Opini

Membedah NU dan Muhammadiyah di Balik Kunjungan Khofifah ke Masjid Al-Kufah, Irak

Irak menjadi pusat peradaban manusia yang tinggi, tempat berdiamnya sahabat Nabi Muhammad SAW, Ali ra dan anaknya, juga tempat tinggal Nabi Ayub as.

Tayang:
Editor: tarso romli
handout
Dasman Djamaluddin SH MHum - Mantan Wartawan Sriwijaya Post, Penulis Biografi dan Sejarawan 

Saya ke Padang Karbala didisposisikan oleh Duta Besar Indonesia pada waktu itu Bapak Safzen Noerdin sebagai seorang wartawan Indonesia. Mungkin pengurus Padang Karbala itu pun sudah tahu bahwa mayoritas penduduk Muslim Indonesia adalah Muslim Sunni.

Saya bersama staf Kedubes RI di Baghdad pergi ke Karbala, pada hari Minggu, 21 September 2014. Di Karbala yang dulunya padang pasir yang luas, sekarang berbentuk bangunan. Di sinilah anaknya sahabat Nabi Muhammad SAW yaitu putera Ali r.a, Hussein secara mengenaskan dibunuh dan kepalanya lepas dari tubuh ketika berhadapan dengan jumlah musuh yang tidak seimbang di Padang Karbala tersebut.

Suara-suara isakan tangis penziarah yang terdiri dari berbagai kelompok yang datang dari dalam negeri Irak dan luar Irak seperti India dan lain negara terlihat berteriak-teriak seraya menangis: "Oh Hussein...oh Hussein." Saya juga larut dalam suasana tersebut. Mata saya berkaca-kaca.

Sebelum ke Padang Karbala, sebagaimana saya jelaskan di atas, saya mengunjungi Masjid Al-Kufah atau disebut juga Al-Kufa di Kufa, Irak, yaitu pada hari Sabtu, 20 September 2014.Kufah atau Kufa ini merupakan sebuah kota di Irak. Jaraknya 170 km di selatan Baghdad. Jika kita membaca sejarah Islam, kota Kufah ini sudah menjadi bagian wilayah Muslim di masa Ali r.a menjadi khalifah. Bahkan beliau berkantor di sebuah ruangan di dekat masjid tersebut.Ruangan kantor Ali r.a itu ditunjukkan juga kepada saya.Tidak terlalu luas, tetapi ruangan tersebut sangat nyaman.

Sebagaimana terlihat di denah di atas, di masjid ini, sudah tentu telah dipugar berkali-kali, terdiri dari enam pintu masuk. Ada pintu masuk untuk laki-laki, terlihat dalam denah di atas di sebelah kanan. Juga pintu masuk untuk perempuan yang ada di samping. Bulatan bundar di tengah merupakan peninggalan Nabi Nuh a.s. Di bundaran itu berisi air. Staf Kedubes RI menyarankan saya sholat dua rakaat dan mengambil wudhu dari air kolam tersebut. Dari denah ini sudah terlihat jelas jejak-jejak nabi. Juga jejak Malaikat Jibril.

Kita sudah tentu tidak mengharapkan adanya pertikaian antara Muslim Sunni dan Syiah. Tetapi perbedaan itu semakin mencolok dengan akan dibangunnya dinding pembatas di Karbala. Juga ketika kita membaca berita dari Suara Amerika (VOA) tanggal 30 Agustus 2016, bahwa Iran membentuk sebuah pasukan "Laskar Pembebasan Syiah Bersama."

Pasukan baru itu dirancang akan merekrut sebanyak-banyaknya Muslim Syiah non-Iran dari berbagai tempat di kawasan itu. Situasi ini memang sudah memanas ketika Arab Saudi (Sunni) membantu pemerintahan terguling di Yaman. 

Bahkan secara terang-terangan Rusia menyatakan mendukung Iran, Irak dan Suriah di mana di negara-negara tersebut kelompok Islam Syiah lebih dominan. Saya mengatakan ketika Presiden Irak, Saddam Hussein berkuasa di Irak, beliau adalah seorang Sunni yang berhasil berkuasa di tengah-tengah penduduk Irak yang mayoritasnya beragama Islam

Penduduk Irak awalnya  sangat makmur, karena hidup dari bumi yang kaya sumber minyak. Tetapi setelah serangan pasukan Amerika Serikat (AS)  di masa George Walker Bush, anaknya George Herbert Walker Bush yang baru-baru ini meninggal dunia, tepatnya serangan AS dan invasi AS itu terjadi 20 Maret 2003, penderitaan rakyat Irak "bertambah" menderita.

Kenapa "bertambah" ?. Karena sebelumnya saya menyaksikan sendiri penderitaan rakyat Irak itu dengan pergi ke Baghdad pada 10 Desember 1992 dan kembali lagi ke Irak pada bulan September 2014. Oleh karena itu,  dua kali saya ke Irak melihat  dari dekat kehancuran Irak.

Kedua kunjungan itu juga berada di situasi yang berbeda di Irak dan AS. Pertama,  tahun 1992, Irak masih dipimpin Presiden Irak Saddam Hussein. Sementara di AS yang menjadi Presiden AS adalah George Herbert Walker Bush. Ia baru saja meninggal pekan ini. Kunjungan kedua saya ke Irak tahun 2014, itu di Presiden Irak Saddam Hussein sudah tidak ada. Ia digantung pada hari Sabtu, 30 Desember 2006. Sedangkan di AS yang memerintah adalah anaknya George Herbert Walker Bush, yaitu George Walker Bush.

Di masa kedua Presiden AS inilah, rakyat Irak semakin menderita. Apalagi setelah Irak dihancurkan muncul lagi gerilyawan Negara Islam di Irak. Awal mulanya lahir di Irak kemudian meluas ke Suriah, sehingga namanya berubah menjadi Negara Islam tidak hanya di Irak, tetapi juga di Suriah (ISIS).

Di Irak, pada 10 Desember 2017 dinyatakan bahwa ISIS sudah dilenyapkan. Di Irak sudah tidak ada lagi ISIS. Sementara di Suriah, ISIS terdesak akibat perang antara pasukan Suriah didukung Iran dan Rusia dengan AS dan Arab Saudi. Boleh dikatakan di Irak dan Suriah, rakyatnya menderita akibat perang. Foto di atas menunjukkan, meski Irak sudah menyatakan ISIS tidak ada lagi tetapi jutaan rakyatnya sekarang masih menderita setahun ISIS dihancurkan.

Tanggal 10 Desember secara pribadi, adalah tanggal keberangkatan saya ke Irak pertama kali, tepatnya 10 Desember 1992. Waktu itu saya ke Irak tidak bisa langsung dari Jakarta-Baghdad. Tetapi saya harus ke Jordania dulu, karena Irak mendapat sanksi PBB, wilayah udara Irak ditutup. Ini merupakan perjalanan panjang melalui darat dari Jordania-Irak. Jalan darat yang ditempuh lebih kurang 885 kilometer yang ditempuh sekitar 13 jam dari Jordania ke Irak. Sangat melelahkan. Memang istirahat di tempat-tempat tertentu, tetapi tidak lama.

Mata tidak bisa diajak kompromi, kadang-kadang tertidur. Hari telah gelap, sementara cuaca cukup dingin menyusup ke tulang sumsum. Sopir taksi, mungkin sudah terbiasa mengemudikan di tengah padang pasir, tidak kelihatan merasa lelah. Hanya saya, yang terlihat lelah. Maklumlah baru pertama kali mengarungi padang pasir yang luas dan sepi. Kalau pun ada kendaraan lain, jarak antara satu dengan yang lain tidak terlihat. Hanya debu-debu yang berterbangan, menyisir jalan setapak di padang pasir.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved