Karhutla
'Perang' di Lahan Gambut Sumsel
Ada selorohan tak mengenakkan ketika peristiwa kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) tahun 2015 lalu yaitu, "Sumsel Pengekspor Asap"
Sampai sekarang berbagai inovasi terus diusahakan dan dimaksimalkan.
Bios 44 dan Nusantara 44 adalah salah satunya. Bios 44 berasal dari bahan mikroorganisme yang kemudian diurai sedemikian rupa sehingga menjadi cairan yang terbukti ampuh tidak hanya untuk karhutla, tetapi berfungsi penting dalam memadatkan rongga-rongga tanah, terutama kawasan gambut.
Gambut yang semula rawan terbakar, akhirnya menjadi lebih aman. Tidak hanya untuk kawasan gambut, bios 44 terbukti pula ampuh untuk pakan ikan, ternak kerbau dan sapi, disamping tentu saja meningkatkan kesuburan tanah.
Pada akhirnya, bios sangat membantu dan efektif membantu masyarakat dalam mengoptimalkan lahan pertanian maupun peternakan mereka.
Melalui semangat berbagi dan non komersil, alhamdulillah sampai sekarang bios 44 terus didistribusikan.
Sementara Nusantara 44 adalah suatu produk andalan Korem 44/ Gapo yang berupa cairan busa pemadam kebakaran di lahan gambut.
Memadamkan kebakaran di lahan gambut ternyata tidak cukup hanya dengan air, sejenis foam yang sudah diracik sedemikian rupa terbukti sangat efektif.
Dua produk ini adalah hak kekayaan intelektual milik Korem 44/Gapo, dan karena tentara adalah milik rakyat, maka produk ini juga milik rakyat, untuk kebaikan rakyat.
Apa yang dilakukan TNI di atas, sebenarnya adalah kekuatan semangat inovasi dan kreatifitas, yang diramu dengan kemampuan intelektual.
Setidaknya ini bukti bahwa kita mampu dan kita memang ada untuk rakyat, persoalan karhutla dan lingkungan adalah persoalan rakyat dan TNI ada untuk itu.
Tahun 2018 ini, inovasi lain coba diciptakan Korem 44/Gapo yaitu alat pengolah limbah merkuri dan B3.
Limbah beracun dan sangat berbahaya ini diperkirakan akan terus meningkat di Sumsel dan Indonesia, untuk itu perlu upaya serius untuk mengantisipasi sebarannya.
Korem 44/Gapo sudah mencoba membuat produk ini.
Sekali lagi semua untuk kebaikan bersama dan menunjukkan sumbangsih TNI, dengan semangat utama yaitu Berbagi dan demi Merah Putih.
Mungkin ada yang bertanya-tanya, untuk apa TNI repot-repot membuat ini dan itu, toh persoalan karhutla dan lingkungan bukan tanggung jawab TNI semata.
Disinilah tudingan itu perlu diluruskan.
Ancaman karhutla dan limbah bukan semata-mata masalah satu pihak, termasuk dampaknya juga bukan dirasakan satu pihak.
Semua orang akan terkena, taruhannya adalah NKRI dan martabat bangsa.
Pada titik ini, TNI tidak bisa main-main, ini adalah komitmen dasar yang tidak perlu diragukan lagi.
Karena itu, tak perlu ribet-ribet harus rapat koordinasi dulu, atau harus menunggu persetujuan anggaran, dan tetek bengek birokrasi lainnya.
Masalah karhutla sudah didepan mata, gerak cepat harus dilakukan.
Pada konteks ini, "perang" di lahan gambut sebagaimana judul tulisan ini, senyatanya bukan semata-mata memerangi api yang membakar.
"Perang" yang lebih efektif adalah terhadap pihak yang sengaja membakar lahan, atau membiarkan lahan terbakar, atau bahkan menganggap sepele soal karhutla.
Mungkin ada baiknya perang juga ditujukan terhadap birokrasi yang terlalu berbelit-belit, atau terhadap pihak-pihak yang “menumpang tenar” dari persoalan karhutla, termasuk juga oknum-oknum yang ikut "bermain" di wilayah karhutla.
Hal-hal ini diyakini menjadi problem dasar yang ikut memberikan pengaruh pada njelimetnya masalah karhutla.
Sebisanya, TNI tidak ingin berperang dengan "tikus", tapi justru dengan "gajah".
Mampukah itu? Pantang mundur sebelum menang, itulah slogannya. Oleh karena itu, strategi yang diterapkan mengandung dua konsep penting, pencegahan dan penanggulangan.
Pencegahan dilakukan dengan kegigihan Tim Gator yang mampu membuat produk semacam Bios 44, Nusantara 44 dan modifikasi teknis lainnya.
Untuk penanggulangan, dilakukan dengan penyiapan pasukan siaga 24 jam bekerjasama dengan tim-tim lainnya.
Perang bagi TNI bukan semata melawan musuh di medan tempur konvensional, tetapi "perang" mengamankan dan memperbaiki kawasan gambut juga harus dilakukan.
Biarlah urusan kebijakan diselesaikan instansi lain, TNI akan selalu bersemangat bergerak di lapangan dan juga di lembaga riset.
Sekali lagi, dengan semangat berbagi dan inovasi, adalah bukti kesatuan TNI dengan rakyat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/kunto_20180214_164017.jpg)