Opini
Nation Jurnalism
Nation Jurnalism yakni cara berpikir jurnalis yang terpanggil untuk mengawasi, mengawal, sampai menuntaskan persoalan bangsa dari akar pemasalahannya
Banyak kasus besar—seperti skandal korupsi atau pelanggaran HAM—diliput secara intensif di awal, lalu ditinggalkan begitu saja. Publik dibiarkan bertanya: Apa kelanjutannya? Apakah ada perubahan? Toh, korupsi masih saja berlangsung.
Di tengah keputusasaan ini, saya menemukan harapan dalam Nation Jurnalism. Ini bukan sekadar pemberitaan tentang masalah, tetapi upaya untuk mengeksplorasi bagaimana masalah itu diatasi di tempat lain, atau bagaimana seharusnya kita bergerak ke depan.
Nation Jurnalism adalah pendekatan pelaporan yang mengungkap respons terhadap masalah – Tidak hanya mengeluh, tetapi mencari contoh nyata penyelesaian. Kritis terhadap solusi – tidak asal memuji, tetapi mengevaluasi efektivitasnya. Memberi inspirasi – Menunjukkan bahwa perubahan mungkin terjadi.
Contoh nyata yang saya alami, beberapa tahun lalu, saya meliput kasus stunting di sebuah kabupaten. Alih-alih hanya menyoroti angka-angka malnutrisi, tim saya mencari daerah lain yang berhasil menurunkan stunting.
Kami menemukan sebuah desa yang sukses melalui program pendampingan ibu hamil dan kerja sama dengan puskesmas. Liputan kami tidak hanya menyajikan masalah, tetapi juga peta jalan bagi daerah lain.
Hasilnya? Pemerintah setempat mengadopsi model tersebut, dan dalam dua tahun, angka stunting turun signifikan. Inilah kekuatan jurnalisme solusi dalam bingkai kebangsaan yang besar.
Perlu Hasil Kongkret Bagi Bangsa
Masyarakat sudah lelah dengan berita negatif tanpa hasil kongkrit bagi bangsa. Publik jenuh dengan pemberitaan yang membuat mereka merasa tidak berdaya.
Jurnalisme kebangsaan memberi harapan dan energi untuk bertindak.Ketika media tidak hanya mengkritik, tetapi juga menawarkan solusi, pemerintah dan korporasi lebih terdorong untuk bertindak.
Dengan fokus pada solusi, media bisa mengurangi polarisasi dan mengalihkan perhatian pada hal-hal yang mempersatukan.
Meski ideal, jurnalisme solusi tidak mudah. Saya sendiri pernah menghadapi tantangan seperti tekanan bisnis media – Liputan solusi sering dianggap kurang "seksi" dibanding skandal. Belum lagi keterbatasan sumber daya, membutuhkan riset mendalam, tidak sekadar liputan instan.
Secara pelaksanaanya, memang jurnalis tidak berwenang menyelesaikan masalah bangsa secara langsung. Ya, tugas eksekusi adalah domain pemerintah dan pemangku kebijakan.
Tapi...Jurnalis memiliki kewenangan strategis untuk MEMAKSAKAN penyelesaian masalah hingga tuntas melalui mekanisme unik yang tak dimiliki aktor lain.
Karena masalah bangsa seringkali tidak selesai BUKAN karena ketiadaan solusi, melainkan karena lemahnya tekanan publik pada pengambil kebijakan, rendahnya akuntabilitas atas janji-janji solusi, minimnya pengetahuan tentang alternatif solusi yang terbukti berhasil.
Di sinilah jurnalis berperan sebagai "katalisator solusi" melalui tiga senjata khas jurnalis yakni Agenda Setting, Accountability Pressure dan Knowledge Bridging.
| Memahami Mewujudkan Kodifikasi dan Univikasi Hukum Pidana. |
|
|---|
| Keberhasilan bukan Kecepatan, Melainkan Konsistensi dalam Berproses, Sebuah Renungan di Awal 2026 |
|
|---|
| OPINI: Stres, Kopi, Begadang: Tiga Kebiasaan Kecil yang Diam-diam Merusak Jantungmu |
|
|---|
| OPINI: Diskon Listrik Masih Dinanti Masyarakat Sumsel |
|
|---|
| Langkah Menuju Keadilan Pajak untuk Pedagang Online dan Offline |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Siera1.jpg)