Karhutla
'Perang' di Lahan Gambut Sumsel
Ada selorohan tak mengenakkan ketika peristiwa kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) tahun 2015 lalu yaitu, "Sumsel Pengekspor Asap"
TNI sudah punya semua ini dan saat inilah hal tersebut menemukan momentumnya.
TNI tentu sadar, menyelesaikan urusan karhutla tak bisa seorang diri.
Team work yang kokoh penting sekali, begitu juga dukungan masyarakat dan termasuk media.
Untuk itu, kiranya tak berlebihan jika ada iming-iming, siapa yang bisa menangkap pelaku karhutla, hadiah sudah menanti. Paling tidak, memberikan informasi yang valid dan tepat, itupun sudah cukup.
Makna penting bukan soal hadiah, tapi partisipasi dan rasa tanggungjawab, itu yang diharapkan.
Masalah karhutla dan keterlibatan TNI bukan semata-mata sebagai pasukan organik yang hanya berfungsi menjaga dan bertindak saat ada masalah.
Tidak, TNI tentu bukan robot yang hanya sekedar diperintah.
Salah satu filosofis perang yang sudah sangat lekat dengan TNI adalah, jika Anda ingin memenangkan pertempuran, tidak cukup hanya kekuatan dan keterampilan pasukan.
Terpenting adalah, pahami apa dan kondisi lengkap tentang siapa yang dihadapi.
Oleh sebab itu, memahami karakteristik karhutla, penyebab, dampak, dan obat penawar untuk itu, sangat diperlukan.
Tujuannya hanya satu, jangan ada karhutla di Sumsel. Atas dasar itu,
TNI yang bertugas dalam konteks karhutla di Sumsel, terutama dari jajaran Korem 044/Garuda Dempo, tidak hanya sekedar menyiapkan pasukan semata.
Upaya-upaya lain juga dilakukan, yang sebenarnya ini bukan ranahnya militer. Upaya yang lebih bernuansa akademis tersebut terwujud dalam produk yang bernama Bios 44 dan Nusantara 44.
Kedua produk ini adalah ide, gagasan, kreatifitas, dan sumbangsih TNI untuk kepedulian lingkungan.
Gator (Garuda Dempo Team Research) Korem 044 sangat berperan pada posisi ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/kunto_20180214_164017.jpg)