Opini

Komodifikasi Kesehatan dan Krisis Otoritas Sains di Era Kapitalis

Maraknya pseudosains adalah dampak sistem kapitalisme yang mengomersialkan kesehatan. Butuh perubahan sistemik menuju paradigma kesehatan Islam.

Tayang:
Dok Pribadi
Apt. Endang Rahayu 

Ringkasan Berita:
  • Komodifikasi Kesehatan: Kapitalisme mengubah kesehatan menjadi komoditas bisnis, memicu inflasi medis, serta memperlebar ketimpangan akses layanan.
  • Pseudosains & Kepercayaan: Pseudosains tumbuh subur sebagai pelarian masyarakat akibat mahalnya biaya medis dan runtuhnya kepercayaan pada otoritas sains.
  • Paradigma Islam: Islam memandang kesehatan sebagai hak publik (ri'ayah) yang wajib dijamin negara, bukan bisnis, serta mendukung penuh metode ilmiah.
 


Oleh: Apt. Endang Rahayu
(Aktivis Kesehatan)

SRIPOKU.COM - Hari ini masyarakat modern menghadapi revolusi industri 4.0 dengan perubahan yang sangat signifikan dalam membentuk gaya hidup, budaya, dan peradaban manusia.

Teknologi berkembang pesat, termasuk teknologi kesehatan yang telah bertransformasi melalui AI diagnosis, precision medicine, dan genomik.

Namun, pada saat yang sama, muncul fenomena pseudosains, anti-vaksin, dan terapi alternatif ekstrem. Praktik-praktik pengobatan ini tidak didasarkan pada evidence-based medicine maupun pengobatan tradisional berbasis pengalaman terbatas.

Masyarakat dengan mudah percaya pada praktik yang tampak medis, menggunakan bahasa ilmiah, tetapi tidak memiliki bukti yang memadai, bahkan menolak untuk diuji, namun melakukan overclaim seakan memiliki efektivitas tinggi dalam pengobatan.

Di sinilah paradoks itu tampak jelas. Kemajuan teknologi tidak secara otomatis membentuk pemahaman dan kepercayaan publik terhadap pengobatan berbasis bukti. Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari landasan berpikir dan paradigma yang membangun dunia medis hari ini.

Dengan demikian, paradoks ini bukanlah anomali, melainkan konsekuensi logis dari sistem kapitalisme yang menjadikan kesehatan sebagai komoditas yang diperdagangkan, bukan sebagai layanan publik yang berbasis kebenaran.

Inflasi Medis dan Komodifikasi Kesehatan

Ketika kesehatan diposisikan sebagai komoditas perdagangan, maka ia tunduk pada logika untung-rugi. Kesehatan tidak lagi dipandang sebagai bagian dari hak dasar manusia, melainkan sebagai layanan yang hanya dapat diakses oleh mereka yang memiliki kemampuan ekonomi.

Paradigma ini melahirkan mekanisme supply and demand dalam sektor kesehatan. Akibatnya, biaya layanan kesehatan meningkat drastis, sementara pemberian layanan sangat bergantung pada jenis teknologi yang digunakan. Semakin modern teknologi yang dipakai, semakin tinggi biaya yang harus ditanggung.

Mahalnya teknologi dan fasilitas kesehatan memberi ruang bagi kapital besar, terutama industri farmasi dan alat kesehatan, untuk mengambil peran dominan. Modal besar memungkinkan mereka melakukan monopoli terhadap riset, menguasai paten obat dalam jangka waktu tertentu, serta mengarahkan inovasi berbasis keuntungan. Dalam sistem seperti ini, sains tidak lagi sepenuhnya diarahkan untuk menemukan kebenaran, tetapi juga untuk menghasilkan produk yang dapat dipasarkan.

Dampaknya sangat nyata. Akses kesehatan semakin menyempit, ketimpangan antara layanan elit dan masyarakat umum semakin lebar, dan hubungan antara dokter dengan pasien menjadi semakin transaksional. Ketika kesehatan berubah menjadi industri, maka kepercayaan menjadi sesuatu yang sulit untuk dibangun dan dipertahankan.

Pseudosains: Gejala dari Krisis Kepercayaan

Sekilas, pseudosains dan berbagai hoaks kesehatan sering disalahartikan sebagai akibat dari kebodohan atau kurangnya pengetahuan masyarakat. Akan tetapi, jika ditelusuri lebih dalam, fenomena ini merupakan respons terhadap mahalnya layanan medis dalam sistem kapitalisme, yang sering kali menggeser empati dan memunculkan kesan dehumanisasi pasien.

Di sisi lain, konflik kepentingan dalam industri kesehatan juga memicu kecurigaan publik. Ketika produk-produk medis baru muncul di tengah pandemi atau wabah, sebagian masyarakat meresponsnya dengan skeptisisme yang tinggi.

Sayangnya, kecurigaan ini tidak selalu diiringi dengan pemahaman ilmiah yang memadai.
Kondisi tersebut menciptakan ruang kosong dalam benak masyarakat. Ketika layanan medis sulit dijangkau, pseudosains hadir menawarkan harapan.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved