Karhutla
'Perang' di Lahan Gambut Sumsel
Ada selorohan tak mengenakkan ketika peristiwa kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) tahun 2015 lalu yaitu, "Sumsel Pengekspor Asap"
"Perang" di Lahan Gambut Sumsel
Oleh : Kol. Inf. Kunto Arief Wibowo
Danrem 044 Garuda Dempo/Satgas Karhutla Sumsel
Ada selorohan yang tidak mengenakkan ketika terjadi peristiwa kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) tahun 2015 lalu yaitu, "Sumatera Selatan (Sumsel) Pengekspor Asap".
Tudingan miring ini muncul lantaran memang kabut asap begitu pekat yang bersumber dari Sumsel.
Panjangnya kemarau, pengelolaan lahan yang tidak jelas, perluasan pembukaan lahan-lahan sumber api, menjadi penyebab utama masalah ini, ditambah lagi antisipasi dan penjagaan wilayah tidak maksimal.
Istilah yang tidak mengenakkan, tapi kita juga tak bisa marah.
Belajar dari fenomena tersebut, tahun 2016, 2017 hingga saat ini, antisipasi dan pola menghadapi musim kemarau, dirubah.
Sifatnya tak lagi menunggu, tapi jemput bola ke masyarakat untuk sama-sama berperang melawan kebakaran hutan dan lahan.
Satgas Karhutla disiapkan, pasukan disiagakan, kebijakan dibuat, lahan ditata dan masyarakatpun diperkuat.
Berbagai formula dirumuskan dan disiagakan.
Alhasil, tahun 2016 dan 2017, disamping terbantu oleh singkatnya kemarau, kesiagaan semua unsur menjadi hal yang penting terhadap minimnya karhutla yang terjadi.
Dalam posisi pengamanan wilayah terhadap ancaman kabut asap, maka mau tidak mau TNI berada di garda terdepan.
Semua jajaran TNI ikut bertanggungjawab terhadap masalah yang terjadi.
TNI yang memang sudah memiliki kelengkapan teritorial hingga ke level terbawah (desa) dituntut untuk mampu berbuat, tidak sekedar beretorika, apalagi disibukkan rapat-rapat koordinasi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/kunto_20180214_164017.jpg)