Opini
Ramadan dan Golongan yang Menyambutnya
Ramadan bukan sekadar perubahan jam makan, melainkan tamu agung yang menuntut persiapan mental.
Ringkasan Berita:
- Makna Marhaban: Berbeda dengan Ahlan wa Sahlan, Marhaban berarti menyambut Ramadan dengan lapang dada dan ruang luas untuk asah jiwa.
- Alasan Bergembira: Ramadan disambut sukacita karena pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan adanya malam Lailatul Qadar yang mulia.
- Tiga Golongan: Manusia menyikapi Ramadan secara berbeda: kelompok zalim (lalai), muqtashid (setengah hati), dan sabiqun bil khairat (berprestasi).
Oleh: Syamsul Bahri
(Kepala MTs Alhidayah Toboali, Bangka Belitung)
SRIPOKU.COM - Dalam menyambut bulan Ramadan, kita sering mendengar ungkapan “Marhaban Yaa Ramadan”. Ungkapan tersebut biasanya dimaksudkan sebagai sambutan kepada bulan suci yang ditunggu-tunggu kedatangannya oleh umat Islam, bukan hanya di Indonesia tapi di seluruh dunia.
Sebenarnya dalam bahasa arab ada juga kata yang mempunyai arti selamat datang, seperti kata “Ahlan Wa Sahlan”. Lalu pernahkah kita bertanya: mengapa kita menggunakan ungkapan “Marhaban Yaa Ramadan” bukan “Ahlan Wa Sahlan Ya Ramadan”? Padahal kedua kata ini sama artinya, yaitu Selamat Datang.
Mari kita telusuri lebih lanjut.
Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata marhaban diartikan dengan kata seru untuk menyambut atau menghormati tamu, yang sederhananya berarti "Selamat Datang".
Menurut M. Quraish Shihab dalam bukunya yang berjudul Lentera Hati, para ulama menggunakan kata marhaban bukan ahlan wa sahlan untuk menyambut bulan Ramadan karena ada perbedaan dalam artinya.
Ahlan terambil dari kata ahl yang berarti “keluarga”, sedangkan sahlan dari kata sahl yang berarti “mudah” (sahl juga berarti “dataran rendah” karena mudah dilalui oleh para pejalan kaki, tidak seperti tanjakan tinggi).
Selain itu dalam ungkapan Ahlan wa sahlan yang artinya juga selamat datang, terdapat ungkapan tersirat yaitu (kamu berada di tengah-tengah) keluarga dan (melangkahkan kaki di) dataran rendah yang mudah.
Sedangkan Marhaban, diambil dari kata rahbun yang berarti “luas atau lapang”, sehingga marhaban menggambarkan bahwa tamu yang datang disambut dan diterima dengan lapang dada, penuh kegembiraan serta dipersiapkan baginya ruangan yang luas untuk melakukan apa saja yang diinginkannya.
Marhaban Yaa Ramadan, “Selamat datang Ramadan”, berarti kami menyambutmu dengan penuh kegembiraan dan telah persiapkan untukmu tempat yang luas agar engkau bebas melakukan apa saja, yang berkaitan dengan upaya mengasah dan mengasuh jiwa kami.
Marhaban Yaa Ramadan, kami menyambutmu dan siap untuk melakukan apa saja demi memperoleh kemuliaan dan kebaikan itu. Marhaban Yaa Ramadan, selamat datang tamu agung yang jika dianalogikan, tamu agung yang berkunjung ke satu tempat, tidak akan datang menemui setiap orang di lokasi tersebut walaupun setiap orang disana mendambakannya.
Selanjutnya kenapa kita harus gembira meyambut datangnya Ramadan? Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita simak hadits Nabi Muhammad berikut ini:
"Apabila dating bulan Ramadan, maka pintu-pintu langit akan dibuka, sedangkan pintu-pintu Jahannam ditutup dan setan-setan dibelenggu." (H.R. Bukhori).
Lalu dalam hadits lain disampaikan:
Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata: Rasulullah s.a.w. memberikan kabar gembira kepada para sahabat beliau. Beliau bersabda: telah datang kepada kalian bulan Ramadan, yaitu bulan yang diberkahi, Allah telah memfardhukan (mewajibkan) atas kalian berpuasa di bulan itu, di bulan itu dibukalah pintu-pintu surga dan ditutuplah pintu-pintu neraka, dan di bulan itu pula ada Lailatul Qadar (Malam Qadar) yang lebih baik dari seribu bulan”, Siapa saja yang terhalang dari kebaikan malam itu maka ia terhalang dari rahmah Tuhan (HR. An-Nasa’i).
Dari dua hadits di atas, sudah terjawab pertanyaan mengapa kita harus bergembira dengan daangnya bulan Ramadan.
Kemudian ada pertanyaan lagi. Apa yang harus kita persiapkan untuk menyambut bulan yang agung ini?
Jawabannya adalah kita harus mempersiapkan jiwa yang suci dan tekad yang membaja untuk berperang melawan haw nafsu, menghidupkan malamnya dengan sholat dan tilawah Alquran dan siangnya dengan beribadah kepada Allah melalui pengabdian kepada masyarakat, bangsa dan negara.
Selanjutnya dalam menyambut ramadan ini manusia terbagi kepada tiga golongan. Muhammad Saiyid Mahadhir dalam bukunya "Bekal Ramadan dan Idul Fithri (1): Menyambut Ramadan", menyebutkan tiga golongan itu adalah:
1. Kelompok Zhalim
Mereka ini adalah orang-orang yang kurang sekali perhatiannya terhadap bulan Ramadan. Bagi mereka kedatangan Ramadan dianggap biasa-biasa saja dan dianggap sebagai beban. Kelompok ini menyamakan bulan Ramadan dengan bulan-bulan yang lainnya.
Mereka berpuasa, tapi hanya sebagian saja, lalu sebagian lainnya mereka tinggalkan bukan karena alasan yang diperbolehkan.
Sehingga kewajiban berpuasa tidak dijalankan dengan sempurna. Bisa jadi mereka berpuasa penuh selama satu bulan, namun hari-hari mereka meninggalkan salat fardhu, banyak tidur. Inilah kezhaliman mereka untuk diri masing-masing.
Di akhirat kelak nasibnya akan menyedihkan, walaupun kita tetap berharap ampunan dan kasih sayang Allah. Orang-orang seperti ini harus diingatkan dan diajak dengan baik agar menyadari pentingnya beramal saleh di bulan Ramadan.
2. Muqtashid (Pertengahan)
Mereka adalah orang-orang yang bergembira menyambut hadirnya bulan Ramadan. Rasa gembira itu semakin menjadi-jadi karena setelah itu bakal ada libur panjang.
Ada kesadaran beragama bahwa di Ramadan waktunya untuk menghapus dosa dan mengambil banyak pahala untuk bekal di akhirat kelak. Namun, padatnya aktivitas dan kurang mantapnya iman, membuat mereka lalai mengerjakan ibadah-ibadah sunnah.
Kelompok pertengahan ini terkadang meninggalkan ibadah salat tarawih dan witir ataupun salat rawatib qabliyah dan badiyah.
Dalam satu hari itu ada rasa malas untuk membaca Al-Qur'an, sehingga target bacaan Al-Qur'an tidak tercapai. Mereka juga full berpuasa, namun ada di antara mereka yang kesehariannya terlalu banyak tidur. Amalan-amalan sunnah Ramadan tidak begitu diperhatikan.
3. Sabiqun Bil Khairat (Berprestasi)
Kelompok ketiga ini disebut dengan istilah orang-orang berprestasi karena memang mereka adalah orang-orang yang berusaha meninggalkan perkara haram dan makruh. Mereka juga meninggalkan sebagian perkara mubah demi kesempurnaan ibadah puasa yang mereka jalankan.
Mereka ini sebenarnya bukan hanya berprestasi di bulan Ramadan, namun di luar Ramadan mereka adalah orang-orang berprestasi. Kerinduan mereka kepada Ramadan membuat mereka selalu berdoa sepanjang bulan kepada Allah.
Akhirnya semoga kita bisa memanfaatkan ramadan tahun ini, sehingga kita akan meraih kemenangan seperti yang dijanjikan Allah. (*)
| Meningkatkan Keakuratan Hasil Sensus Ekonomi 2026 Melalui Ground Check |
|
|---|
| Sleep Training dan Bayi yang tak Lagi Bangun: Saat Tren Parenting Berubah Jadi Peringatan |
|
|---|
| Serba Serbi Kitab Undang Undang Hukum Pidana Baru |
|
|---|
| Pelecehan Seksual di Dunia Pendidikan, Alarm Darurat Degradasi Moralitas Generasi |
|
|---|
| Memaknai Budaya Dalam Konteks yang Berbeda |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Syamsul-Bahri.jpg)