Opini
AI dan Krisis Berpikir Manusia
Penggunaan ChatGPT untuk menulis bisa menurunkan kemampuan berpikir seseorang.
Oleh: Apt. Endang Rahayu
(Pembina Parenting Yayasan Al-Ihsan Sungsang)
SRIPOKU.COM - Studi dari MIT menunjukkan penurunan aktivitas otak sebesar 47 persen ketika seseorang menggunakan ChatGPT untuk menyelesaikan esai.
Studi ini menggambarkan penggunaan ChatGPT untuk menulis bisa menurunkan kemampuan berpikir seseorang.
Dalam studi tersebut dijelaskan bahwa pengamatan dilakukan pada tiga kelompok, masing-masing diberikan tugas untuk membuat esai.
Satu kelompok menggunakan ChatGPT, satu kelompok menggunakan Google dan kelompok terakhir tidak menggunakan tool apa pun.
Hasilnya, kelompok yang menggunakan ChatGPT menunjukkan tulisan yang soulless, tidak ada ide baru, dan hanya mengandalkan ekspresi dari ide yang sama.
Dalam hal aktivitas otak, kelompok tanpa tools menunjukkan konektivitas tinggi yang berkaitan dengan ide, kreativitas, yang menunjukkan rasa ingin tahu dan rasa memiliki terhadap esai mereka.
Hal ini menjadi satu kekhawatiran para ahli di tengah maraknya penggunaan AI dalam proses pendidikan hari ini.
Tak jarang, hari ini kita temukan bahwa orang yang dikenal tidak memiliki kemampuan argumen mampu menuliskan narasi esai yang begitu rapi.
Berbagai AI menawarkan cara menyelesaikan tugas makalah atau esai hanya dalam sekali kedip.
Lantas, hal ini juga menjadi tantangan bagi para pendidik, bagaimana cara terbaik menilai kemampuan pelajar di tengah maraknya penggunaan AI untuk menyelesaikan tugas akademik.
Teknologi AI menjadi buah simalakama yang harus dihadapi generasi hari ini. Penggunaannya mendorong ketergantungan berat manusia kepada AI untuk menyelesaikan tugas belajar.
AI digunakan untuk menggantikan fungsi berpikir dan memproduksi ide. Manusia hanya berperan membuat prompt sedekat mungkin dengan keinginan agar bisa menghasilkan produk yang diperintahkan.
Padahal, penggunaan ChatGPT seharusnya bisa meningkatkan kemampuan kognitif pengguna jika digunakan untuk mendampingi proses critical thinking.
Adapun proses berpikir kritis bisa terjadi jika pengguna bisa mengajukan pertanyaan yang tepat untuk membentuk alur berpikir, merangkum informasi hanya yang dibutuhkan saja, bukan menyerahkan tugas berpikir kepada tools.
Proses berpikir manusia diawali dengan hubungan antarneuron yang saling menyambung ketika seseorang mengalami suatu pengalaman belajar tertentu.
Misalnya, ketika seorang anak baru belajar berjalan, setiap langkah dan jatuhnya di berbagai tempat diikuti dengan sambungan neuron yang makin banyak.
Pengalaman belajar ini yang diwakilkan oleh pengguna kepada ChatGPT sehingga manusia kehilangan momen belajar dan koneksi neuron tidak terjadi.
Dalam konteks kondisi kaum muslimin hari ini, umat Islam mengalami kemunduran berpikir yang amat parah. Bukan hanya tidak mampu berpikir cemerlang, umat tidak bisa berpikir mendalam.
Kedalaman berpikir ini sangat dipengaruhi oleh kepekaan indra, informasi dasar sebelumnya, dan kedalaman memahami fakta.
Penyarahan proses berpikir pada AI membuat manusia malas memikirkan kondisi umat, tidak memiliki empati, dan sangat miskin informasi. Semua pengalaman belajar itu telah diwakili oleh AI semata melalui prompt.
Dalam podcast Diary of a CEO, ahli otak menjelaskan bahwa penggunaan AI yang tidak seharusnya memunculkan perilaku yang cenderung responsif.
Ini menyebabkan manusia cenderung mengambil pilihan yang paling mudah, mudah termakan hoaks, dan tidak memiliki kemampuan problem solving.
Contoh yang diangkat adalah dalam hal tingginya angka obesitas di Amerika karena konsumsi burger.
Meski mayoritas masyarakat memahami bahwa brokoli bisa menurunkan angka obesitas, mayoritas masyarakat Amerika mengonsumsi burger karena alasan-alasan yang sangat sepele.
Menurutnya, hal ini menggambarkan bahwa mengetahui informasi tidak menjamin seseorang mengambil keputusan yang benar sesuai dengan informasi tersebut.
Kekacauan berpikir akan mengantarkan pada perilaku-perilaku manusia yang tidak didasarkan pada proses berpikir yang benar. Hal ini tentu menjadi permasalahan yang besar, mengingat peradaban dibangun dari proses berpikir.
Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani menyebutkan dalam kitab Nizhamul Islam bahwa: "Bangkitnya manusia tergantung pada pemikirannya tentang hidup, alam semesta, dan manusia, serta hubungan ketiganya dengan sesuatu yang ada sebelum kehidupan dunia dan yang ada sesudahnya."
Maka, memperbaiki kondisi umat sangat berkaitan dengan kemampuan dan kemauan umat dalam berpikir, dan itulah yang akan menjadi bekal umat memilih perilaku yang tepat dalam kehidupannya.
Teknologi: Antara Kemajuan dan Kemunduran Peradaban
Perkembangan AI dan revolusi industri merupakan bagian dari perkembangan teknologi yang tidak bisa ditunda atau dicegah.
Perkembangan ini bisa menjadi hal yang positif jika digunakan untuk kebaikan, sebab pada dasarnya AI adalah alat yang bebas hukum.
Sama halnya dengan pisau, AI adalah alat yang bisa digunakan untuk memudahkan tugas manusia atau justru menjadi masalah bagi manusia, bergantung pada bagaimana dia digunakan.
AI adalah alat untuk membantu manusia melakukan aktivitas berpikir. AI bisa membantu mengumpulkan informasi yang relevan dan memahami fakta lebih mendalam.
AI seharusnya digunakan untuk meningkatkan pengalaman belajar, melakukan deep learning, sehingga manusia mampu menghubungkan berbagai hal baru hingga tercetuslah berbagai ide kreatif yang bermanfaat.
Di tengah kemajuan teknologi yang masif, di satu sisi memberikan kemudahan yang luar biasa, tetapi di sisi lain kemudahan ini menumpulkan otak, hingga masyarakat bergerak kepada kemunduran peradaban.
Inilah pentingnya adanya ideologi yang sahih untuk mengatur penggunaan alat.
Dalam podcast Diary of a CEO, dr. Daniel turut mempertanyakan chatbot buatan Elon Musk, Grok, yang menyajikan pengalaman sensual pengguna dengan karakter wanita dalam chatbot itu.
Ia bertanya, "Kenapa Elon Musk harus membuat aplikasi itu?" Ini merupakan pertanyaan penting yang jawabannya sangat berhubungan dengan pandangan hidup pembuatnya.
Bayangkan jika manusia akhirnya lebih banyak menjalin hubungan dengan AI dibanding dengan manusia, tentu ada dampaknya bagi masyarakat sosial.
Dalam Islam, teknologi hanya akan digunakan untuk memudahkan ibadah kepada Allah, bukan justru menjerumuskan manusia pada maksiat dan kehinaan.
Solusi Islam dalam Menghadapi AI
Dalam hal penggunaan personal, kita perlu menggunakan teknologi dengan bijak.
ChatGPT mungkin bisa membantu mempercepat selesainya tugas atau membuat kita tampak paham terhadap satu hal yang kita tuliskan. Tetapi ketika proses berpikir ini kita wakilkan pada alat, apa lagi yang dimiliki manusia? Bukankah Allah menciptakan kita berbeda dengan hewan dalam hal akal?
Jadi, ChatGPT bisa digunakan untuk membantu kita belajar. Manusia perlu berinteraksi dengan AI, melakukan tanya jawab, mengetes jawaban kita, melakukan deep learning dan memecahkan masalah.
Sekali lagi, AI tidak seharusnya menggantikan otak manusia untuk berpikir.
Secara sistemis, kemajuan teknologi perlu dikontrol oleh kebijakan negara. Contoh sederhananya adalah situs judi online yang seakan tidak mampu dicegah pertumbuhannya.
Butuh negara yang berideologi untuk memunculkan political will penguasa dalam menyelesaikan masalah yang ditimbulkan teknologi. (*)
| Dari Kayuagung ke Moskow, Perjalanan Anak Sumsel Mengubah Nasib di Rusia |
|
|---|
| Menziarahi Reruntuhan Makna: Ketika Sejarah "Dikhianati" Demi Seremonial Belaka |
|
|---|
| Hati-hati dengan Diskon! |
|
|---|
| Digitalisasi Perbankan: Efisiensi Operasional atau Ancaman Keamanan Siber? |
|
|---|
| IHSG Awal 2026 Merosot Tajam: Mengapa Ini Justru Momentum Emas bagi Investor Jangka Panjang? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Apt-Endang.jpg)