Opini
Mendidik Perilaku Agama Melalui Budaya
Di Indonesia keragaman budaya dan artikulasi kultural sangat kaya, sehingga membentuk mozaik menifestasi budaya yang amat plural.
Dalam perspektif peradaban, simbol-simbol budaya merupakan kristalisasi dari nilai-nilai filosofi tinggi yang dianut masyarakat. Nilai-nilai filosofi dari sebuah simbol budaya dapat dimaknai oleh individu sesuai dengan konteks wawasan dan setting sosial budaya yang bersangkutan.
Satu peristiwa budaya sesungguhnya dapat dimaknai oleh multi pemahaman secara subjektif.
Tradisi atau kebiasaan memberi makan orang banyak yang menjadi ajaran baik dalam agama bisa diformalisasi menjadi tradisi budaya seperti acara kenduri atau kenduren.
Ajaran untuk hidup sehat, bersih, dan harum bisa disimbolisasi dengan tradisi membakar dupa, kemenyan, dan lain-lain sebagai sarana untuk menghadirkan aroma terapi yang menyegarkan dan rileks.
Simbolisme budaya seperti itu justru menjadi mengganggu oleh sebagian penganut formalisme agama.
Membiasakan membaca sholawat melalui tradisi shalawatan, membaca al-Qur’an dengan tradisi sema’an dan yasinan, kebiasaan membaca tahlil dan menyebut kalimat tauhid melalui tradisi tahlilan juga harus dimakna sebagai upaya mendidik nilai-nilai agama melalui simbol budaya dan tradisi tertentu yang dilakukan secara terus menerus.
Inilah yang dimaksud dengan proses membumikan nilai-nilai agama melalui pendekatan budaya.
Tidak ada yang salah dari pelestarian budaya jika muatan, substansi, pemaknaan dari artikulasi kultural tetap berada pada prinsip utama nilai-nilai keislaman yang murni dan tidak keluar dari core keyakinan religius.
Isu mengenai Islam substantif dan Islam formalisme agaknya cukup tepat untuk melihat perbedaan dalam menerima aktualisasi budaya.
Berkembangnya tradisi keagamaan di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari konteks historis penyebaran agama Islam di Indonesia.
Strategi dakwah awal yang dilakukan para ulama di tengah-tengah supremasi tradisi dari keyakinan agama lama menyebabkan pilihan-pilihan pendekatan (approaches) dakwah yang lebih inklusif dan terbuka.
Sehingga pola-pola dan strategi dakwah yang lebih mengedepankan sisi hikmah wal mawizhah al-hasanah justru menimbulkan simpati, ketimbang menggunakan strategi dakwah yang bersifat frontal, ekslusif dan tertutup.
Sikap beragama yang bersifat inklusivisme-relativisme internal ini ternyata sangat efektif bagi percepatan penyebaran agama Islam di seluruh nusantara sampai saat ini.
Sosok ulama penyebar dan penyiar agama Islam masa lampau dengan karakteristik sebagai ulama sufistik sangat mendukung efektivitas dakwah di kalangan masyarakat Indonesia yang sejak awal menganut tradisi keyakinan metafisik.
Konsep ketuhanan dalam falsafah Jawa yang berifat adi kodrati dalam konsep Hamemayu Hayuning Bawana dimana Tuhan ditempatkan pada posisi yang sangat tinggi dianggap agak berkesesuaian dengan konsep Tuhan dalam keyakinan Islam sebagai Rabb al-Alamin (Tuhan semesta alam).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/dosen-UIN-Abdurrahmansyah.jpg)