Opini

Merayakan Kemenangan

KETIKA menjalankan ibadah Ramadhan terjadi perubahan dalam ritme aktivitas kaum muslimin.

Editor: Yandi Triansyah
Dokumen Pribadi
Dr. Hj. Uswatun Hasanah, M.Ag 

Oleh: Dr. Hj. Uswatun Hasanah, M.Ag
Sekretaris Program Doktor dan Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Raden Fatah Palembang

KETIKA menjalankan ibadah Ramadhan terjadi perubahan dalam ritme aktivitas kaum muslimin.

Berbagai aktivitas dibatasi, jam kerja pun dikurangi adalah kebijakan yang dimaksudkan dipergunakan untuk lebih memaksimalkan ibadah Ramadhan.

Sayangnya tidak sedikit dari masyarakat muslim malah memanfaatkan untuk melegalisasi kemalasan.

Saat dikomfirmasi tentang apa yang menjadi penyebab menurunnya aktivitas, kebanyakan dari mereka berkata bahwa lesu, kurang bersemangat dalam menjalankan aktivitas di bulan Ramadhan, sebagai akibat kurang latihan.

Selama sebelas bulan lamanya tidak membatasi diri dengan jam makan ataupun jam beristirahat dan beribadah.

Dalam pemikiran mereka secara umum bahwa Ramadhan adalah bulan ibadah yang harus dipersiapkan dan dilatih pada sebelas bulan lainnya.

Padahal pendapat ini kurang tepat apabila merujuk kepada ayat al-Qur’an dan hadis Rasulullah SAW.

Karena beraneka ragam ibadah Ramadhan, hakikatnya tidak hanya dilakukan di bulan tersebut tetapi justru untuk menjadi cermin dalam aktivitas pada sebelas bulan berikutnya.

Firman Allah SWT pada surah al-Baqarah ayat 183 menjelaskan bahwa puasa Ramadhan merupakan wahana untuk menggembleng pribadi seorang beriman agar bisa mencapai derajat taqwa.

Rasullullah SWT sendiri sangat rajin berpuasa sunnah pada sebelas bulan di luar Ramadhan.

Rata-rata setiap satu bulan, Rasul berpuasa selama sebelas hari.

Delapan hari dilakukan pada setiap hari Senin dan Kamis (H.R. Muslim, 1162) dan tiga hari berikutnya dilakukan pada setiap pertengahan bulan (H.R. al-Bukhari, 1178).

Dalam kitab Tafsir Ibn Katsir, penjelasan ayat 36 surah al-Taubah dikatakan bahwa Rasulullah memperbanyak ibadah lebih dari bulan biasanya termasuk melaksanakan ibadah puasa yaitu pada bulan Rajab, Dzulqaidah, Dzulhijjah dan Muharram (H.R. al-Bukhari, 2840).

Berdasarkan ayat dan hadis tersebut dapat ditegaskan bahwa Ramadhan adalah bulan latihan untuk diaplikasikan pada sebelas bulan lainnya bukan sebaliknya yaitu hanya fokus pada Ramadhan dan lalai di sebelas bulan selainnya.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved