Menjadi Muslim Indonesia Seutuhnya
Semua agama di dunia ini pasti mengajarkan ketundukan atau kepasrahan kepada kehendak dan ketentuan Tuhan.
Oleh :DR. Abdurrahmansyah
Dosen FITK UIN Raden Fatah Palembang
Semua agama di dunia ini pasti mengajarkan ketundukan atau kepasrahan kepada kehendak dan ketentuan Tuhan.
Karena itu, inti agama yang benar ialah sikap pasrah kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa, Pencipta seluruh langit dan bumi (fathir al-samawat wa ‘ardh). Bahkan al-Qur’an menegaskan bahwa sikap pasrah yang tulus dan murni itu menjadi inti (core) atau substansi dari suatu agama, dan setiap bentuk konsep atau ajaran yang menolak sikap kepasrahan kepada Tuhan dengan sendirinya tidak akan diterima Allah (Q.S. Ali Imran: 85).
Pasrah kepada Allah (al-Islam) itu sebenarnya suatu sikap batin dan bersifat sangat pribadi (personal) sehingga hanya orang yang bersangkutan yang mengetahui apakah dirinya benar-benar memiliki sikap pasrah yang sejati atau tidak.
Hal ini sekaligus menegaskan bahwa setiap orang memiliki otonomi pribadi untuk bertanggungjawab terhadap semua apapun yang diperbuatnya dan tidak dapat dilimpahkan kepada orang lain.
Setiap manusia akan mempertanggungjawabkan amalnya masing-masing di hadapan Allah.
Islam sebagai al-Din merupakan tatanan hidup (syari’ah) yang diturunkan Allah untuk mengatur seluruh aktivitas manusia di dunia, baik aktivitas batin maupun aktivitas lahir.
Amal pribadi maupun amal sosial.
Aturan Allah dalam lingkup al-dinn ini meliputi tiga komponen dasar yaitu: aturan tentang keyakinan (aqidah), aturan tentang tatacara beribadah (syari’ah ibadah), dan aturan tentang tatacara menjalin hubungan dengan Allah, manusia, dan semesta alam (akhlak).
Seorang muslim (penganut din al-Islam) idealnya mesti memahami ketiga komponen dasar agama ini secara utuh.
Sebab jika tidak, maka dapat dipastikan perspektif agama yang dianut seseorang menjadi timpang dan sangat berpotensi menimbulkan disorientasi beragama sehingga pemahaman agama menjadi terbelah dan tidak komprehensif.
Islam, Budaya, dan Solusi Kemanusiaan
Sejak awal terdapat dua kelompok manusia mengenai posisi agama dalam kehidupan, yaitu kelompok yang percaya bahwa agama adalah solusi atas berbagai problem kehidupan dan kelompok yang menolak agama karena dianggap sebagai candu dan pemberi harapan palsu bagi berbagai persoalan kemanusiaan.
Bahkan di era modern sekarang ini terdapat kelompok spiritualis yang percaya Tuhan namun menolak seperangkat ajaran dan syariat agama.
Slogan Sprituality Yes, religion No sangat popular untuk menunjukkan identitas mereka yang menolak tatacara agama (religion) dalam kehidupan.
Di Indonesia, kedua kelompok ini diakui atau tidak sesungguhnya masih cukup eksis.
Sebagian kelompok masyarakat terlihat sangat religious dan memelihara tradisi tatacara agama, sedangkan satu kelompok terlihat sangat jauh dari tradisi dan praktik agama.
Bahkan tipologi beragama Islam di kalangan masyarakat Indonesia sangat popular dengan tiga tipologi beragama yang dikemukakan Cliffort Geertz (1983) dalam The Religion of Java yakni kelompok yang menekankan aspek-aspek Islam (Islam Santri); kelompok yang menekankan aspek-aspek Hindu (Islam Priyayi), dan kelompok yang menekankan aspek-aspek Animisme (Islam Abangan).
Ketiga tipologi beragama di atas secara umum menggambarkan fenomena masyarakat Indonesia yang memegang agama secara utuh dan kelompok masyarakat yang tidak taat beragama secara murni.
Dalam perspektif sosiologi agama memang sejak awal sejarah manusia selalu terdapat kelompok orang yang tidak simpati dan bahkan menolak seperangkat ajaran agama sebagai sistem nilai yang dapat mengatur sistem sosial kemasyarakatan.
Agama dilihat hanya semata-mata dalam hubungan dengan aspek ritual pribadi dan ada hubungan dengan peradaban dan modernitas.
Kelompok terakhir ini lebih melihat agama sebagai ajaran yang mengandung banyak kelemahan-kelamahan.
Namun kenyataannya, seperti yang ditegaskan ahli studi agama-agama W. Montgomery Watt bahwa sampai saat hanya agamalah yang dapat membawa manusia kepada tata tertib yang stabil di dunia.
Hal ini disebabkan karena hanya agama yang memiliki sistem nilai yang mengatur hampir semua peri kehidupan manusia, termasuk sistem nilai pada aspek politik, ekonomi, sosial, dan kebudayaan.
Salah satu fungsi terpenting agama adalah menciptakan rasa aman dan sejahtera bagi penganutnya.
Dari sini terdapat hubungan yang sangat erat antara “Iman” dan “Aman”. Tidak dianggap beriman seseorang yang tidak mampu membuat dirinya dan orang lain merasa aman.
Bukti dari keberimanan yang benar dari seseorang adalah senantiasa menebar rasa aman kepada sesama manusia bahkan bagi seluruh semesta raya.
Karena itu, tidak cukup seseorang beragama hanya menekuni satu aspek dari komponen agama saja tetapi harus utuh meliputi pemahaman dan aktualisasi Iman, Islam, dan Ihsan dalam satu tarikan nafas secara menyeluruh.
Seorang muslim tidak bisa menjadi penganut Islam sejati jika hanya menguatamakan ibadah personal (zikir, shalat, puasa, haji, dan seterusnya tanpa mengimbanginya dengan akhlak dan sistem perilaku yang menghargai sesama, peduli (respect), dan bertanggungjawab (responsibility) seperti karakter kenabian yang ditunjukkan oleh Nabi Muhammad ketika berinteraksi dengan berbagai lintas kelompok dan golongan masyarakat di Madinah.
Sikap beragama bagi orang Indonesia dengan tradisi beragama yang sangat kaya sebagai proses akulturasi budaya dan islamisasi budaya yang sangat lama dan menghasilkan sebuah sistem tradisi agama yang khas dan unik sekaligus menjadi distingsi (pembeda) dengan masyarakat muslim di negara-negara muslim lainnya sehingga harus dipandang sebagai asset dan menjadi local wisdom yang dapat disinergikan dengan spirit agama yang universal.
Khazanah kultural bangsa Indonesia yang sangat beragam dan kaya harus dipertahankan sebagai identitas bangsa yang berbudaya dan berketuhanan sekaligus.
Islam dan ke-Indonesiaan sejak awal lahirnya bangsa ini telah selesai diperdebatkan dan tidak perlu dipertentangkan kembali.
Harun Nasution (1996: 223) sebagai tokoh intelektual muslim terkemuka di Indonesia menegaskan bahwa “filsafat Pancasila dan Negara Pancasila Indonesia tidak bertentangan dengan ajaran Islam”.
Dengan demikian, menjadi muslim yang hidup dan menghirup udara di bumi Indonesia sesungguhnya dapat menjadi seorang muslim sejati dengan tidak kehilangan identitas kebangsaan.
Secara ideologis menjadi warga Indonesia dengan sendirinya dapat membentuk kepribadian manusia yang berketuhanan.
Persoalannya adalah sejauhmana umat Islam di Indonesia mampu menunjukkan kedewasaannya dalam beragama dan bernegara dalam satu pemahaman dialektis yang saling menguatkan.
Sehingga postulat yang dapat dibangun adalah semakin kuat semangat beragama seseorang maka semakin teguh spirit wathaniyyah-nya.
Jika konstruksi dialektika agama dan budaya mampu dibangun secara kolektif maka hampir dapat dipastikan agama tidak akan pernah hilang dari bumi nusantara.
Dan Islam sebagai salah satu agama di Indonesia senantiasa memiliki energi positif yang mampu ditransformasikan oleh kaum muslim untuk merawat harmoni dan keutuhan bangsa ini.
Oleh karena itu, kaum muslim Indonesia tidak boleh memelihara energi negatif dengan membangun egoism dan terus berkutat pada amal pribadi yang tidak produktif dan mengabaikan amal sosial yang justru sangat dibutuhkan oleh negeri ini agar segera keluar dari segala problem sosial dan kesehatan yang saat ini sedang dihadapi bersama. Wallahu a’lam bi al-shawwab.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/rahman-uin.jpg)