Opini

Menumbuhkan Kebiasaan Stecu Pada Mahasiswa

Perilaku stecu pada mahasiswa bukan hanya ditumbuhkan, namun harus dapat dirawat agar terus lestari.

Istimewa
Mohammad Eko Fitrianto 

Oleh: Mohammad Eko Fitrianto
(Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya & Alumni DIM FEB–Universitas Gadjah Mada)

 

SRIPOKU.COM - Stecu atau stecu-stecu, ah sepertinya kata ini cukup sering muncul karena terekspos secara masif melalui berbagai media. 

Menurut mesin pencarian, kata ini berasal dari sebuah judul lagu yang berjudul sama. Kata ini merupakan akronim dari “stelan cuek”. 

Secara ringkas lagu tersebut menggambarkan tentang kisah cinta yang penuh kegemasan dan tarik-ulur antara dua orang yang saling suka, namun keduanya bermain malu-malu dan cuek.

Namun, sebagai akademisi saya akan memaknainya berbeda. Pada konteks akademik, saya pikir ‘stecu’ dapat diartikan sebagai ‘stay curious’ atau mungkin terjemahan literal yang paling dekat adalah ‘tetap ingin tahu’ atau ‘teruslah ingin tahu.’

Rasa ingin tahu adalah dorongan alami dalam diri seseorang untuk mengetahui, memahami, atau menjelajahi sesuatu yang belum diketahui. Rasa ingin tahu menjadi bagian penting dari proses belajar dan perkembangan intelektual. Untuk siapa ini? Untuk siapa saja. Terutama untuk saya sendiri sebagai akademisi.

Definisi stecu

Menurut Oxford Learner Dictionary, kata curious memiliki definisi having a strong desire to know about something atau diartikan menjadi memiliki hasrat yang kuat untuk mengetahui sesuatu. Selanjutnya, jika mengecek pada KBBI Online, kata hasrat didefinisikan sebagai keinginan (harapan) yang kuat.

Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kata curious memiliki makna seseorang yang memiliki keinginan yang kuat untuk mengetahui sesuatu. Keinginan ini kemudian mendorong dia untuk berperilaku, seperti mencari tahu, mempelajari, memahami, dan sebagainya. 

Tulisan ini sebenarnya muncul karena saya memiliki keresahan tentang stecu yang terdapat pada mahasiswa. Sebagai mahasiswa, seharusnya menjadikan stecu sebagai jalan ninja-nya dalam mengarungi petualangan akademik di kampus.

Salah satu contoh masalah stecu berdasarkan pada pengalaman saya adalah ketika menawarkan untuk memberi respon, seperti “apakah ada pertanyaan?” sangat jarang sekali memberikan respon balik.

Di kelas, saya sering memberikan analogi hubungan antara dosen dan mahasiswa seharusnya seperti manusia dan pohon. Seorang manusia ketika bernafas mengeluarkan karbon dioksida (CO2), sementara pohon menggunakan CO₂ tersebut sebagai bahan baku utama untuk proses fotosintesis.

Pohon kemudian melepaskan oksigen (O2) yang kemudian dihidup oleh manusia untuk bernafas. Apa yang bisa kita pahami disini adalah dosen tidak semuanya tahu, dosen juga bisa belajar dari pengetahuan mahasiswa.

Menumbuhkan kebiasaan stecu

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved