Opini
Perempuan Daerah: Tak Terlihat, Tapi Tak Tergantikan
Jika pembangunan hanya menghitung jalan dan gedung, tapi melupakan perempuan yang menopangnya, maka negeri ini hanya sedang membangun ketimpangan.
PEREMPUAN memainkan peran penting dalam setiap lapisan kehidupan mulai dari keluarga, masyarakat, hingga panggung global.
Dalam perjalanan sejarah, mereka kerap berada di garis belakang, dibatasi oleh konstruksi sosial, budaya, dan norma patriarki.
Namun, seiring dengan berkembangnya zaman dan meningkatnya kesadaran akan kesetaraan gender, posisi Perempuan mulai bergeser kearah yang lebih setara dan berdaya.
Di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia, Perempuan kini semakin menunjukan eksistensinya di bidang pendidikan, ekonomi, politik, dan teknologi.
Meski demikian, tantangan belum sepenuhnya sirna. Diskriminasi, kekerasan berbasis gender, serta keterbatasan akses terhadap hak-hak dasar masih menjadi persoalan yang harus diselesaikan bersama.
Perempuan bukan hanya setengah dari populasi dunia, tetapi juga penentu masa depan bangsa.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, meskipun angka partisipasi perempuan dalam pendidikan dan dunia kerja mengalami peningkatan, ketimpangan gender tetap terlihat nyata dalam akses terhadap kepemimpinan, pendapatan, hingga perlindungan sosial.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, jumlah penduduk perempuan di Indonesia pada tahun 2024 diperkirakan mencapai sekitar 139.415.2000 jiwa, atau sekitar 49,5 persen dari total populasi yang berjumlah 281.603.8000 jiwa.
Di Sumatera Selatan, jumlah penduduk perempuan pada tahun 2024 diperkirakan sekitar 4.338.2000 jiwa, sekitar 49,1?ri total penduduk Sumatera Selatan tahun 2024.
Selaras dengan proporsi perempuan di Indonesia dan Provinsi Sumatera Selatan, di Kabupaten Ogan Komering Ulu mencapai sekitar 187 ribu jiwa atau sekitar 48,80 persen dari total penduduk di Kabupaten Ogan Komering Ulu.
Oleh karena itu, kesetaraan gender dalam berbagai aspek kehidupan seperti pendidikan, pekerjaan, dan kepemimpinan masih menjadi tantangan yang menarik untuk dibahas.
Berdasarkan data Indeks Pembangunan Gender (IPG) Nasional menunjukan tren positif, yakni mencapai 92,46 persen.
Angka ini menunjukan bahwa pencapaian pembangunan manusia Perempuan sudah mendekati laki-laki.
Namun, masih ada celah signifikan di daerah, terutama di Kabupaten Ogan Komering Ulu, nilai IPG di Kabupaten Ogan Komering Ulu mencapai angka 94,80.
Dalam tiga tahun terakhir, Indeks Pembangunan Gender (IPG) di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) menunjukan tren peningkatan yang konsisten, (data sesuai gambar).
Peningkatan data Indeks Pembangunan Gender (IPG) ini mencerminkan perbaikan dalam kesetaraan gender di berbagai aspek Pembangunan, seperti Kesehatan, Pendidikan, dan Ekonomi.
Meskipun demikian, nilai Indeks Pembangunan Gender (IPG) yang belum mencapai 100 menunjukkan bahwa masih terdapat kesenjangan antara perempuan dan laki-laki dalam hal pembangunan manusia.
Hal ini menandakan perlunya upaya berkelanjutan untuk meningkatkan akses dan kesempatan yang setara bagi Perempuan di Kabupaten OKU.
Sementara itu, Indeks Ketimpangan Gender (IKG) masih menunjukan ketimpangan yang mengkhawatirkan.
Kabupaten OKU memiliki nilai IKG sekitar 0,66, yang mencerminkan masih terbatasnya keterlibatan perempuan dalam dunia kerja, politik, dan pengambil keputusan.
Ketimpangan ini tidak hanya merugikan perempuan, tetapi juga memperlambat kemajuan bangsa. Penelitian menunjukan bahwa negara dengan kesetaraan gender yang tinggi cenderung memiliki pertumbuhan ekonomi dan stabilitas sosial yang lebih baik. Artinya, memperjuangkan keadilan gender bukan hanya soal moralitas tetapi juga strategi pembangunan.
Keterwakilan perempuan dalam lembaga legislatif dan eksekutif menunjukkan stagnasi. Berdasarkan data Badan Pusat Stastistik, di level Tingkat Provinsi Sumatera Selatan sebesar 18 anggota DPRD dari 75 total jumlah anggota DPRD yang terlibat dalam legislatif, sementara itu di Kabupaten Ogan Komering Ulu terdapat Perempuan yang ikut terlibat sebagai anggota legislatif, hal ini menunjukan bahwa kepentingan perempuan terwakili dalam proses pengambilan keputusan publik.
Dari total 35 anggota DPRD OKU, hanya satu orang perempuan yang terpilih. Jumlah ini setara dengan sekitar 2,86 persen dari total anggota DPRD OKU, jauh di bawah target afirmatif 30 persen keterwakilan perempuan yang ditetapkan oleh undang-undang.
Hal ini lah yang mencerminkan tantangan yang dihadapi dalam upaya meningkatkan partisipasi politik perempuan di tingkat daerah. Penelitian menunjukkan bahwa meskipun ada kebijakan afirmatif, perempuan masih menghadapi berbagai hambatan dalam dunia politik, termasuk stereotip gender dan kurangnya dukungan struktural.
Statistik menunjukkan adanya peningkatan partisipasi perempuan dalam pendidikan. Angka Partisipasi Sekolah (APS) untuk perempuan usia 16–18 tahun 2024 lebih tinggi 3,52 poin sebesar 76,13 daripada Angka Paritisipasi Sekolah (APS) untuk laki-laki sebesar 72,61.
Namun, disparitas masih terlihat di jenjang pendidikan tinggi, terutama di wilayah pedesaan atau tertinggal, di mana perempuan lebih sering terhambat oleh pernikahan dini dan beban domestik. Dimana APS perempuan untuk perkotaan lebih tinggi 6,88 poin sebesar 78,87 dibanding APS Perempuan di pedesaam sebesar 71,99.
Berdasarkan data Statistik dilihat dari Ketenagakerjaan, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan pada tahun 2024 berada di kisaran 56 persen, jauh lebih rendah dibanding laki-laki yang mencapai sekitar 84 persen. H
al ini mencerminkan adanya hambatan struktural dan budaya, seperti beban ganda perempuan dalam rumah tangga dan akses yang terbatas terhadap pekerjaan formal.
Angka-angka ini membuktikan bahwa perempuan di Kabupaten Ogan Komering Ulu telah mengalami kemajuan dalam berbagai sektor, tetapi kesenjangan gender masih nyata.
Data menjadi alat penting untuk merancang kebijakan yang responsif gender dan mempercepat tercapainya kesetaraan. Perempuan bukan hanya objek statistik, tetapi subjek aktif pembangunan nasional. Angka-angka tidak pernah bohong namun terlalu sering mereka diabaikan.
Di balik setiap data tentang rendahnya Indeks Pembangunan Gender (IPG) atau tingginya Indeks Ketimpangan Gender (IKG) di daerah, ada wajah-wajah Perempuan yang tetap berdiri tegak meski dibatasi akses, kesempatan, dan pengakuan.
Mereka adalah guru yang berjalan berkilo-kilo, bidan di pelosok tanpa fasilitas, petani yang menyangga ekonomi keluarga, tapi tak masuk dalam kebijakan.
Jika pembangunan hanya menghitung jalan dan gedung, tapi melupakan perempuan yang menopangnya, maka negeri ini hanya sedang membangun ketimpangan yang lebih kokoh.
Saatnya data dijadikan dasar untuk bergerak, bukan hanya dibaca lalu dilupakan. Perempuan di daerah bukan sekedar angka dalam laporan, mereka adalah kekuatan. Tugas kita adalah memastikan angka-angka itu berubah menjadi bukti keberdayaan, bukan peringatan ketidakadilan.
Perempuan bukan hanya pelengkap dalam pembangunan, mereka adalah kekuatan yang mampu membawa perubahan besar. Saat perempuan diberi kesempatan yang sama, mereka bisa menjadi guru yang menginspirasi, pemimpin yang bijak, wirausaha yang tangguh, dan pengambil keputusan yang visioner.
Angka-angka statistik sudah berbicara, tapi kenyataannya masih banyak perempuan yang belum mendapat ruang yang layak untuk berkembang. Kita semua punya peran untuk mengubah ini.
Mulai dari lingkungan paling kecil, di lingkungan keluarga, sekolah, tempat kerja, sampai ruang-ruang pengambilan keputusan.
Memberikan dukungan kepada perempuan bukan soal belas kasihan, tapi soal keadilan. Karena kemajuan tidak akan pernah benar-benar tercapai jika hanya separuh masyarakat yang diberi ruang untuk tumbuh.
Perempuan adalah sekolah pertama bagi anak-anak. Perempuan juga pondasi yang menyokong kekuatan sebuah keluarga. Perlu sentuhan perempuan untuk menciptakan bangsa yang pintar dan kuat.
Mari kita buka lebih banyak pintu untuk perempuan, beri mereka panggung yang setara, dan dengarkan suara mereka. Saat perempuan bisa berdiri tegak tanpa dibatasi, seluruh masyarakat akan ikut melangkah maju.
Sekarang waktunya bergerak bersama, karena perempuan yang berdaya adalah kunci untuk masa depan yang lebih baik. (*)
Simak tulisan opini lainnya di sripoku.com dengan mengklik Google News.
| Sleep Training dan Bayi yang tak Lagi Bangun: Saat Tren Parenting Berubah Jadi Peringatan |
|
|---|
| Serba Serbi Kitab Undang Undang Hukum Pidana Baru |
|
|---|
| Pelecehan Seksual di Dunia Pendidikan, Alarm Darurat Degradasi Moralitas Generasi |
|
|---|
| Memaknai Budaya Dalam Konteks yang Berbeda |
|
|---|
| Opini: Memaknai Budaya Dalam Konteks yang Berbeda |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Arima.jpg)