Tahun baru Islam

Hijrah Sebagai Etos Membangun Peradaban

Ada satu fenomena yang menunjukkan munculnya kesadaran umat Islam memperingati momen tahun baru Islam yang jatuh pada 1 Muharram.

Hijrah Sebagai  Etos Membangun Peradaban
Istimewa
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Raden Fatah.

Hijrah yang paling benar tentu adalah hijrah karena niat mencari ridho Allah dan Rasulnya, bukan karena motivasi duniawiyah (ingat hadits Nabi SAW tentang Innama al-a’maalu bi al-nniyyat).

Dalam sejarah Islam peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW telah dijadikan satu tanda dimulainya tahun baru Islam, tahun Hijriyah.

Keputusan dan ketetapan ini diresmikan pada masa Khalifah Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu sebagai tanda dimulainya kalender Islam.

Mengapa momentum hijrahnya Rasul ini yang diambil sebagai momentum awal mulanya tahun Hijriyah, bukan peristiwa sejarah Islam yang lain?

Salah satu alasannya yang terpenting adalah bahwa peristiwa hijrahnya Muhammad SAW merupakan momentum awal dimulainya kemenangan serta kebangkitan Islam dan peradaban kaum muslimin, sesuatu yang sulit dicapai jika Nabi SAW dan pengikutnya terus menetap di kota Mekkah.

Dalam sejarah tercatat bahwa ketika Nabi SAW dan pengikutnya bermigrasi atau hijrah ke kota Yatsrib,Nabi kemudian mengubah nama Yatsrib menjadi Madinah.

Selanjutnya beliau membangun satu tatanan masyarakat/sistem social-politik yang kokoh dan menyusun strategi yang pada gilirannya mampu membuat kota Mekah ditaklukkan.

Hal pertama yang dilakukan Nabi di Madinah adalah membangun Masjid di atas tanah milik kedua anak yatim, yaitu Sahl dan Suhail. Nabi membeli tanah tersebut untuk pembangunan masjid sekaligus untuk tempat tinggal beliau.

Di masa Nabi SAW masjid yang kelak dikenal sebagai masjid Nabawi ini, tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah ritual (sholat) untuk menjaga ketaqwaan, tetapi juga sebagai lembaga pendidikan keagamaan, tempat mengadili berbagai perkara yang timbuldi masyarakat, tempat bermusyawarah untuk merumuskan berbagai kebijakan penting, tempat menyusun strategi perang, tempat evakuasi dan pengobatan prajurit yang terluka, dan lain-lain.

Jadi fungsi masjid ketika itu multiguna, tidak hanya urusan agama, tetapi juga dunia/masyarakat.

Halaman
1234
Editor: Salman Rasyidin
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved