Opini

Menilik Pertanian Sumatera Selatan

Walaupun semakin menurun peranan sektor Pertanian dalam menopang perekonomian nasional dan regional di Indonesia masih sangat penting.

Editor: Yandi Triansyah
SRIPOKU.COM/Istimewa
Timbul P Silitonga (Statistisi Ahli Madya) 

Sementara 2 (dua) sektor utama lainnya yakni sektor Pertambangan dan Penggalian dan sektor Perdagangan Besar dan Eceran pada tahun 2020 mengalami pertumbuhan negatif.

Fenomena itu mengungkapkan bahwa sektor Pertanian sangat konsisten peranannya dalam menopang perekonomian Sumatera Selatan.

Peranan sektor Pertanian dalam penyerapan tenaga kerja di Sumatera Selatan sangat penting. Keadaan Agustus 2023 penduduk yang bekerja atau terserap di sektor Pertanian mencapai 1,97 juta orang atau sebesar 44,71 persen dari total penduduk bekerja Sumatera Selatan yang mencapai 4,40 juta orang.

Kedudukan sektor Pertanian sebagai penyerap tenaga kerja utama di Sumatera Selatan terjadi dari tahun ke tahun, bahkan sejak provinsi Sumatera Selatan berdiri. Kondisi ini mengungkapkan bahwa dari sisi penyerapan tenaga kerja Sumatera Selatan masih dikategorikan sebagai provinsi agraris.

Kondisi yang memprihatinkan yang sekaligus menggambarkan kelemahan sektor Pertanian adalah produktivitas tenaga kerja sektor Pertanian masih sangat rendah. Pada tahun 2022 produktivitas tenaga kerja sektor Pertanian sebesar  Rp. 28,57 juta/tenaga kerja/tahun atau Rp. 2,38 juta/tenaga kerja/bulan.

Produktivitas tenaga kerja sektor Pertanian jauh di bawah produktivitas tenaga kerja Sumatera Selatan yang mencapai Rp. 80,07 juta/tenaga kerja/tahun atau Rp. 6,67 juta/tenaga kerja/bulan.

Rendahnya produktivitas tenaga kerja sektor Pertanian erat kaitan dengan tingginya jumlah tenaga kerja yang bekerja di sektor Pertanian sementara produksi pertanian Sumatera Selatan belum mencapai titik optimalnya.   

Rendahnya produktivitas tenaga kerja sektor Pertanian menjadi salah satu penyebab rendahnya tingkat kesejahteraan penduduk yang bekerja di sektor Pertanian.

Diduga sebagian besar 40 persen penduduk golongan bawah bekerja atau menggantungkan hidupnya di sektor Pertanian, sehingga kesejahteraannya relatif sulit ditingkatkan.

Oleh karena itu salah satu strategi untuk meningkatkan kesejahteraan golongan bawah dan mengurangi kemiskinan di perdesaan melalui peningkatan pendapatan adalah bagaimana mengupayakan produkivitas tenaga kerja di sektor Pertanian bisa mencapai atau mendekati produktivitas tenaga kerja Sumatera Selatan dengan segala kekurangan yang dimilikinya: ketrampilan rendah, tingkat pendidikan rendah, kualitas kesehatan rendah, aksesibilitas ke sumber daya produktif rendah, dll.

Selain itu transformasi lapangan pekerjaan ke sektor-sektor yang memiliki produktitas tinggi seperti: sektor Industri Pengolahan, sektor Perdangan Besar dan Eceran, dan sektor lainnya harus segera dilakukan.

Ditinjau dari NTP-nya kegiatan usaha pertanian di Sumatera Selatan hingga saat ini belum menjanjikan tingkat kesejahteraan yang memadai. Kondisi itu terlihat dari angka NTP Sumatera Selatan yang masih relatif rendah dan sangat fluktuatif.

Pada bulan Januari 2023 NTP Sumatera Selatan sebesar 99,97 poin, meningkat pada Februari-April kisaran 102-105 poin, menurun dan berfluktuasi pada Mei-Juni kisaran 103 poin, meningkat dan berfluktuasi pada Juli-September kisaran 104-106, kemudian meningkat pada Oktober-November kisaran 108-109.

Perkembangan NTP Sumatera Selatan tersebut mengungkapkan bahwa hasil penjualan produk-produk pertanian hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup rumahtangga petani. Sekaligus mengungkapkan bahwa daya beli petani Sumatera Selatan masih relatif rendah sebagai dampak tidak stabilnya kenaikan harga komoditas pertanian dan masih mahalnya kebutuhan hidup petani.   

NTP merupakan rasio antara indeks yang diterima petani (IT) dengan indeks yang dibayar petani (IB). Pada dasarnya NTP merupakan indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di daerah perdesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani dan semakin baik kesejahteraannya.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved