Opini
Merayakan Kemenangan
KETIKA menjalankan ibadah Ramadhan terjadi perubahan dalam ritme aktivitas kaum muslimin.
Diantaranya: kewajiban berpuasa sebulan penuh, melaksanakan shalat berjamaah di masjid, shalat Rawatib, shalat Tarawih dan Witir, memperbanyak membaca al-Qur’an dan mentadabburnya, hadir di majelis taklim, iktikaf, bershalawat serta beristighfar.
Seorang muslim yang mampu mengoptimalkan sifat rububiyah maka jalan hidupnya akan penuh keberkahan karena mendapatkan kasih sayang dari Allah SWT dan mendapatkan surga.
Firman Allah Q.S ad-Dhukhan, 51-57 menjelaskan bahwa orang-orang yang bertaqwa akan dimasukkan ke dalam surga.
Di dalamnya mereka tidak akan merasakan mati, tidak akan pernah ada perselisihan dan pertentangan antar penghuninya.
Para penghuni surga akan hidup aman serta abadi di dalamnya selama-lamanya.
Semua akan merasakan kebahagiaan yang hakiki berkah kasih sayang Allah atas ketaatan di dunia.
Pesan kedua dari pembelajaran yang diberikan Ramadhan adalah pesan sosial.
Ramadhan tidak hanya mengajarkan tentang keshalihan spiritual tetapi juga keshalihan sosalMemiliki keshalihan spiritual dan sosial sekaligus secara bersamaan.
Keshalihan sosial dilatih pada bulan mulia dengan kewajiban untuk peduli terhadap fakir dan miskin melalui perintah untuk memperbanyak sedekah, membayar zakat dan fidyah.
Dalam syariat yang Allah perintahkan ketika seseorang terhalang untuk melakukan ibadah pada Allah berupa kewajiban puasa Ramadhan beberapa di antaranya dapat diganti dengan membayar fidyah yaitu memberi makan fakir dan miskin.
Begitu juga demi membagi bahagia kepada Delapan Ashnaf Allah menetapkan kewajiban membayar zakat fitrah untuk kemudian dibagikan kepada Delapan Ashnaf.
Meskipun bisa jadi di bulan selain Ramadhan terutama fakir, miskin dan anak yatim tidak mendapat kepeduliaan.
Tetapi di penghujung Ramadhan Allah merangkaikan dua keshalihan dalam satu waktu.
Para penerima zakat akan merasa terbantu sementara para muzakki akan mendapatkan pahala dari Tuhan.
Dalam riwayat Malik dijelaskan bahwa puasa seorang hamba akan selalu terkatung-katung di antara langit dan bumi sampai zakat firtahnya ditunaikan.
Secara lebih rinci Rasulullah SAW menjelaskan bahwa kewajiban membayar zakat fitrah adalah dengan satu sho’ kurma atau satu sho’ gandum bagi setiap muslim yang merdeka maupun budak, laki-laki maupun perempuan, anak kecil maupun dewasa.
Zakat tersebut diperintahkan untuk dikeluarkan sebelum orang-orang keluar dari melaksanakan shalai Idul Fitri.
Selanjutnya jihad menjadi pesan ketiga dari pembelajaran Ramadhan.
Jihad yang tidak hanya didefinisikan sebagai berperang di jalan Allah SWT.
Jihad melawan sendiri untuk mencapai keridhaan adalah merupakan jihad akbar.
Dalam ibadah Ramadhan jihad dilakukan untuk membentuk pribadi disiplin dan jujur diantaranya melalui ketetapan waktu sahur dan berbuka, juga terhadap perkara yang dilarang karena dapat membatalkan puasa.
Tidak boleh makan dan minum di siang hari meski terdapat banyak makanan halal yang tersedia di depan mata, juga menghindari berbagai hal yang sebetulnya halal namun dilarang karena menjadi penyebab batalnya puasa beserta pahalanya.
Meskipun pada Ramadhan yang baru saja berlalu, seorang muslim hanya ikut-ikutan merayakan kemenangan bagi kaum muslim yang telah berjuang.
Tidak ikut berjuang melawan hawa nafsu, menjalankan ibadah Ramadhan.
Namun akan lebih baik daripada sudah tidak ikut berjuang malah menganggap Ramadhan tidak pernah ada.
Sebagai bulan latihan Ramadhan telah menitipkan tiga pesannya yang seharusnya tetap terus dijaga pada bulan-bulan selainnya. Berjihad dalam membangun keshalihan spiritual dan sosial.
Puasa Ramadhan telah mengubah muslim kembali kepada fitrahnya mencapai ketaqwaan.
Idul Fitri adalah kelanjutan dari Ramadhan yang menuntut keserasian hubungan antara hamba dan Khalik, sesama makhluk dan alam semesta.
Karenanya meskipun telah masuk pada bulan Syawal dan telah merayakan hari kemenangan, hendaknya manusia tidak pernah merasa bosan untuk berdoa dan memohon perlindungan kepada Allah agar senantiasa mendapatkan taufik dan hidayah-Nya.
Sebab, tanpa rahmat dan kehendak-Nya, manusia tidak akan mendapat curahan keberkahan dan kebahagiaan.
Semoga Allah berkenan menyampaikan kita kepada Ramadhan berikutnya, sehingga bisa beribadah lebih baik dan memanfaatkan Ramadhan secara lebih maksimal sebagai bulan Latihan sehingga layak merayakan kemenangan. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/ushuludin.jpg)