Opini
Nation Jurnalism
Nation Jurnalism yakni cara berpikir jurnalis yang terpanggil untuk mengawasi, mengawal, sampai menuntaskan persoalan bangsa dari akar pemasalahannya
Oleh: Siera Syailendra
(Anggota Aliansi Jurnalis Independen Palembang)
SRIPOKU.COM - Nation Jurnalism atau Jurnalisme Kebangsaan bukanlah corong pemerintah. Jurnalisme ini lahir dengan pemikiran kritis dan konstruktif mengawal kemajuan bangsa.
Nation Jurnalism yakni cara berpikir jurnalis yang terpanggil untuk mengawasi, mengawal, sampai menuntaskan persoalan bangsa dari akar pemasalahannya dimulai dari hal yang sangat mendasar. Outputnya publik benar-benar terlayani dan masalah bangsa benar-benar tuntas.
Saya masih ingat betapa dahulu saya memandang jurnalisme sebagai pilar demokrasi, kekuatan yang mampu mengungkap kebenaran, dan alat untuk mendorong perubahan.
Namun, semakin lama saya berkecimpung di dunia ini, semakin saya sadar bahwa jurnalisme telah bergeser dari misi awalnya. Alih-alih menjadi penjaga kepentingan publik, banyak media justru terjebak dalam pusaran sensasi, konflik, dan eksploitasi aib.
Saya pernah terlibat dalam liputan tentang kemiskinan di sebuah desa terpencil. Warga di sana hidup tanpa akses air bersih, listrik, dan pendidikan yang layak.
Saat itu, tim saya hanya membuat laporan singkat tentang "kegetiran hidup" mereka, tanpa pernah menindaklanjuti dengan pertanyaan: Bagaimana solusinya? Beberapa minggu kemudian, berita itu tenggelam, digantikan oleh skandal artis atau konflik politik. Desa itu tetap saja terlupakan.
Adu Keriuhan dan Eksploitasi Aib
Hari ini, saya melihat jurnalisme telah terperangkap dalam beberapa pola yang mengkhawatirkan, media berlomba-lomba membuat judul provokatif untuk mendulang klik.
Kasus korupsi, perselingkuhan publik figur, atau konflik elite politik diumbar tanpa kedalaman analisis.
Saya sendiri pernah diminta oleh editor untuk "memperpanas" sebuah berita dengan narasi yang sebenarnya tidak substansial, hanya agar viral.
Banyak media gemar mengungkap kebobrokan seseorang atau korporasi, tetapi berhenti di sana. Misalnya, ketika sebuah perusahaan terbukti mencemari sungai, pemberitaan hanya fokus pada kesalahannya, tanpa mengejar pertanyaan: Bagaimana memperbaikinya? Apakah ada teknologi atau kebijakan yang bisa mencegah ini terulang?
Belum lagi persoalan banjir dan kotornya sungai-sungai yang ada. Pemberitaan hanya sebatas peristiwa. Toh, banjir masih saja terus berlangsung, parit dan sungai masih saja kotor dan jorok. Begitu terus terulang setiap tahunnya.
Isu-isu seperti agama, suku, atau politik dibingkai secara hitam-putih, memicu amarah publik tanpa pernah mengajak diskusi solutif.
| Memahami Mewujudkan Kodifikasi dan Univikasi Hukum Pidana. |
|
|---|
| Keberhasilan bukan Kecepatan, Melainkan Konsistensi dalam Berproses, Sebuah Renungan di Awal 2026 |
|
|---|
| OPINI: Stres, Kopi, Begadang: Tiga Kebiasaan Kecil yang Diam-diam Merusak Jantungmu |
|
|---|
| OPINI: Diskon Listrik Masih Dinanti Masyarakat Sumsel |
|
|---|
| Langkah Menuju Keadilan Pajak untuk Pedagang Online dan Offline |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Siera1.jpg)