Mimbar Jumat
Belajar Agama Tanpa Guru
Perkembangan teknologi komunikasi benar-benar telah mengubah perspektif, cara berpikir, bahkan gaya hidup manusia era kini.
Oleh: Abdurrahmansyah
Guru Besar UIN Raden Fatah Palembang
Prolog
Perkembangan teknologi komunikasi benar-benar telah mengubah perspektif, cara berpikir, bahkan gaya hidup manusia era kini. Fenomena baru yang dulu tidak pernah terpikirkan, justru sekarang benar-benar terjadi. Inilah yang disebut dengan gejala disruptive yaitu perubahan yang sangat cepat dan mencengangkan.
Perkembangan teknologi artificial intelligence (AI) sungguh telah mengubah cara orang bekerja dan mendapatkan pengetahuan.
Dunia pendidikan terguncang dengan penetrasi teknologi AI ke dalam kelas-kelas pembelajaran. Para pelajar menyelesaikan tugas-tugas akademik tidak lagi dengan membaca setumpuk buku secara tekun.
Perpustakaan semakin hari semakin sepi dan toko-toko buku semakin sunyi. Pengalaman penulis sendiri sebagai pengajar dikagetkan dengan gejala belajar mahasiswa yang tidak lagi membawa dan membaca buku, tetapi cukup dengan membawa smartphone di kelas.
Mereka tidak mencatat materi kuliah dan membuka layar smartphone kalau menjelaskan tugas-tugas presentasi kelas. Bahkan untuk bertanya dengan dosen perihal materi yang dibahas juga mereka harus bertanya pada mesin yang mereka sebut dengan chatGPT.
Manusia era kini nampaknya telah kehilangan tradisi belajar (learning tradition) yang melibatkan proses pemahaman kognitif yang runtut dan sistematis.
Dampak dari gejala ini adalah dangkalnya penguasaan informasi dan tidak dipahaminya pengetahuan secara mendalam dan terstruktur.
Transmisi ilmu pengetahuan menjadi terputus dan siapa saja langsung bisa mengakses sumber-sumber informasi secara online secara tidak terbatas dan mungkin bahkan secara tidak bertangungjawab.
Etika pembelajaran menjadi hilang, guru tidak lagi menjadi sosok yang dianggap penting. Semua orang mendadak bisa menjadi sok mengerti hanya karena belajar dari postingan informasi yang mungkin tidak utuh. Ruang konfirmasi pengetahuan menjadi lenyap dan semua informasi dianggap benar walaupun sangat tidak komprehensif.
Sanad atau mata rantai penyebaran keilmuan agama (Islam) yang dulu sangat dihargai, sekarang luluh lantak karena semua orang belajar agama melalui media sosial.
Belajar Agama Tanpa Guru: Krisis Literasi di Era Medsos
Sejak lama orang mengetahui bahwa salah komponen pendidikan adalah guru. Posisi guru sangat penting dalam pendidikan. Guru berfungsi sebagai pengajar dan sekaligus pendidik bagi para peserta didik.
Gambaran mengenai kompetensi yang dimiliki peserta didik adalah cerminan dari guru yang membimbing proses belajarnya.
Tidak semua orang bisa menjadi guru. Bahkan secara formal regulasi melalui Undang-Undang Guru dan Dosen Nomor 14 tahun 2005 menetapkan empat kompetensi wajib bagi yakni: kompetensi akademik/professional, kompetensi pedagogik, kompetensi sosial, dan kompetensi kepribadian.
Dalam perspektif pendidikan Islam, terdapat beberapa istilah untuk menyebut “guru” seperti mudarris, muallim, muaddib, murabbi, dan mursyid dengan fokus pada pemaknaannya masing-masing.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/abdurrahmansyah2-abdurrahmansyah1-abdurrahmansyah.jpg)