Opini: Inflasi Sumatera Selatan, Stabilitas atau Tantangan Tersembunyi?
Pada September 2024, Sumatera Selatan mencatat tingkat inflasi tahunan (Year on Year, YoY) sebesar 1,40 persen, lebih rendah dari rata-rata nasional
Selain penurunan harga pangan, penyesuaian harga BBM turut berkontribusi pada deflasi bulanan. Penurunan harga Pertamax sebesar 5,36 persen dan Dexlite sebesar 6,88 persen membantu mengurangi biaya transportasi dan produksi dalam jangka pendek.
Namun, seperti harga pangan, penurunan harga BBM ini mungkin tidak bertahan lama. Fluktuasi harga minyak global dan kebijakan energi nasional dapat membalikkan tren ini.
Baumeister dan Kilian (2014) menunjukkan kenaikan harga minyak dapat menyebabkan pass-through ke harga konsumen melalui peningkatan biaya produksi dan transportasi.
Selaras dengan temuan ini, Li dan Li (2013) menegaskan bahwa fluktuasi harga minyak berdampak langsung pada biaya transportasi, yang kemudian diteruskan ke harga produsen dan konsumen.
Kondisi ini pada akhirnya akan memicu tekanan inflasi, terutama di sektor-sektor yang sensitif terhadap biaya logistik, seperti pangan dan kebutuhan dasar lainnya.
Inflasi Tahunan Rendah: Stabilitas atau Indikasi Lemahnya Permintaan?
Pada September 2024, inflasi tahunan di Sumatera Selatan tercatat 1,40 persen, lebih rendah dari rata-rata nasional. Meski tampak stabil, terdapat dinamika sektorial yang mengindikasikan potensi risiko.
Sektor perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi tertinggi sebesar 7,35 persen. Kelompok ini menyumbang 0,52 persen terhadap inflasi, dengan emas perhiasan sebagai penyumbang utama (0,58 persen).
Kelompok pengeluaran lainnya, seperti rekreasi, olahraga, dan budaya mencatat inflasi 2,67 persen, dipicu oleh kenaikan harga barang rekreasi lainnya (4,63 persen) dan mainan anak. Kelompok pendidikan mengalami inflasi 1,82 persen, terutama dari subkelompok pendidikan tambahan (6,66 persen).
Sektor perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mengalami inflasi 2,17 persen, dengan tarif PDAM naik 12,86 persen. Kelompok transportasi mencatat inflasi 1,81 persen, didorong oleh jasa angkutan penumpang (3,13 persen).
Di sisi lain, beberapa sektor justru mengalami deflasi. Kelompok pakaian dan alas kaki mencatat deflasi sebesar -1,41 persen, sementara perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga juga mengalami deflasi sebesar -0,61 persen.
Kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan mencatat deflasi sebesar -0,42 persen, dengan penurunan harga pada peralatan informasi dan komunikasi sebesar -1,70 persen.
Tren deflasi dapat mengindikasikan melemahnya permintaan konsumen, di mana masyarakat cenderung menahan pengeluaran karena ekspektasi harga yang lebih rendah di masa mendatang.
Selain itu, deflasi juga bisa mencerminkan peningkatan efisiensi produksi yang menurunkan biaya. Namun, penurunan harga yang berkelanjutan dapat menyebabkan konsumen semakin enggan untuk berbelanja, memperburuk pelemahan permintaan dan menekan pertumbuhan ekonomi.
Mengapa Inflasi Rendah Perlu Diwaspadai?
| Kisi-kisi Soal SAS PAI Kelas 4 SD Semester 2 Kurikulum Merdeka Tahun 2026 Lengkap Kunci Jawaban |
|
|---|
| Kisi-kisi Soal SAS Bahasa Inggris Kelas 4 SD Semester 2 Kurikulum Merdeka Tahun 2026 Lengkap Jawaban |
|
|---|
| Kisi-kisi Soal SAS PJOK Kelas 6 SD Semester 2 Kurikulum Merdeka Tahun 2026 Lengkap Kunci Jawaban |
|
|---|
| Kisi-kisi Soal SAS Pendidikan Pancasila Kelas 6 SD Semester 2 Kurikulum Merdeka Tahun 2026 |
|
|---|
| Kisi-kisi Soal SAS PAI Kelas 6 SD Semester 2 Kurikulum Merdeka Tahun 2026 Lengkap Kunci Jawaban |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Soal-ulangan-harian-Ekonomi-Kelas-11-SMA-Materi-Indeks-Harga-dan-Inflasi-3-Januari.jpg)