Opini
Varian Ibadah Puasa di Kalangan Umat Islam
PUASA setiap tahun datang menghampiri kita, dan secara rutinitas puasa telah menjadi ritual kolosal yang jika tidak
Yang jelas, hikmah yang terkandung dalam ibadah puasa itu sendiri secara keseluruhan akan mendorong para shaim untuk selalu memiliki dan memunculkan sikap kesadaran diri, dan atau lompatan cara pandang (mindset) dalam kaitannya menuju ke arah kualitas hidup yang lebih bermakna.
Kualitas hidup yang lebih bermakna itu, merupakan buah dari pengabdian manusia kepada Rabnya. Karena dalam FirmanNya Allahmenyatakan: Tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepadaKu”.
Yang menjadi pertanyaan kemudian, sejauhmanakah kualitas ibadah yang kita lakukan selama ini. Adakah korelasi positif antara puasa yang kita jalankan secara berulang kali dan peningkatan kualitas ibadah secara umum.
Ukuran kualitas ibadah tentu saja sangat dipengaruhi oleh mentalitas dan motivasi seseorang dalam menjalankan ibadah tersebut. Dalam tulisan ini paling tidak ada empat varian (type) ibadah yang sering dilakukan oleh kita.
Pertama, tipe ibadah dengan mentalitas seorang “budak”. Sesuai dengan karakteristik dan mentalitasnya, dikalangan budak selalu muncul rasa takut (khauf) terhadap majikannya.
Ia melakukan pekerjaannya selalu dibayangi oleh rasa takut terhadap majikannya, bukan didasarkan rasa cinta terhadap pekerjaan yang didapatnya. Seandainya kita beribadah karena takut kepada murka Tuhan (sebuah balasan dalam bentuk neraka), berarti ibadah kita masih sebatas dan atau berada pada level mentalitas budak.
Dalam konteks ini, kita seolah-olah mengasosiasikan dan memposisikan Allah sebagai Tuhan yang “galak” tidak ubahnya seperti monster yang sangat menakutkan.
Padahal Allah adalah Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tuhan yang senantiasa membuka pintu taubat, jika hambanya melakukan kesalahan.
Kedua, tipe ibadah dengan mentalitas “kuli”. Mentalitas kuli adalah ingin mendapatkan bayaran secepatnya. Ia akan bekerja jika majikannya mau membayar upahnya tepat waktunya, semisal setiap bulan.
Ia akan menunjukkan sikap santun dan loyal kepada majikannya atau Bosnya jika setiap kali bekerja langsung mendapatkan imbalan atau upah (ujrah).
Tidak terbayang sama sekali dalam benaknya untuk memikirkan “rapelan” dari pekerjaannya. Begitu majikannya terlambar membayar gaji yang telah disepakati, bisa jadi si kuli yang awalnya rajin dan sangat loyal dengan cepat berubah menjadi pemarah, emosional, dan bahkan mengajukan permohonan berhenti.
Mentalitas beribadah seperti masih terlihat dalam praktek ibadah kita, di mana kita ingin langsung mendapatkan imbalan atau balasan dari Allah di dunia ini. Ia hampir tidak pernah berpikir bahwa ke depan ada “rapelan” atau pahala di akhirat.
Ketika kita rajin ibadah, Misalnya shalat Dhuha, tahajjud, namun kondisi ekonominya tidak membaik, maka tidak menutup kemungkinan, ia akan memaki-maki Allah, dan berhenti beribadah. Inilah bahayanya, jika kita beribadah masih berada pada level kuli yang dalam bahasa Al Ghazali disebut dengan nama ibadatul ummal (ibadahnya para kuli atau pekerja). Ketiga, tipe ibadah dengan mentalitas pedagang, yang selalu berpikir untung ruginya. Ketika kita melakukan “sesuatu” ibadah tertentu selalu mengharap keuntungan dunia dan surga di akhirat kelak.
Memang, kita tidak dilarang melakukan ibadah karena motivasi ini, karena dalam Al Qur’an dan Al hadist sendiri terdapat iming-iming seperti ini.
Namun, dalam kacamata kalangan sufi, ibadah dengan mentalitas pedagang akan mereduksi kulitas keikhlasan. Ibadah infaq dan sodaqoh misalnya, yang sejatinya dilakukan dalam rangka wujud syukur kepada Allah, atas limpahan rezeki yang telah diberikan oleh Allah - tapi kita berinfaq dan bersadaqoh karena akan mengejar pahala dan atau keuntungan yang berlipat ganda, bisa saja ini dinamakan “dagang”.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/A-Rifai-Abun-1.jpg)