Opini
Kopi dan Rokok Si Pemersatu Bangsa dan Perannya dalam Kemiskinan
Mari kita renungkan bersama secara mendalam sedalam isapan rokok kita dan bila belum menemukan solusi tenangkan hati dengan secangkir kopi.
Rokok secara umum biasanya dibedakan menjadi 2 yaitu rokok kretek dan filter, padahal rokok filter sejatinya juga merupakan rokok kretek. Rokok kretek sendiri merupakan campuran tembakau dan cengkeh kering yang saat dibakar berbunyi kretek-kretek, hingga akhirnya jenis rokok tersebut disebut rokok kretek.
Rokok kretek dibedakan menjadi 2 jenis yaitu yang diproduksi secara manual yang disebut Sigaret Kretek Tangan (SKT) dan Sigaret Kretek Mesin (SKM) yang diolah dengan menggunakan mesin. Rokok SKM pun dibagi 2 yaitu Sigaret Kretek Mesin Full Flavor (SKMFF) dan Sigaret Light Mild (SKMLM).
Kedua komoditi pemersatu bangsa ini menarik untuk dilihat perannya dalam kemiskinan. Berapa besar kontribusi keduanya dalam Garis Kemiskinan (GK)?
Baca juga: Harga Sawit di Banyuasin Masih Tinggi, Perkilonya Dihargai Rp 3.354.71 Per Kilogram
Berdasarkan data BPS pada Maret 2025, di wilayah perkotaan kopi bubuk dan kopi instan (sachet) memiliki kontribusi sebesar 2,13 persen, sedangkan di wilayah perdesaan kontribusinya sebesar 2,17 persen.
Kontribusi sekitar 2 persen tersebut telah menempatkan kopi dalam Top Ten kontributor Garis Kemiskinan Makanan (GKM).
Berbeda dengan kopi, rokok memiliki kontribusi yang cukup besar dalam GKM, yaitu sebesar 11,99 persen di perkotaan dan 10,98 persen di perdesaan. Kontribusinya sudah masuk Top Three di GKM, hanya kalah dari beras yang merupakan makanan pokok masyarakat Indonesia.
Cukup mencengangkan walau secara historis kontribusi rokok terhadap kemiskinan sudah terdeteksi sejak lama. Rokok sendiri dianggap sebagian orang sebagai pilihan yang tak hanya mahal tetapi juga merugikan.
Rokok yang kandungannya bersifat adiktif dan minim nilai nutrisi dianggap sebagai konsumsi penuh kesia-siaan, bahkan memiliki dampak buruk bagi kesehatan.
Pemerintah telah berusaha menekan konsumsi rokok di masyarakat dengan menaikkan cukai rokok, namun alih-alih berhenti atau mengurangi konsumsi rokok, harga rokok yang semakin melambung hanya membuat para “ahli hisap” atau perokok untuk hijrah dari rokok bermerek ke rokok yang harganya lebih murah atau dikenal dengan istilah downtrading.
Kenaikan harga rokok yang semakin tinggi tidak mempengaruhi minat beli masyarakat.
Kopi walau kontribusinya tidak terlalu besar namun diperkirakan akan semakin meningkat seiring dengan fungsinya sebagai kebutuhan sosial atau gaya hidup.
Menjamurnya coffee shop membuat banyak orang mulai menikmati kopi dengan berbagai variannya. Biasanya hanya menikmati kopi hitam buatan istri, sekarang mulai beralih ke Americano di coffee shop.
Kaum hawa yang dulu juga menganggap kopi hitam adalah minuman dukun, mulai mencoba berbagai jenis kopi di coffee shop mulai dari caramel macchiato, coffee latte, mocha latte, matcha latte, coffe brown sugar dan lain-lain.
Kedua komoditi non pokok tersebut mau tidak mau, suka tidak suka, telah menjadi komoditi penting yang mempengaruhi pengeluaran rumah tangga.
Masyarakat harus menyadari bahwa sekecil apa pun pengeluaran, apalagi bila pengeluaran tersebut menyangkut komoditi yang tidak pokok akan berkontribusi pada kemiskinan.
| Sleep Training dan Bayi yang tak Lagi Bangun: Saat Tren Parenting Berubah Jadi Peringatan |
|
|---|
| Serba Serbi Kitab Undang Undang Hukum Pidana Baru |
|
|---|
| Pelecehan Seksual di Dunia Pendidikan, Alarm Darurat Degradasi Moralitas Generasi |
|
|---|
| Memaknai Budaya Dalam Konteks yang Berbeda |
|
|---|
| Opini: Memaknai Budaya Dalam Konteks yang Berbeda |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Rillando-Maranansha-Noor1-Rillando-Maranansha-Noor.jpg)