjadi berbagai pe­nyimpangan-penyimpangan dalam melaksanakan tugas di segala bidang kehidupan.

Orang-orang yang berpegang teguh kepada ajaran Islam seperti inilah yang dapat diandalkan untuk membangun ne­geriya dengan baik dan yang akan mendatangkan kemakmuran dn keberkahan yang melimpah.

Se­bagaimana dalam QS.A’raaf 96 Allah berfiman : ”dan sekiranya pendudu negei itu beriman dan ber­taqwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi, te­ta­pi mereka mendustakan ayat-ayat Kami, maka Kami siksa mereka”.

Sebenarnya, hal yang sangat mendasar yang harus kita bina dalam setiap pribadi umat manusia pa­da umumnya dan bangsa Indonesia pada khususnya, adalah patuhnya kepada peraturan dan per­un­dang-undangan yang berlaku terutama sekali umat Islam yang hidup dan bertempat tinggal di bu­mi In­donesia.

Dengan demikian diharapkan cita-cita yang luhur para pahlawan kemerdekaan da­pat b­e­r­­­jalan sepanjang masa, termasuk kepatuhan terhadap ketentuan yang dikeluarkan oleh pe merintah agar virus corona saat ini terbebas dari bumi tercinta.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved