Opini

Transformasi dan Strategi Manajemen UMKM Naik Kelas

UMKM adalah tulang punggung ekonomi. Agar naik kelas, mereka butuh digitalisasi, inovasi, dan mental pejuang — bukan sekadar bertahan, tapi tumbuh.

Dok Pribadi
Siera Syailendra (Dosen/Peneliti/Pemerhati UMKM) 

Mengembangkan mobile app untuk meningkatkan engagement dan loyalitas pelanggan. Serta meningkatkan customer experience dengan seamless touchpoints yakni online dan offline yang terhubung.

Digitalisasi menjadi salah satu strategi utama agar UMKM bisa naik kelas. Laporan Indonesia E-conomy SEA 2024 menunjukkan bahwa e-commerce menjadi pendorong utama ekonomi digital Indonesia. Nilai transaksi e-commerce mencapai lebih dari USD 80 miliar, dengan pertumbuhan yang pesat pasca pandemi.

UMKM harus memanfaatkan platform seperti Tokopedia, Shopee, Lazada, Bukalapak, dan marketplace lokal. Digitalisasi bukan sekadar menjual produk secara online, tetapi juga membangun ekosistem bisnis berbasis data. Hal ini mencakup pencatatan keuangan digital, manajemen inventori, dan Customer Relationship Management (CRM).

Contoh nyata adalah program UMKM Naik Kelas di kota Palembang, yang mendorong pelaku usaha untuk memanfaatkan teknologi digital dalam pemasaran dan manajemen. Program ini berhasil meningkatkan omzet UMKM hingga 30?lam satu tahun.

Selain e-commerce, pemasaran digital menjadi strategi penting. Studi di sejumlah kota menunjukkan bahwa digital marketing efektif meningkatkan penjualan UMKM. Pemasaran digital melibatkan promosi melalui media sosial seperti Instagram, Facebook, TikTok, dan Twitter.

UMKM harus aktif membuat konten kreatif, seperti video produk, foto berkualitas, dan kampanye interaktif. Strategi iklan berbayar (ads) memungkinkan UMKM menargetkan konsumen secara spesifik berdasarkan usia, lokasi, dan minat.

Contoh sukses adalah program Level Up UMKM di wilayah Pulau Jawa, yang mendorong pelaku usaha bertransformasi dari pedagang tradisional menjadi pebisnis profesional dengan memanfaatkan digital marketing. Program ini meningkatkan daya saing UMKM lokal dan memperluas pasar hingga ke tingkat nasional.

Perbaikan Kualitas Produk dan Layanan

Kualitas produk dan layanan menjadi faktor penting agar UMKM bisa naik kelas. Konsumen pasca pandemi lebih berhati-hati dalam memilih produk, sehingga kualitas menjadi penentu utama. Banyak studi menunjukan bahwa peningkatan kualitas produk adalah kunci utama agar UMKM bertahan.

UMKM harus memperhatikan desain produk, kemasan, dan standar kualitas. Selain itu, layanan pelanggan yang ramah dan responsif akan meningkatkan loyalitas konsumen. Dalam era digital, ulasan konsumen di marketplace dan media sosial sangat memengaruhi reputasi bisnis.

Salah satu masalah utama UMKM adalah manajemen keuangan. Bahkan, dari penelitian di India yang publish di jurnal scopus, menunjukkan bahwa mayoritas UMKM di negara tersebut mengalami tantangan utama yakni bagaimana mengatur pembiayaan di semua tahapan bisnisnya.

Pada tingkat terendah yakni,  banyak UMKM mencampur keuangan pribadi dan bisnis, sehingga sulit mengukur keuntungan secara akurat. Pencatatan manual juga menyebabkan keterlambatan dan kesalahan dalam laporan keuangan.

Solusi yang dapat diterapkan adalah literasi keuangan dan penggunaan aplikasi akuntansi digital atau aplikasi keuangan berbasis mobile. Dengan pencatatan digital, UMKM dapat mengelola arus kas, menghitung laba bersih, dan mempersiapkan laporan keuangan untuk akses pembiayaan.

Inovasi dan Mindset Bisnis

Inovasi produk menjadi strategi penting untuk meningkatkan daya saing. Penelitian Elfahmi et al. (2019) dalam jurnal terindeks scopus menunjukkan bahwa inovasi produk meningkatkan daya saing UMKM dengan memperluas penawaran dan memenuhi kebutuhan konsumen.

UMKM harus berani melakukan riset pasar kecil-kecilan, misalnya menyesuaikan tren makanan sehat, produk ramah lingkungan, atau fashion berbasis budaya lokal. Inovasi tidak selalu berarti menciptakan produk baru, tetapi juga memperbaiki produk yang ada agar lebih sesuai dengan kebutuhan konsumen.

Meskipun strategi sudah jelas, UMKM menghadapi berbagai tantangan. Literasi digital masih rendah di kalangan pelaku usaha, akses pembiayaan terbatas, dan persaingan global semakin ketat melalui marketplace. Selain itu, banyak UMKM yang masih memiliki mindset pedagang, bukan pebisnis.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved