Opini
Opini: Tebarkan Benih Semangat Bertani pada Pemuda Pemudi Millenial, Demi Ketahanan Pangan
Sektor pertanian memegang peranan penting bagi kehidupan, pembangunan, dan perekonomian Indonesia
Jika dilihat lebih rinci, petani milenial yang berumur 19–39 tahun, baik menggunakan maupun tidak menggunakan teknologi digital terdapat sebanyak 340.436 petani atau 29,34 persen dari total petani di Provinsi Sumatera Selatan.
Ini menunjukan bahwa sebagian besar petani di Provinsi Sumatera Selatan adalah bukan berasal dari generasi milenial melainkan dari generasi generasi X (berusia 43–58 tahun) dan generasi baby boomer (berusia 59–77 tahun).
Kemudian fakta lebih lanjut ditemukan bahwa Kabupaten/Kota dengan petani milenial umur 19–39 tahun terbanyak adalah Kabupaten Ogan Komering Ilir, yaitu sebanyak 55.223 orang atau hanya sekitar 16,22 persen dari keseluruhan petani milenial umur 19–39 tahun di Provinsi Sumatera Selatan.
Sejalan dengan itu, Kabupaten Ogan Komering Ilir juga merupakan kabupaten dengan UTP paling banyak di Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2023 dengan jumlah UTP sebesar 177.155 unit atau 14,95 persen dari UTP di Provinsi Sumatera Selatan.
Meskipun demikian, data-data ini menunjukkan bahwa terdapat fenomena terjadinya penurunan jumlah petani diiringi dengan masih rendahnya minat generasi milenial untuk bekerja di sektor pertanian.
Rendahnya minat generasi milenial terhadap pertanian akan berdampak pada sektor pertanian di masa mendatang.
Dampak yang mungkin dapat dirasakan diantaranya adalah produktivitas pertanian berkurang karena adopsi teknologi canggih dalam pertanian bisa terhambat karena berkurangnya generasi milenial sebagai tonggak terampil dalam pemanfaatan teknologi modern.
Selain itu, jika petani milenial terus mengalami penurunan, maka akan terjadinya krisis penerus petani, dimana sektor pertanian memerlukan generasi muda untuk menggantikan petani yang sudah tua.
Tanpa keterlibatan petani milenial, ada risiko besar bahwa sektor ini akan kekurangan tenaga kerja, yang dapat menyebabkan penurunan produksi pangan dan ketahanan pangan nasional.
Jika ini terus berlanjut, maka dikhawatirkan akan menimbulkan impor pangan secara berlebihan sehingga dapat mengganggu stabilitas ekonomi makro.
Meskipun impor pangan dapat menjadi salah satu cara dalam pemenuhan kebutuhan pangan dalam negeri, namun sangat penting bagi Indonesia untuk mengelola impor ini secara bijak dan seefektif mungkin dengan memperkuat sektor pertanian domestik dan meningkatkan ketahanan pangan nasional.
Terkait produksi pangan, BPS juga merilis luas panen dan produksi padi di Indonesia. Ditemukan fakta bahwa pada tahun 2023, luas panen padi diperkirakan sekitar 10,20 juta hektar.
Angka ini mengalami penurunan sebanyak 255,79 ribu hektar atau 2,45 persen dibandingkan luas panen padi di 2022 yang sebesar 10,45 juta hektar.
Seiring dengan itu, produksi padi pada tahun 2023 diperkirakan juga mengalami penurunan sebanyak 1,12 juta ton GKG atau 2,05 persen dibandingkan produksi padi di tahun 2022.
Begitupun produksi beras pada tahun 2023 untuk konsumsi pangan penduduk diperkirakan mengalami penurunan sebanyak 645,09 ribu ton atau 2,05 persen dibandingkan produksi beras di tahun 2022.
| Empat Pemimpin Tersandung Korupsi, Muara Enim Butuh Babak Baru Kepemimpinan Tokoh Muda |
|
|---|
| Komodifikasi Kesehatan dan Krisis Otoritas Sains di Era Kapitalis |
|
|---|
| Ekonomi Islam dan Krisis Lingkungan |
|
|---|
| Dari Kayuagung ke Moskow, Perjalanan Anak Sumsel Mengubah Nasib di Rusia |
|
|---|
| Menziarahi Reruntuhan Makna: Ketika Sejarah "Dikhianati" Demi Seremonial Belaka |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Petani-di-Kecamatan-Martapura-Kabupaten-OKU-Timur-mulai-membajak-lahan-sawahnya.jpg)