Opini
Menumbuhkan Kebiasaan Stecu Pada Mahasiswa
Perilaku stecu pada mahasiswa bukan hanya ditumbuhkan, namun harus dapat dirawat agar terus lestari.
Menurut saya, mahasiswa harus kritis dan tidak menerima begitu saja apa yang disampaikan oleh dosennya. Ia harus seperti yang disampaikan oleh Rene Descartes (1596-1650), “Cogito ergo sum” atau “saya berpikir, maka saya ada” Diceritakan bahwa Descartes atau yang dikenal juga sebagai bapak filsuf modern, meragukan berbagai hal untuk mencari landasan pengetahuan yang tidak dapat diragukan lagi.
Pada ujung keraguannya, dia menemukan sesuatu yang tidak dapat lagi diragukan lagi yaitu fakta bahwa ia sedang meragukan atau berpikir.
Mahasiswa harus bisa meragukan banyak hal, gunakan dialektika Hegel untuk mengujinya. GWF Hegel (1770-1831), seorang filsuf besar dari Jerman membangun sistem filsafatnya yang terdiri dari tesis, antithesis dan sintesis.
Misalnya saya mempunyai tesis yaitu “cara belajar terbaik adalah melalui tatap muka”, nah tantang tesis saya dengan mengajukan antithesis yaitu “belum tentu, belajar tidak harus tatap muka, penggunaan teknologi membuat belajar lebih fleksibel” Kedua pertentangan tersebut kemudian disatukan menjadi pemahaman baru yang lebih tinggi dan menyeluruh menjadi “kombinasi pembelajaran tatap muka dan non tatap muka merupakan cara terbaik untuk belajar” itulah sintesis.
Mahasiswa juga jangan malu dan takut dalam mengeluarkan pendapat. Merasakan ‘sakit’ ketika idenya ditolak, itu biasa, dan begitulah resiko dalam melahirkan pengetahuan.
Merujuk pada cerita Socrates (hidup sekitar 470 SM–399 SM), dia memposisikan diri sebagai bidan yang membantu kelahiran bayi pengetahuan. Seseorang akan berdarah-darah dan bersusah payah merasakan penderitaan dalam proses kelahiran. Namun, tentu tak terbayangkan rasa bahagianya ketika bayi pengetahuan tersebut telah dilahirkan.
Stay curious atau stecu harus dimulai dari diri sendiri, dari sekarang, dan saya berharap ia dapat menginfeksi orang lain. Saya memperhatikan terkadang budaya kita secara umum kurang mendukung.
Jika ada seorang mahasiswa yang lebih sering menghabiskan waktu di perpustakaan atau ruang baca untuk mengulang kembali pelajaran yang diterimanya tadi akan dianggap aneh. Padahal menurut saya, perpustakaan atau ruang baca seharusnya menjadi habitat alami dari seorang mahasiswa selain ruang kelas.
Dorongan atau hasrat ingin tahu tersebut jangan berhenti pada niat, namun harus menjadi perilaku. Jika perilaku tersebut diulang-ulang maka dia akan menjadi sebuah kebiasaan. Saya memperhatikan sangat jarang sekali menemui mahasiswa yang memiliki kebiasaan mencari tahu topik pembelajaran sebelum pembelajaran tersebut dimulai.
Di sini terlihat bahwa hasrat ingin tahu yang rendah akan sulit untuk menghasilkan perilaku. Coba, berapa banyak dari mahasiswa yang memiliki kebiasaan membaca materi perkuliahan sebelum perkuliahan dimulai? Apakah anda salah satunya?
Perilaku stecu pada mahasiswa bukan hanya ditumbuhkan, namun harus dapat dirawat agar terus lestari. Ibarat sebuah tanaman, ia harus terus disiram dengan berbagai nutrisi pengetahuan agar tumbuh maksimal. Selain itu, jenis mahasiswa yang memiliki inisiatif belajar sendiri harus dibudidayakan agar populasinya bertambah.
Pada akhirnya tradisi stecu bisa menjadi kebiasaan kolektif, sehingga rasanya tidak aneh lagi melihat mahasiswa lebih sering membaca buku teks dibanding status sosmed.
Naskah ini ditulis pada bulan Mei, bulan dimana seorang tokoh bernama Suwardi Suryaningrat atau yang kemudian dikenal sebagai Ki Hadjar Dewantara dilahirkan. Tanggal kelahirnya juga diperingati sebagai hari Pendidikan nasional (Hardiknas) dan dirayakan untuk mengingat kembali filosofi nilai perjuangan beliau dalam menegakkan fondasi pendidikan di Indonesia.
Menurut saya, stecu bisa menjadi kebiasaan baik yang harus dilakukan oleh semua aktor pendidikan, terutama mahasiswa. Semoga tulisan ini dapat dibaca dan dipahami dengan baik oleh para mahasiswa.
Boleh setuju, boleh juga tidak setuju dengan tulisan ini. Seperti lirik lagunya, saya akan tutup tulisan ini dengan kalimat “Kalau memang cocok bisa diambil hikmah” Selamat hari Pendidikan Nasional! (*)
* Mohammad Eko Fitrianto adalah dosen tetap pada Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen pada Universitas Sriwijaya. Jenjang pendidikan S1 dan S2 ditempuh di Universitas Sriwijaya, dan jenjang pendidikan S3 pada Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada. Bidang ketertarikan penulis adalah Manajemen, Bisnis, Pemasaran dan Pemasaran Sosial.
| Meningkatkan Keakuratan Hasil Sensus Ekonomi 2026 Melalui Ground Check |
|
|---|
| Sleep Training dan Bayi yang tak Lagi Bangun: Saat Tren Parenting Berubah Jadi Peringatan |
|
|---|
| Serba Serbi Kitab Undang Undang Hukum Pidana Baru |
|
|---|
| Pelecehan Seksual di Dunia Pendidikan, Alarm Darurat Degradasi Moralitas Generasi |
|
|---|
| Memaknai Budaya Dalam Konteks yang Berbeda |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Mohammad-Eko-Fitrianto.jpg)