Opini

Varian Ibadah Puasa di Kalangan Umat Islam

PUASA setiap tahun datang menghampiri kita, dan secara rutinitas puasa telah menjadi ritual kolosal yang jika tidak

Tayang:
Editor: Yandi Triansyah
Dokumen Pribadi
A Rifai Abun Dosen Pasca UIN Raden Fatah Palembang 

Oleh : A Rifai Abun
Dosen Pasca UIN Raden Fatah Palembang

PUASA setiap tahun datang menghampiri kita, dan secara rutinitas puasa telah menjadi ritual kolosal yang jika tidak dipahami dengan benar akan menjadi ritual tanpa implikasi transformasi transendental individual dan sosial yang memadai.

Puasa, seperti kita tahu, memiliki arti kebahasaan menahan.

Makna bahasa ini bersifat umum. Pertama, menahan dari yang membatalkan puasa seperti makan, minum, hubungan seksual dan lain-lain.

Yang kedua, menahan dari akhlak dan perilaku yang tidak baik. Makna pertama bersifat eksoteris (makna luar), sedangkan yang kedua bersifat esoteris (makna dalam). Puasa dalam arti eksoteris adalah puasanya manusia kebanyakan, yang bagi al-Ghazali, disebut puasa derajat orang awam.

Dalam dunia sufi, puasa ternyata bukan hanya dibatasi pada aktivitas lahiriah seperti makna eksoteris seperti di atas.

Melainkan juga aktivitas batiniah, yaitu upaya menahan diri dari keinginan nafsu yang negatif (makna esoteris). Karena itu, orang yang bisa menahan amarah, misalnya, disebut berpuasa.

Makna terakhir, tampaknya, merupakan pengertian puasa yang secara substantif akan memberi implikasi moral spiritual dan sosial.

Dalam kontek ini, Nabi Muhammad SAW mewanti-wanti bahwa: “Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan palsu atau perkataan kotor dan selalu memperbuatnya, maka Allah tidak akan mempedulikan (puasanya) dimana ia telah susah payah meninggalkan makan dan minum” (HR. Muslim).

Dalam bahasa modern, puasa merupakan salah satu ekspresi dari orang yang bukan hanya cerdas secara spiritual, tapi juga cerdas secara emosional.

Ini karena puasa akan membentuk kepribadian pelakunya dan membingkainya dalam perilaku positif, seperti sabar, empati terhadap sesama, memiliki social skill, dan sebagainya. Usai melaksanakan puasa, diharapkan umat Islam mampu menggapai kemenangan personal-spiritual; sebuah kemenangan atas dirinya sendiri. Kemenangan atas hawa nafsu; kemenangan atas usaha untuk mencapai ketakwaan yang lebih; dan keimanan yang lebih dan kualitas ibadah yang lebih.

Melalui pendadaran ibadah puasa, manusia diharapkan mampu memerdekakan jiwanya dari kotoran dan belenggu keduniawian. Atau memakai idiom lain, bahwa puasa merupakan proses “peragian spiritual”, proses kristalisasi, dan proses essensialisasi.

Dengan puasa Ramadhan, umat Islam diharapkan bisa meraih kesempurnan diri yang dikenal dengan istilah takwa.

Mengapa dengan puasa seseorang bisa bertransformasi menuju kesempurnaan diri? Jawabannya ada pada makna dan hikmah yang terkandung dalam ibadah puasa itu sendiri. Di antara makna dan hikmah puasa antara lain, puasa sebagai wahana pendidikan mental.

Dengan puasa seseorang dididik untuk bersabar dan melatih kedisiplinan. Inilah salah satu hikmah mendasar dari ibadah puasa, tentu saja masih banyak hikmah yang bisa digali dari ibadah puasa itu sendiri.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved