Menjadi Muslim Indonesia Seutuhnya
Semua agama di dunia ini pasti mengajarkan ketundukan atau kepasrahan kepada kehendak dan ketentuan Tuhan.
Sikap beragama bagi orang Indonesia dengan tradisi beragama yang sangat kaya sebagai proses akulturasi budaya dan islamisasi budaya yang sangat lama dan menghasilkan sebuah sistem tradisi agama yang khas dan unik sekaligus menjadi distingsi (pembeda) dengan masyarakat muslim di negara-negara muslim lainnya sehingga harus dipandang sebagai asset dan menjadi local wisdom yang dapat disinergikan dengan spirit agama yang universal.
Khazanah kultural bangsa Indonesia yang sangat beragam dan kaya harus dipertahankan sebagai identitas bangsa yang berbudaya dan berketuhanan sekaligus.
Islam dan ke-Indonesiaan sejak awal lahirnya bangsa ini telah selesai diperdebatkan dan tidak perlu dipertentangkan kembali.
Harun Nasution (1996: 223) sebagai tokoh intelektual muslim terkemuka di Indonesia menegaskan bahwa “filsafat Pancasila dan Negara Pancasila Indonesia tidak bertentangan dengan ajaran Islam”.
Dengan demikian, menjadi muslim yang hidup dan menghirup udara di bumi Indonesia sesungguhnya dapat menjadi seorang muslim sejati dengan tidak kehilangan identitas kebangsaan.
Secara ideologis menjadi warga Indonesia dengan sendirinya dapat membentuk kepribadian manusia yang berketuhanan.
Persoalannya adalah sejauhmana umat Islam di Indonesia mampu menunjukkan kedewasaannya dalam beragama dan bernegara dalam satu pemahaman dialektis yang saling menguatkan.
Sehingga postulat yang dapat dibangun adalah semakin kuat semangat beragama seseorang maka semakin teguh spirit wathaniyyah-nya.
Jika konstruksi dialektika agama dan budaya mampu dibangun secara kolektif maka hampir dapat dipastikan agama tidak akan pernah hilang dari bumi nusantara.
Dan Islam sebagai salah satu agama di Indonesia senantiasa memiliki energi positif yang mampu ditransformasikan oleh kaum muslim untuk merawat harmoni dan keutuhan bangsa ini.
Oleh karena itu, kaum muslim Indonesia tidak boleh memelihara energi negatif dengan membangun egoism dan terus berkutat pada amal pribadi yang tidak produktif dan mengabaikan amal sosial yang justru sangat dibutuhkan oleh negeri ini agar segera keluar dari segala problem sosial dan kesehatan yang saat ini sedang dihadapi bersama. Wallahu a’lam bi al-shawwab.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/rahman-uin.jpg)