Menjadi Muslim Indonesia Seutuhnya
Semua agama di dunia ini pasti mengajarkan ketundukan atau kepasrahan kepada kehendak dan ketentuan Tuhan.
Slogan Sprituality Yes, religion No sangat popular untuk menunjukkan identitas mereka yang menolak tatacara agama (religion) dalam kehidupan.
Di Indonesia, kedua kelompok ini diakui atau tidak sesungguhnya masih cukup eksis.
Sebagian kelompok masyarakat terlihat sangat religious dan memelihara tradisi tatacara agama, sedangkan satu kelompok terlihat sangat jauh dari tradisi dan praktik agama.
Bahkan tipologi beragama Islam di kalangan masyarakat Indonesia sangat popular dengan tiga tipologi beragama yang dikemukakan Cliffort Geertz (1983) dalam The Religion of Java yakni kelompok yang menekankan aspek-aspek Islam (Islam Santri); kelompok yang menekankan aspek-aspek Hindu (Islam Priyayi), dan kelompok yang menekankan aspek-aspek Animisme (Islam Abangan).
Ketiga tipologi beragama di atas secara umum menggambarkan fenomena masyarakat Indonesia yang memegang agama secara utuh dan kelompok masyarakat yang tidak taat beragama secara murni.
Dalam perspektif sosiologi agama memang sejak awal sejarah manusia selalu terdapat kelompok orang yang tidak simpati dan bahkan menolak seperangkat ajaran agama sebagai sistem nilai yang dapat mengatur sistem sosial kemasyarakatan.
Agama dilihat hanya semata-mata dalam hubungan dengan aspek ritual pribadi dan ada hubungan dengan peradaban dan modernitas.
Kelompok terakhir ini lebih melihat agama sebagai ajaran yang mengandung banyak kelemahan-kelamahan.
Namun kenyataannya, seperti yang ditegaskan ahli studi agama-agama W. Montgomery Watt bahwa sampai saat hanya agamalah yang dapat membawa manusia kepada tata tertib yang stabil di dunia.
Hal ini disebabkan karena hanya agama yang memiliki sistem nilai yang mengatur hampir semua peri kehidupan manusia, termasuk sistem nilai pada aspek politik, ekonomi, sosial, dan kebudayaan.
Salah satu fungsi terpenting agama adalah menciptakan rasa aman dan sejahtera bagi penganutnya.
Dari sini terdapat hubungan yang sangat erat antara “Iman” dan “Aman”. Tidak dianggap beriman seseorang yang tidak mampu membuat dirinya dan orang lain merasa aman.
Bukti dari keberimanan yang benar dari seseorang adalah senantiasa menebar rasa aman kepada sesama manusia bahkan bagi seluruh semesta raya.
Karena itu, tidak cukup seseorang beragama hanya menekuni satu aspek dari komponen agama saja tetapi harus utuh meliputi pemahaman dan aktualisasi Iman, Islam, dan Ihsan dalam satu tarikan nafas secara menyeluruh.
Seorang muslim tidak bisa menjadi penganut Islam sejati jika hanya menguatamakan ibadah personal (zikir, shalat, puasa, haji, dan seterusnya tanpa mengimbanginya dengan akhlak dan sistem perilaku yang menghargai sesama, peduli (respect), dan bertanggungjawab (responsibility) seperti karakter kenabian yang ditunjukkan oleh Nabi Muhammad ketika berinteraksi dengan berbagai lintas kelompok dan golongan masyarakat di Madinah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/rahman-uin.jpg)