Opini: Inflasi Sumatera Selatan, Stabilitas atau Tantangan Tersembunyi?

Pada September 2024, Sumatera Selatan mencatat tingkat inflasi tahunan (Year on Year, YoY) sebesar 1,40 persen, lebih rendah dari rata-rata nasional

Editor: adi kurniawan
buku.kemdikbud.go.id
Pada September 2024, Sumatera Selatan mencatat tingkat inflasi tahunan (Year on Year, YoY) sebesar 1,40 persen, lebih rendah dari rata-rata nasional yang sebesar 1,84 persen. 

Inflasi Sumatera Selatan: Stabilitas atau Tantangan Tersembunyi?

Oleh: Marpaleni, MA, Ph.D
Statistisi Ahli Madya di BPS Provinsi Sumatera Selatan

"Inflasi layaknya suhu tubuh; terlalu tinggi berbahaya, terlalu rendah juga tidak sehat."

Pada September 2024, Sumatera Selatan mencatat tingkat inflasi tahunan (Year on Year, YoY) sebesar 1,40 persen, lebih rendah dari rata-rata nasional yang sebesar 1,84 persen.

Angka inflasi ini menurun signifikan dibandingkan inflasi  sebesar 3,35 persen pada Januari 2024.

Di sisi lain, inflasi tahun kalender (Year to Date, YtD) sebesar 0,04 persen, mencerminkan stabilitas harga sepanjang tahun.

Sementara secara bulanan (Month to Month, MtM), terjadi deflasi sebesar -0,12 persen di bulan September, melanjutkan tren deflasi yang berlangsung sejak Juni 2024.

Pertanyaannya adalah, apakah angka-angka ini mencerminkan keberhasilan pengendalian inflasi, atau justru mengindikasikan tantangan tersembunyi untuk diwaspadai?

Deflasi Beruntun: Pencapaian atau Tantangan?

Marpaleni, MA, Ph.D
(Statistisi Ahli Madya di BPS Provinsi Sumatera Selatan)
Marpaleni, MA, Ph.D (Statistisi Ahli Madya di BPS Provinsi Sumatera Selatan) (ist)

Deflasi Month to Month (MtM) berturut-turut sejak Juni hingga September 2024 menandakan penurunan harga secara konsisten.

Sekilas, terdengar sebagai kabar baik bagi konsumen. Namun, perlu diingat bahwa deflasi berkepanjangan bisa jadi adalah sinyal melemahnya permintaan agregat dalam ekonomi (Krugman, 1998).

Ketika konsumen menunda pembelian dengan harapan harga akan terus turun, hal ini dapat menyebabkan perlambatan aktivitas ekonomi.

Dalam konteks Sumatera Selatan, deflasi September 2024 (MtM) dipicu oleh beberapa faktor. Panen serentak di berbagai daerah, seperti Musi rawas, Lahat, Muara Enim, Banyuasin, dan Ogan Komering Ilir, menyebabkan anjloknya harga cabai merah dan cabai rawit.

Diikuti dengan melimpahnya stok tomat juga telur ayam ras. Panen melimpah ini memang memberikan kelonggaran bagi konsumen, terutama bagi kelompok berpenghasilan rendah yang sangat terbantu dengan harga pangan murah. Namun, kondisi ini bersifat sementara.

Seperti dijelaskan oleh Chen et al. (2017), setelah masa panen usai, tanpa infrastruktur penyimpanan dan distribusi memadai, harga pangan dengan cepat merangkak naik.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved