Pilkada Sumsel 2024

Para Balon Peserta Pilkada di Sumsel Dinilai Miskin Ide, Masih Sekadar Politik Gimik dan Pencitraan

Baliho-baliho yang terpampang di sepanjang jalan semua itu dilakukan untuk mendapat simpati pemilih. Tanpa narasi dan gagasan

Tayang:
Penulis: Choirul Rahman | Editor: Sudarwan
SRIPOKU.COM/CHOIRUL
Fahmi, Tokoh Pemuda Komering OKU Timur Provinsi Sumatera Selatan, Rabu (17/7/2024). 

SRIPOKU.COM, MARTAPURA - Tahapan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Sumatera Selatan dan Pilkada OKU Timur tahun 2024 telah berjalan.

Dimana para tokoh-tokoh politik Sumsel dan OKU Timur sudah mulai memperlihatkan alur strategi politiknya masing-masing.

Fahmi, Tokoh Pemuda Komering OKU Timur menilai dalam Pilkada 2024 ini masih miskin ide dan gagasan.

Lalu cukup mengkhawatirkan jika Pilkada hanya sekadar melaksanakan agenda demokrasi prosedural.

Serta hanya menjadi transisi kekuasaan politik kepala daerah semata tanpa melakukan perubahan politik mendasar sehingga menjadi bumbu-bumbu politik yang feodal dan koruptif.

Ia juga berpandangan, bahwa belum melihat komitmen serius dari sejumlah nama yang bakal maju berkontestasi.

Namun justru yang ditampilkan terkesan elitis dan berjarak dengan isu kerakyatan.

"Masih sekadar politik gimik dan pencitraan. Baliho-baliho yang terpampang di sepanjang jalan semua itu dilakukan untuk mendapat simpati pemilih. Tanpa narasi dan gagasan menunjukkan isi kepala politisi daerah," katanya ketika dibincangi Sripoku.com, Rabu (17/07/2024).

Bahkan para bakal calon gubernur maupun bupati hanya sebatas melontarkan jargon yang tidak secara spesifik membranding isu kerakyatan atau program-program yang berpihak ke masyarakat ramai, terutama tentang problem yang menyangkut hajat hidup orang banyak.

Tindakan tersebut monoton sehingga publik tidak memiliki second opini terhadap gagasan dan pemikiran pembaharuan.

"Seperti kata Buya Safi’i Ma’arif sebagai politisi rabun ayam. Dimana politisi rabun ayam adalah politisi yang di dalam pikirannya hanya sekadar kekuasaan, proyek, uang, dan perempuan. Tidak memiliki visi misi politik jangka panjang dan kemanusiaan," paparnya.

Maka para calon ini hanya mengandalkan elektabilitas dan popularitas saja, bukan pada ide, gagasan yang dijual ke masyarakat.

Masyarakat tentu berharap para calon pemimpin ini rajin turun ke masyarakat.

Lalu serap aspirasi, jadikan aspirasi itu sebagai program kerja sebagai kepala daerah kedepan.

Jika langkah awal saja terkesan biasa-biasa saja maka langkah selanjutnya patut diduga tidak ada kejutan yang out of the box.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved