Breaking News

Pilkada Sumsel 2024

Program Mawardi Yahya Maju Gubernur Sumsel Dapat Kritik Pengamat, Balik ke Nol Lagi

Program bakal calon gubernur Sumsel Mawardi Yahya merealisasi pelabuhan Samudera di Sumsel mendapatkan kritik dari pengamat.

Penulis: Yandi Triansyah | Editor: Yandi Triansyah
Kolase
Bakal calon gubernur Sumsel Herman Deru 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Program bakal calon gubernur Sumsel Mawardi Yahya merealisasi pelabuhan Samudera di Sumsel mendapatkan kritik dari pengamat.

Mawardi Yahya dinilai akan kembali ke nol lagi, sebab Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Api-api sudah dicabut oleh presiden.

"Kembali ke nol lagi, karena KEK nya saja sudah dicabut presiden," kata pengamat politik Dr Ardiyan Saptawan, seperti dikutip dari YouTube Tamu Weni, Jumat (29/3/2024).

Sebagai informasi, Mawardi Yahya dalam satu kesempat wawancara di kanal YouTube Weni Ramdiastuti, ia akan melanjutkan pembangunan pelabuhan Samudera Tanjung Api-Api (TAA).

Pelabuhan Samudera kata Mawardi Yahya menjadi mimpinya selama ini untuk mewujudkannya.

Namun pembangunan pelabuhan Samudera ini dinilai bukan terobosan yang baru.

"Harus ada loncatan, harusnya dia harus melakukan terobosan terobosan baru jangan cara-cara yang lama, cara yang lama bukan salah tapi sudah terlambat," kata dia.

Baca juga: Mawardi Yahya Tak Masalah Sang Adik Ridho Yahya Maju Pilgub Sumsel : Kalau Bisa Kami Berdua Maju

Menurut dia, sudah lama wacana soal TAA dilakukan, namun program tersebut tidak terealisasi.

"Apakah itu bisa mengangkat dalam waktu lima tahun ? saya rasa sulit," kata Ardiyan.

Ardiyan menilai pembangunan TAA harus dikembangkan dengan KEK. Tapi masalahnya KEK nya saja sudah dicabut oleh presiden.

Sehingga ia menyarankan pendekatan pembangunan-pembangunan di Sumsel harus diubah.

"Dikhawatirkan orang-orang lama apakah ada terobosan terobosan baru ? sehingga harus berpasangan dengan orang-orang baru supaya ada terobosan baru," kata dia.

Sebab jika pendekatan pembangunan dilakukan secara tradisonal maka yang terjadi pembangunan yang terjadi merupakan pembangunan rutin saja tidak ada yang lain.

Sementara pengamat politik Prof Febrian mengungkapkan, program TAA akan kembali ke nostalgia.

"Kok maunya kita itu kembali ke zaman lama," kata Prof Febrian.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved