Tahun baru Islam

Hijrah Sebagai Etos Membangun Peradaban

Ada satu fenomena yang menunjukkan munculnya kesadaran umat Islam memperingati momen tahun baru Islam yang jatuh pada 1 Muharram.

Hijrah Sebagai  Etos Membangun Peradaban
Istimewa
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Raden Fatah.

Kata "Madinah" juga mengacu pada pengertian "pola hidup berperadaban", sehingga "madaniyah" adalah kata-kata Arab untuk "peradaban", sama dengan kata "hadlarat" yang asal maknanya ialah "pola hidup menetap di suatu tempat", bukan pola hidup nomad atau badawah yang berpindah-pindah dan tidak terorganisir.

Padanan Madinah dalam bahasa Inggris adalah civilization yang bermakna masyarakat modern dan berperadaban.

Dengan mengubah Yatsrib menjadi Madinah Nabi SAW bermaksud melakukan upaya revolusioner untuk mewujudkan tatanan masyarakat baru, yakni masyarakat madani yang lebih terorganisir, beradab, taat pada supremasi hukum, demokratis, toleran, adil, dan mansiawi.

Hijrah sebagai Etos Membangun Peradaban

Dari peristiwa hijrah kita dapat menarik pelajaran penting, yaitu prinsip-prinsip hijrah dapat dijadikan etos dalam membangun peradaban yang maju, beradab, manusiawi, dan adil-makmur sejahtera.

Para pemimpin Negara baik di tingkat nasional maupun daerah dapat mengambil pelajaran penting dari apa yang telah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.

Pertama, hijrah, baik dalam makna fisik maupun mental harus didasari niat mencari ridho Allah dan Rasul-Nya.

Hijrah harus dimotivasi niat ibadah, ikhlas lillaahi ta’ala (Tauhid yang murni), bukan karena motivasi lain yang bersifat duniawi.

Kedua, bagi para pemimpin Muslim di era modern saat ini peristiwa hijrah harus diteladani pula dari segi makna hijrah sebagai momentum dan etos pembangunan peradaban masyarakat dan negara utama (excellent state).

Ini dapat dicapai melalui upaya: (1) mengintegrasikan antara aspek agama dan dunia (yang disimbolkan melalui masjid yang multifungsi), bukan sebaliknya: memisahkan urusan dunia dari agama (sekularisasi).

(2) menjunjung tinggi supremasi hukum dan keadilan: semua orang sama di depan hukum.

Bahkan beliau Nabi SAW pernah mengatakan: “Jika sekiranya Fatimah binti Muhammad mencuri, benar-benar akan kupotong kedua tangannya’ (Hadits).

Ilustrasi
Ilustrasi (SHUTTERSTOCK)

(3) membangunsistem pemerintahan yang demokratis berdasarkan prinsip-prinsip syuro(musyawarah-mufakat) (Q.S. 42:38), al-musawa (egaliter) dan persaudaraan berdasarkan iman (al-ukhuwwah Islamiyyah), bukan perpecahan dan pertikaian.

(4) membangunplatform yang mengayomi kemajemukan atas dasar toleransi, menghormati perbedaan, dan pengakuan terhadap hak-hak sipil warga Negara.

(5) melakukan transformasi dan reformasi kehidupan masyarakat menjadi lebih terorganisir, beradab, dan manusiawi.

Dalam bahasa agama inilah yang disebut “penduduk negeri yang beriman dan bertaqwa” (Q.S. 7:96) yang “baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur”, negeri yang baik dan diampuni oleh Allah SWT (Q.S. 36:16).

Kita tentu berharap semangat hijrah ini dapat diteladani oleh semua individu muslim, lebih-lebih pemimpin umat dan bangsa, baik di tingkat nasional maupun daerah, khususnya yang telah terpilih maupun yang akan terpilih pada perhelatan pemilihan presiden dan anggota legislative yang akan datang.

Selamat tahun baru Hijriyah 1 Muharram 1440 H, semoga hari ini lebih baik dari kemarin, dan esok lebih baik dari hari ini.Aamiin yaa rabbal’aalamiin.

Editor: Salman Rasyidin
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved