Breaking News:

Buya Menjawab

Apa Hukum Shalat Berjarak?

Apakah social distancing boleh diberlakukan dalam praktek shalat berjama'ah di masjid/mushala? Bagaimana hukumnya?

Editor: Bejoroy
SRIPOKU.COM/AHMAD FAROZI
Ilustrasi - Masjid Agung Darussalam Musirawas yang terletak di ibukota kabupaten di Muara Beliti resmi dibuka untuk pelaksanaan shalat berjemaah pada Jumat (5/6/2020). 

SRIPOKU.COM -- Assalamu’alaikum.Wr.Wb.
SESUAI dengan himbauan pemerintah untuk melakukan social distancing dalam mengatasi serta upaya pencegahan Covid-19 dengan cara menjaga jarak aman minimal 1 meter.

Apakah hal tersebut juga boleh diberlakukan dalam praktek shalat berjama'ah di masjid/mushala? Bagaimana hukumnya terkait hukum shalat berjarak dalam shalat berjama'ah? Apakah tetap sah shalatnya?

Terimakasih. 08218666xxxx

Baca juga: Wahana Permainan OPI Mall Palembang Diserbu Pengunjung, Bagaimana dengan Social Distancing

Baca juga: Kampanyekan Social Distancing, KONI Sumsel Launching Film #Dirumah Bae, Bakal Tayang di Bioskop

Jawaban
Wa’alaikumussalam.Wr.Wb.
Mengenai hukum merapatkan shaf dalam shalat berjama'ah, memang disunahkan oleh Nabi Saw dalam haditsnya.

"Dari sahabat Anas ra, Rasulullah bersabda, ‘Susunlah shaf kalian’) sehingga tidak ada celah dan longgar (dekatkanlah antara keduanya) antara dua shaf kurang lebih berjarak tiga hasta."

Jangan lupa subscribe, like dan share channel Youtube Sripokutv di bawah ini:

Mengenai hukum membuat jarak atau merenggangkan shaf shalat juga telah banyak dibahas di kalangan para ulama Syafi'eyyah, diantaranya:
• Imam Nawawi dalam Kitab Minhajut Thalibin
“Posisi berdiri makmum yang terpisah makruh, tetapi hendaklah ia masuk ke dalam shaf jika menemukan ruang kosong yang memadai.”
Hukum merenggangkan shaf atau membiarkan shaf berjarak hukum dasarnya adalah makruh.

• Imam Syihabuddin al-Qalyubi dalam kitab Hasyiah Qalyubiah.
Imam Syihabuddin Al-Qalyubi menjelaskan kata “fardan” atau terpisah sendiri di mana kanan dan kiri makmum terdapat jarak yang kosong sekira dapat diisi oleh satu orang atau lebih.
“Maksud kata (terpisah sendiri) adalah di mana setiap sisi kanan dan kirinya terdapat celah yang memungkinkan satu orang atau lebih berdiri,” (Syihabuddin Al-Qalyubi, Hasyiyah Qaliyubi wa Umairah, [Kairo, Al-Masyhad Al-Husaini: tanpa tahun], juz I, halaman 239).

Hukum dasar merenggangkan posisi shaf memang dimakruhkan jika tidak ada uzur. Namun, sekiranya ada uzur, seperti menjaga jarak aman dari penularan Covid-19 , maka hukumnya tidak lagi menjadi makruh, sebagaimana pandangan Imam Ibnu Hajar al-Haitami berikut ini:

Halaman
12
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved