Tahun baru Islam

Hijrah Sebagai Etos Membangun Peradaban

Ada satu fenomena yang menunjukkan munculnya kesadaran umat Islam memperingati momen tahun baru Islam yang jatuh pada 1 Muharram.

Hijrah Sebagai  Etos Membangun Peradaban
Istimewa
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Raden Fatah.

Setelah membangun masjid Nabi SAW mempersaudarakan kaum muslimin yang berasal dari Mekkah (kaum muhajirin) dengan kaum muslimin Madinah (kaum Anshar), suatu persaudaraan yang berbasis atas keimanan Tauhid, kalimah suci laa ilaaha illa Allah.

Inilah persaudaraan universal yang ditanamkan oleh Nabi SAW yang lebih tinggi nilainya dibandingkan persaudaraan yang diikat oleh darah, ras, apalagi kelompok/golongan.

Perasaudaraan yang tidak hanya bersifat duniawi tetapi juga ukhrowi dan spiritual.

Sebelum itu Nabi SAW telah lebih dahulu mendamaikan dua suku besar di Madinah yang berkonflik dalam masa yang sangat lama, yaitu suku Auz dan Khazraj.

Kedua suku inilah yang kemudian dikenal dengan kaum Anshor (kaum Muslimin yang memberikan pertolongan kepada para sahabat Nabi yang berhijrah dari Makkah/kaum muhajirin).

Program selanjutnya yang dilakukan Nabi SAW adalah menyusun peraturan perundang-undangan melalui musyawarah-mufakat dengan para sahabat.

Undang-undang yang dikenal dengan Piagam Madinah (Mitsaq al-Madinah) ini mengandung aturan dan kesepakatan tentang kehidupan yang berdampingan berdasarkan toleransi, harmoni, serta perdamaian antara kaum muslimin dengan masyarakat Yahudi dan Nasrani.

Langkah Nabi SAW ini menunjukkan betapa Islam adalah agama yang sangat toleran terhadap perbedaan, agama yang mengayomi keragaman, sekaligus rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil ‘alamin).
Piagam Madinah adalah bentuk kontrak sosial politik dan kemanusiaan yang melampaui zamannya dan diakui sebagai contoh awal bentuk kontrak sosial masyarakat plural oleh banyak ahli hukum tata negara di seluruh dunia.

Nabi SAW kemudian juga melakukan sebuah tindakan yang sangat simbolik dan bermakna filosofis, yaitu mengubah nama kota dari Yatsrib menjadi al-Madinah al-Munawwarah (kota berperadaban yang tercerahkan).

Makna filosofis itu dapat dilihat pada term madinah(kota) yang terambil dari akar kata dana-yadinuyang mengandung makna “ketundukan” dan “kepatuhan pada ajaran din al-Islam yang bermakna tunduk/patuh pada supremasi hukum dan peraturan.

Halaman
1234
Editor: Salman Rasyidin
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved