Opini
Ikan Gabus Bukan dari Gabus, Es Gabus Bukan Keturunan SpongeBob SquarePants dari Bikini Bottom
Reformasi perilaku aparat bukan pilihan, melainkan keharusan dalam sebuah negara demokratis yang menjunjung tinggi martabat warganya.
KITA hidup di era ketika informasi melaju lebih cepat daripada kecepatan sepatu boots aparat yang menginjak es gabus di Kemayoran.
Di era digital, kejadian di pinggir jalan bisa berubah menjadi headline nasional dalam hitungan jam, dan satu video viral bisa mengubah persepsi publik tentang apa itu makanan menjadi seolah sebuah misteri bahan berbahaya kelas internasional.
Dalam iklim seperti ini, logika sering tertinggal jauh di belakang emosi dan asumsi. Maka tidak mengherankan bila sebuah jajanan tradisional yang telah ada sejak lama mendadak diperlakukan seperti barang bukti kejahatan berat.
Kasus penjual es gabus di Jakarta menjadi contoh paling nyata bagaimana negara bisa hadir secara berlebihan pada ruang yang salah, namun absen pada ruang yang seharusnya.
Ketika aparat yang seharusnya menjaga keamanan justru tampil seperti kru kartun Bikini Bottom yang terlalu bersemangat melakukan razia, publik pun terhenyak.
Bukan karena takut, tetapi karena geli bercampur prihatin. Geli karena absurditasnya, prihatin karena dampaknya nyata bagi rakyat kecil.
Pertama-tama, mari kita luruskan sesuatu yang seharusnya tidak perlu diluruskan.
Ikan gabus bukan terbuat dari gabus. Demikian pula es gabus tidak berasal dari spons, apalagi dari keluarga SpongeBob SquarePants yang konon lulus cum laude dari Universitas Bikini Bottom.
Es gabus adalah jajanan tradisional yang berbahan dasar tepung hunkwe, air, sirup, dan es. Jajanan ini telah melintasi generasi tanpa pernah tercatat sebagai ancaman kesehatan nasional.
Namun pada satu siang di Kemayoran, es gabus mendadak naik pangkat menjadi tersangka.
Seorang pedagang kecil bernama Sudrajat, yang kesehariannya mendorong gerobak sambil berharap cuaca panas dan pembeli ramai, mendadak harus berhadapan dengan dua oknum aparat. Bukan untuk dibina, bukan untuk diberi edukasi, melainkan untuk dihakimi di tempat.
Laporan masyarakat diterima tanpa filter, asumsi diambil alih oleh emosi, dan verifikasi ditinggalkan di rumah.
Es gabus diremas, diinjak, dilempar, seolah sedang diuji ketahanannya sebagai bahan bangunan, bukan sebagai makanan.
Pada titik ini, publik patut bertanya. Apakah prosedur penanganan laporan masyarakat memang sesingkat itu. Apakah seragam coklat dan hijau memberi kewenangan untuk menggantikan laboratorium pangan.
Apakah logika bisa dicopot bersamaan dengan helm dinas. Yang lebih menyedihkan, semua itu disertai kekerasan fisik terhadap Sudrajat. Ia ditonjok, ditendang, diperlakukan seperti pelaku kriminal kelas berat.
ikan gabus
es gabus
SpongeBob SquarePants
Isni Andriana SE
Dosen Jurusan Manajemen Universitas Sriwijaya
| Sleep Training dan Bayi yang tak Lagi Bangun: Saat Tren Parenting Berubah Jadi Peringatan |
|
|---|
| Serba Serbi Kitab Undang Undang Hukum Pidana Baru |
|
|---|
| Pelecehan Seksual di Dunia Pendidikan, Alarm Darurat Degradasi Moralitas Generasi |
|
|---|
| Memaknai Budaya Dalam Konteks yang Berbeda |
|
|---|
| Opini: Memaknai Budaya Dalam Konteks yang Berbeda |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Isni-1.jpg)