Mimbar Jumat
Cuaca Ekstrem & Keteladanan Nabi dalam Menghadapi Bencana Alam
DALAM beberapa pekan terakhir, Indonesia kembali berhadapan dengan rangkaian bencana yang dipicu cuaca ekstrem.
Oleh: Prof. Dr. Hj. Uswatun Hasanah, M.Ag
Dirda LPK Sakinah Kota Palembang
Guru Besar Ilmu Hadis UIN Raden Fatah Palembang
DALAM beberapa pekan terakhir, Indonesia kembali berhadapan dengan rangkaian bencana yang dipicu cuaca ekstrem. Di Jawa Tengah, banjir bandang meluap begitu cepat hingga warga tidak sempat menyelamatkan barang apa pun.
Sumatera Barat, tanah yang biasanya kokoh perlahan retak oleh hujan yang seolah tidak ingin berhenti. Kalimantan Selatan, angin kering membawa bara yang menyala di antara rimbun pepohonan.
Sulawesi Tenggara, angin puting beliung merobek atap rumah warga tanpa memberi peringatan sebelumnya.
Di balik semua itu, ada satu kenyataan yang makin sulit untuk diabaikan bahwa iklim sedang berubah dan manusia merasakan dampaknya dengan sangat dekat.
Padahal, secara geografis Indonesia hidup dalam harmoni dua musim. Angin Monsun Asia–Australia yang mengatur ritme hujan dan kemarau.
Laut tropis Indonesia kaya uap air sehingga mampu menciptakan hujan yang selama ini menjadi rahmat.
Namun beberapa tahun terakhir, ritme ini seolah pecah, hujan datang dalam irama yang tak menentu, kemarau memanas sampai membakar kulit bumi, banjir terjadi di musim kering, dan kekeringan muncul saat ketika seharusnya hujan turun.
Tidak sama di beberapa daerah meskipun berada dalam satu rangkulan tanah pertiwi.
Fenomena ini dapat dijelaskan secara ilmiah bahwa sat ini sedang terjadi pemanasan global, efek regional, dan kerusakan lingkungan.
Sebagai umat beragama ada hal lain yang harus dijaga bahwa cuaca ekstrem bukan hanya gejala fisik yang dapat diamati. Ia adalah percakapan langit yang mengajak manusia kembali menjadi makhluk yang sadar, lembut, dan peduli dengan sekitarnya.
Sirah dan hadis mencatat bahwa Rasulullah juga hidup berdampingan dengan fenomena alam yang keras.
Badai pasir, kekeringan, hujan angin, dan gelap malam yang menegangkan. Namun Rasul menjadikannya bukan sebagai sumber ketakutan, melainkan ruang hening untuk menata hati, melindungi umat, dan memperbaiki masyarakat.
Beberapa sikap Rasul berikut semoga bisa menjadi inspirasi untuk tetap bijak dalam menghadapi situasi.
Pertama Rasul memelihara sikap ilmiah dan waspada terhada cuaca ekstrem. Dalam banyak riwayat dijelaskan Rasulullah SAW tidak pernah meremehkan fenomena alam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Uswatun-1.jpg)