Perangkat Pembelajaran

Contoh Kegiatan Kokurikuler Workshop Membatik, Menghidupkan Kurikulum Lewat Canting

Workshop Membatik: Cara seru sekolah tanamkan cinta budaya dan karakter. Menghidupkan Kurikulum Lewat Canting.

Tayang:
Penulis: Siti Umnah | Editor: Siti Umnah
Ilustrasi/AI
ILUSTRASI KEGIATAN KOKURIKULER - Workshop Membatik: Cara seru sekolah tanamkan cinta budaya dan karakter. Menghidupkan Kurikulum Lewat Canting. 

Ringkasan Berita:
  • Workshop membatik sebagai kegiatan kokurikuler berfungsi menjembatani teori seni rupa dengan praktik nyata, sekaligus menanamkan nilai karakter
  • Proses membatik melatih kecerdasan majemuk—mulai dari aspek matematika, sains, hingga filosofi kesabaran yang membentuk pengendalian diri siswa
  • Hasil karya yang dipamerkan atau dikenakan memberi rasa bangga, menumbuhkan kedekatan emosional dengan budaya, dan memperkuat identitas bangsa

SRIPOKU.COM - Dunia pendidikan hari ini tidak lagi cukup hanya dibatasi oleh empat dinding kelas. 

Jika di dalam kelas siswa mempelajari teori tentang ragam hias dan nilai estetika, maka di luar kelas mereka perlu menyentuh langsung realitas dari teori tersebut.

Inilah peran penting kegiatan kokurikuler—sebagai jembatan yang menghubungkan teks di buku dengan praktik di lapangan.

Baca juga: Mengintip Dapur Kebijakan: Mengenal Tata Kelola Negara Lewat Kegiatan Kokurikuler Kunjungan Instansi

Salah satu contoh nyata yang kini mulai marak diterapkan di sekolah-sekolah adalah Workshop Membatik.

Lebih dari sekadar coretan malam di atas kain mori, kegiatan ini membawa misi penguatan karakter dan pelestarian identitas bangsa.

Bukan Sekadar Menghias Kain

Membatik sering kali dianggap sebagai kegiatan kerajinan tangan biasa.

Namun, jika ditinjau dari sudut pandang pedagogi, membatik adalah latihan kecerdasan majemuk.

Pertama, ada aspek matematika dan ketelitian.

Saat membuat pola simetris, siswa belajar tentang presisi dan perhitungan ruang.

Kedua, ada aspek sains.

Proses pewarnaan dan pelorodan (pelepasan lilin) melibatkan reaksi kimia yang mengajarkan siswa tentang karakteristik bahan.

Namun, yang paling utama adalah aspek karakter.

Di tengah era instan, membatik mengajarkan filosofi kesabaran.

Menunggu lilin mencair, menjaga stabilitas tangan saat mencanting, hingga menunggu proses pengeringan adalah latihan pengendalian diri yang luar biasa bagi generasi Z yang terbiasa dengan kecepatan digital.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved