Opini
Perbedaan Penetapan Awal Ramadan: Antara Ijtihad, Sosial dan Politik
Esensi Ramadan bukan tentang siapa yang paling cepat memulai, melainkan seberapa tulus kita menjalani proses penghambaan.
Ringkasan Berita:
- Awal Ramadan 2026 berpotensi beda karena keragaman ijtihad: Rukyatul Hilal (Pemerintah/NU) dan Hisab Wujudul Hilal (Muhammadiyah).
- Fenomena ini memicu fragmentasi sosial, identitas kelompok, hingga memengaruhi aktivitas ekonomi dan kalender kerja nasional.
- Sidang Isbat menjadi simbol legitimasi negara serta mencerminkan relasi dinamis antara ormas Islam dengan otoritas pemerintah.
Oleh : M. Umar Husein
(Penagamat Sosial Keagamaan)
SRIPOKU.COM - Setiap tahun, umat Islam di Indonesia menghadapi dinamika penetapan awal Ramadan. Perbedaan metode antara pemerintah, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), dan organisasi Islam lain sering kali menghasilkan tanggal yang berbeda.
Tahun 2026 pun demikian : pemerintah melalui sidang isbat menetapkan awal Ramadhan berdasarkan rukyat hilal, Muhammadiyah menggunakan hisab wujudul hilal, sementara NU menunggu hasil rukyat meski memiliki perhitungan hisab.
Fenomena ini bukan sekadar perbedaan teknis, melainkan memiliki dampak sosial dan politik yang cukup signifikan.
Pemerintah sendiri menilai perbedaan ini wajar karena adanya keragaman metode, dan menyiapkan mekanisme musyawarah untuk menyikapinya (cahaya.kompas.com/aktual/26B10173620490/awal-ramadhan-2026-berpotensi-berbeda-kemenag-jelaskan-penyebabnya).
Perbedaan Metode Penetapan
1. Rukyatul Hilal (Observasi Bulan Sabit)
-
- Digunakan pemerintah dan NU.
- Berdasarkan hadits Rasulullah ﷺ : “Berpuasalah kalian karena melihat hilal, dan berbukalah kalian karena melihat hilal.” (HR. Bukhari dan Muslim).
2. Hisab Wujudul Hilal (Perhitungan Astronomi)
-
- Digunakan Muhammadiyah.
- Berdasarkan keyakinan bahwa ilmu hisab modern mampu memastikan posisi hilal secara
akurat, sehingga tidak perlu menunggu rukyat.
3. Kombinasi Hisab dan Rukyat
-
- NU menggunakan hisab untuk memprediksi, tetapi tetap menunggu rukyat sebagai konfirmasi.
Ilustrasi faktual : Muhammadiyah menetapkan awal puasa Ramadhan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026, sementara Persatuan Islam (Persis) menetapkan Kamis, 19 Februari 2026.
Dalam kawasan regional Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapore (MABIMS) pun, berpotensi berbeda menetapkan 1 Ramadhan 1447/2026. Antara 18 dan 19 Februari 2026.
Pihak yang menetapkan 18 Februari menggunakan metode hisab sekaligus Kalender Global Tunggal (Muhammadiyah), sementara yang lain menggunakan metode imkan rukyat (Pemerintah, NU).
Dampak Sosial
1. Fragmentasi Umat
Perbedaan awal Ramadhan sering menimbulkan perpecahan kecil di masyarakat. Satu kampung bisa berbeda hari puasa, bahkan dalam satu keluarga ada yang memulai puasa di tanggal berbeda.
| Gonggongan Ujian Persatuan |
|
|---|
| Meningkatkan Keakuratan Hasil Sensus Ekonomi 2026 Melalui Ground Check |
|
|---|
| Sleep Training dan Bayi yang tak Lagi Bangun: Saat Tren Parenting Berubah Jadi Peringatan |
|
|---|
| Serba Serbi Kitab Undang Undang Hukum Pidana Baru |
|
|---|
| Pelecehan Seksual di Dunia Pendidikan, Alarm Darurat Degradasi Moralitas Generasi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/M-Umar-Husein.jpg)